Dunia Tanpa Islam

DUNIA TANPA ISLAM

Bagaimana jika Islam tidak pernah ada? Untuk beberapa orang hal ini akan menjadi harapan yang menyenangkan. Tidak ada benturan peradaban, tidak ada perang salib, tidak ada teroris. Apakah keKristenan akan mengambil alih dunia? Apakah Timur Tengah akan menjadi tempat yang damai  di bawah suar demokrasi? Apakah serangan pada 11 September akan terjadi? Faktanya, buang Islam dari catatan sejarah dan dunia akan tetap seperti saat ini.

Bayangkan, jika anda ingin, dunia tanpa Islam- perlu diakui bahwa hampir semua urusan-urusan yang tidak dapat dimengerti menjadi pusat perhatian di halaman utama media kita. Islam sepertinya berada di belakang semua area dari ketidakteraturan dunia: serangan bom bunuh diri, bom mobil, pekerjaan militer, pemberontakan, kekacauan, fatwa, jihad, perang gerilya, video ancaman, hingga 9/11. Mengapa hal semacam ini yang mendapat tempat? “Islam” sepertinya menawarkan suatu cara yang instan dan tidak rumit mengenai analisis pendekatan, memungkinkan kita merasakan arti di ketegangan dunia sekarang. Tentu saja, untuk beberapa orang aliran neokonservatif,” Fasisme Islam” adalah ejekan kepada Islam dalam bayang-bayang Perang Dunia III.”

Beri saya waktu untuk bersantai beberapa saat saja. Bagaimana jika tidak ada hal semacam Islam?  Bagaimana jika tidak pernah ada Rasulullah Muhammad, tidak ada riwayat penyebaran Islam melewati bagian luas Timur Tengah, Asia dan Afrika?

Perhatikan dengan seksama pada masalah terorisme, perang dan menyebarnya anti Amerika-beberapa adalah isu internasional yang sangat emosional sekarang-adalah hal yang sangat vital untuk dimengerti mengenai akar permasalahan dari krisis-krisis tersebut. Apakah Islam, faktanya, sumber dari masalah, atau  ini cenderung kebohongan dengan  sangat samar  dan faktor-faktor yang lebih dalam? Untuk mempertahankan argumen ini, bayangkan dalam sejarah di Timur Tengah dimana Islam tidak pernah muncul. Akankah kita menghabiskan waktu menghadapi tantangan  seperti saat ini? Apakah Timur Tengah akan damai? Seberapa jauh hubungan akan terjalin antara Timur -Barat? Tanpa Islam, tentu saja tatanan internasional akan menjadi gambar yang berbeda dengan kondisi sekarang. Benarkah itu?

JIKA BUKAN ISLAM, LALU APA?

Sejak waktu terdahulu di kawasan Timur-Tengah, Islam telah membentuk norma budaya dan bahkan kecenderungan politik bagi pengikutnya. Lalu bagaimana kita memisahkan Islam dengan Timur-Tengah? Seperti di bawah ini, tidak terlalu sulit untuk membayangkannya.

Mulai dari etnis. Tanpa Islam, wajah kawasan itu tetap saja kompleks dan penuh konflik. Etnis yang dominan di Timur Tengah semacam Arab, Persia, Turki, Kurdi, Yahudi bahkan Barbar dan Pashtun, akan tetap mendominasi secara politik. Persia, jauh sebelum Islam, Kekaisarab Persia raya telah mendorong pintu -pintu di Athena dan telah menjadi rival bagi siapa saja yang hidup di Anatolia. Seolah berlomba, orang-orang Semit juga bertarung dengan orang Persia melewati lengkung yang subur hingga ke Iraq. Setelah itu masih terdapat kekuatan yang hebat dari suku-suku Arab dan pedagang yang meluaskan serta bermigrasi menuju daerah Semit yang lain di Timur-Tengah sebelum Islam muncul. Mongol masih bisa melewati dan menghancurkan peradaban Asia Tengah dan kawasan Timur Tengah lain pada abad ke-13. Perjuangan -perjuangan ini-dengan kekuatan, teritori, pengaruh dan perdagangan- sudah ada sebelum Islam datang.

Terlalu sembarangan untuk mengeluarkan agama dari keseluruhan rumus ini. Jika, faktanya, Islam tidak pernah didirikan, kebanyakan wilayah Timur-Tengah akan didominasi oleh keKristenan dengan beragam sekte seperti saat fajar Islam muncul. Kecuali  Zoroaster dan sejumlah kecil Yahudi, tidak ada agama mayoritas lain yang berkembang.

Tetapi apakah harmoni akan tercipta dengan bangsa barat jika seluruh Timur -Tengah berada di bawah keKristenan? Itu pencapaian yang terlalu jauh. Kita akan mengasumsikan bahwa bangsa barat pada abad Medieval tidak akan mengarahkan hegemoninya ke timur dengan alasan ekonomi dan geopolitik. Bagaimanapun, apa motif tentara salib jika bukan seorang pengembara barat yang secara umum dikendalikan oleh alasan politis, sosial dan kebutuhan ekonomi? Simbol Kristen hanya pelengkap, suatu reli tangisan untuk memberkati dorongan-dorongan sekuler dari Eropa yang kuat. Faktanya, agama asli dari penduduk negeri jajahan Eropa di seluruh dunia tidak pernah diperhitungkan. Orang-orang Eropa boleh berbicara tentang “nilai-nilai Kristen,”  tapi tujuan utama mendirikan kolonialisme adalah mencari sumber daya untuk kemakmuran dan menjadi dasar kemajuan Eropa sekarang.

Tidak, penduduk Kristen di Timur -Tengah sepertinya tidak akan menerima dengan hangat arus deras dari Eropa beserta barang dagangan yang diiringi senjata api barat. Imperialisme biasa tumbuh subur di kawasan yang mempunyai mosaik etnis yang sangat kompleks-aturan dasar dari permainan untuk memecah belah kemudian mengambil alih. Dan orang-orang Eropa masih akan menanamkan pengaruhnya melalui mandat penguasa lokal secara lebih fleksibel tetapi tetap bisa mengakomodasi kepentingannya.

Putar waktu hingga zaman minyak di Timur-Tengah. Akankah kondisi Timur -Tengah, meski dengan Kristen, menerima dengan baik bangsa Eropa yang mendirikan protektorasi di atas tanah mereka? Sulit. Bangsa barat tetap perlu membangun dan menguasai titik strategis, seperti terusan Suez. Bukan Islam yang menjadikan Timur-Tengah kuat dalam menentang kolonialisme, dengan drastis menarik kembali batasan-batasan pada kecenderungan geopolitik Eropa. Bukan pula orang Kristen Timur-Tengah yang akan menerima perusahaan minyak Eropa yang datang bersama wakil kepala wilayah, diplomat, agen intel, bahkan tentara, jauh daripada yang Islam lakukan. Perhatikan sejarah panjang reaksi Amerika Latin atas dominasi Amerika terhadap minyaknya, ekonomi dan politiknya. Bangsa Timur-Tengah tentu saja akan sama dalam membentuk gerakan nasional antikolonial  untuk mengambil alih kembali tanahnya, pasar, kedaulatan dan takdirnya dari cengkeraman barat-seperti perjuangan antikolonial di Hindi India, Konfusius China, Buddha Vietnam dan Kristen serta animisme Afrika.

Tentu saja Perancis akan merentangkan sayap hingga ke Aljazair yang Kristen untuk menangkap kekayaan tanahnya dan mendirikan koloni. Italia juga, tidak akan membiarkan Kristen Ethiopia menghentikan mereka dari menjadikan negara tersebut menjadi koloni. Pendeknya, tidak ada alasan untuk percaya bahwa reaksi Timur-Tengah atas kolonialisme Eropa akan berbeda secara signifikan dari seharusnya dibanding reaksi dengan pengaruh Islam.

 

Tapi mungkin saja Timur-Tengah akan lebih demokratis tanpa Islam? Sejarah kediktatoran di Eropa tidak ditekankan di sini. Spanyol dan Portugal baru mengakhiri pemerintahan diktator baru pada pertengahan tahun 1970. Yunani melepaskan diri dari kediktatoran gereja hanya beberapa dekade yang lalu. Kristen Rusia masih belum keluar dari kayu. Hampir sampai saat ini, Amerika Latin masih dipusingkan dengan keditaktoran, yang biasanya mendapat restu dari AS dan menjadi partner Gereja Katholik. Kebanyakan negara Kristen Afrika tidak berada pada kondisi lebih baik. Mengapa seorang Kristen Timur-Tengah terlihat berbeda?

Masih terdapat Palestina. Ini tentu saja, orang-orang Kristen yang tidak tahu malu telah menganiaya Yahudi selama lebih dari seribu tahun, memuncak saat Holocaust. Contoh-contoh ini adalah bagian dari anti-Semit yang berakar dari Kristen Barat dan budayanya. Yahudi sendiri masih memburu tanah kelahiran di luar Eropa, gerakan zionis masih berdiri dan berpusat di Palestina. Kemudian Yahudi baru juga masih memaksa keluar 750.000 orang Arab asli Palestina dari tanah kelahirannya bahkan jika mereka adalah Kristen-dan tentu saja sebagian dari mereka adalah Kristen. Apakah orang-orang Arab-Palestina ini tidak akan bertarung demi melindungi dan mendaptakan kembali tanahnya?  Masalah Israel-Palestina tersisa dalam hati sebuah nasional, etnis, dan konflik teritorial yang hanya saja dibungkus slogan-slogan keagamaan. Jangan lupakan juga bahwa orang Kristen Arab memainkan peranan penting dalam gerakan nasionalisme di seluruh Timur-Tengah, tentu saja, ideologi pendiri dari pan-Arab pertama, partai Ba’th, Michel Aflaq, adalah didikan Sorbonne,seorang Kristen Syiria.

Tentu saja orang Kristen di Timur-Tengah paling tidak akan cenderung mempunyai ciri keagamaan seperti barat. Tidak bisakah kita menghindari semua kekacauan keagamaan itu? Faktanya, dunia Kristen sendiri ternodai oleh bid’ah-bid’ah di awal abad kejayaan Kristen, bid’ah-bid’ah yang menjadi kendaraan politik bagi oposisi, kekuatan Romawi atau Byzantium. Jauh sebelum persatuan di bawah agama, perang keagamaan di barat diselimuti dengan berbagai variasi isu etnis yang mendalam, strategi, politik, ekonomi, dan perjuangan kebudayaan untuk menjadi dominan.

Bahkan tiap sumber yang menyebutkan “Kristen Timur-Tengah” menyembunyikan suatu permusuhan yang jelek. Tanpa Islam, orang-orang di Timur-Tengah akan tetap seperti saat awal kemunculan Islam- kebanyakan adalah penganut Kristen Orthodoks Timur. Tetapi sangat mudah untuk melupakan satu catatan sejarah yang paling lama, ganas, dan kontroversi agama yang pahit antara Gereja Katholik di Roma dengan Kristen Orthodox Timur di Konstantinopel- suatu dendam yang masih bertahan hingga sekarang. Kristen Orthodox Timur tidak akan melupakan atau memaafkan penjajahan kepada orang Kristen Konstantinopel oleh tentara salib barat pada tahun 1204. 800 tahun kemudian, tepatnya tahun 1999, Paus John Paul II mencari cara untuk mengambil langkah kecil menyembuhkan retakan dalam kunjungan pertama seorang Paus Katholik ke dunia Orthodox sejak ribuan tahun. Ini adalah permulaan, tetapi friksi antara timur dan barat di dalam Kristen Timur-Tengah masih bersisa hingga sekarang. Sebagai contoh adalah Yunani: Kaum Orthodox adalah otak dibalik kuatnya nasionalisme dan perlawanan anti barat, dan perasaan anti barat  dalam politik Yunanni beberapa dekade yang lalu  isu tentang barat menjadi sama mencurigakan dan ganas seperti isu barat yang terhembus dari pemimpin Islam yang kita dengar dewasa ini.

Kebudayaan Gereja Orthodoks sangat berbeda dengan budaya barat pasca zaman pencerahan, yang ditegaskan dengan sekularisme, kapitalisme, dan kecenderungan  untuk bersikap individual. Masih tersisa ketakutan -ketakutan tentang barat sama halnya dengan kegelisahan-kegelisahan Muslim sekarang: ketakutan terhadap dakwah misionaris barat, suatu kecenderungan untuk membuat agama sebagai kunci untuk melindungi dan memelihara komunitas dan kebudayaan mereka, dan kecurigaan terhadap karakter  barat yang korupsi dan imperialis.

Tentu saja, di dalam Kristen Orthodoks Timur-Tengah, Moskow akan menikmati pengaruhnya yang spesial, bahkan hingga sekarang, sebagai pusat  besar terakhir dari Orthodoks Timur. Dunia Orthodoks masih akan tetap menjadi suatu kunci geopolitik dalam rivalitas perang dingin antara timur-barat. Samuel Huntington, bagaimanapun, memasukkan Kristen Orthodoks di antara beberapa kebudayaan yang terbelit benturan budaya dengat dunia barat.

Sekarang, penyerangan atas Iraq tidak akan menjadi lebih terbuka sekalipun orang-orang Iraq adalah penganut Kristen. Amerika Serikat tidak menjatuhkan Saddam Husein, seorang nasionalis sejati dan pemimpin yang sekuler, hanya karena dia Islam. Orang-orang Arab masih akan mendukung orang-orang Arab Iraq sebagai bentuk simpati mereka. Tidak dimanapun di muka bumi orang-orang akan rela untuk dijajah bangsa asing dan membunuh orang-orangnya di tangan tentara asing. Tentu saja, ada kelompok-kelompok yang diancam oleh ideologi-ideologi luar untuk membenarkan dan mendukung perjuangan perlawanan. Agama adalah salah satu dari ideologi itu.

Inilah gambaran “dunia tanpa Islam”. Inilah Timur-Tengah yang didominasi oleh Kristen Orthodoks Timur- suatu gereja dalam sejarah dan secara psikologis curiga akan, bahkan berseteru kepada bangsa barat. Masih dikendalikan oleh etnis mayoritas dan bahkan perbedaan sekte yang mengandung suatu kesadaran sejarah yang ganas dan dendam pada bangsa barat. Telah berkali-kali dijajah oleh pasukan bangsa barat; sumber dayanya dikendalikan; batas-batasnya ditarik kembali oleh barat sebagai penyesuaian atas berbagai kepentingannya; dan rezim didirikan dengan menuruti aturan barat. Palestina masih akan membara. Iran masih tetap akan menjadi nasionalis sejati. Kita masih akan melihat orang-orang Palestina yang melawan Yahudi, orang-orang Chechnya melawan Rusia, dan Iran bertahan menghadapi Inggris dan Amerika, Kashmir melawan India, Tamil bertahan atas Sinhal di Srilanka dan Uighur serta orang-orang Tibet melawan China. Timur-Tengah masih akan menjadi model sejarah yang hebat- Kekaisaran Byzantium raya berdiri lebih dari 2000 tahun- yang mana teridentifikasi dalam simbol budaya dan keagamaan. Masih akan, dengan banyak rasa hormat, mengabadikan sebuah pemisah antara timur dan barat.

Semua ini bukanlah gambaran yang damai dan tenteram.

DI BAWAH PANJI-PANJI SANG NABI

Tentu saja akan menjadi argumen yang sangat absurd  untuk menggambarkan kehadiran Islam tidak mempunyai dampak tersendiri di Timur-Tengah. Sebagai suatu kepercayaan global, Islam telah melahirkan budaya yang berbagi kesamaan dalam sebagian besar prinsip filosofi, seni, dan sosial; suatu gambaran tentang nilai kehidupan; rasa keadilan, hukum dan pemerintahan yang baik- semuanya mengakar dalam budaya yang tinggi. Sebagai budaya dan kekuatan moral, Islam telah menjadi jembatan dalam perbedaan etnis di antara pemeluk-pemeluknya, pendorong bagi mereka untuk menjadi bagian dalam proyek peradaban Muslim yang luas. Itu saja telah menjadi bobot tersendiri. Islam tentu saja juga berdampak pada geografi politis: Jika tidak ada Islam, negara-negara Islam di Asia Selatan dan Asia Tenggara – terutama Pakistan, Bangladesh, Malaysia dan Indonesia- akan mengakar pada budaya Hindu.

 

Peradaban Islam menyediakan suatu ide bersama di semua orang Muslim yang muncul sebagai dasar perlawanan atas kesewenang-wenangan bangsa barat. Bahkan meskipun hal tersebut gagal untuk membendung arus imperialisme barat, Islam telah menciptakan ingatan budaya tentang nasib bersama yang tidak akan hilang. Orang-orang Eropa dapat membelah dan menyerang banyak bangsa Afrika, Asia dan Amerika Latin yang kemudian jatuh menjadi kekuatan barat. Suatu kesatuan, perlawanan transnasional di antara orang-orang itu sangat sulit dicapai jika tidak ada etnis atau simbol budaya yang digunakan bersama.

Dalam dunia tanpa Islam, imperialisme barat akan sangat mudah dalam memecah belah, menjajah dan mendominasi Timur-Tengah serta Asia. Tidak akan ada persamaan nasib tentang kekalahan dan kenistaan yang melewati area yang luas. Inilah alasan utama mengapa Amerika Serikat sekarang menancapkan giginya di dunia Islam. Dewasa ini, komunikasi inter-global dan penggunaan pencitraan satelit telah menciptakan kesadaran yang kuat di antara sesama Muslim dan perasaan siaga imperialis barat yang melewati tapal batas melawan kebudayaan Islam. Kewaspadaan ini bukanlah tentang modernitas; ini adalah tentang memutus dominasi barat terhadap tempat strategis, sumber daya dan bahkan budaya dunia Islam-pengendalian untuk menciptakan suatu sikap “pro-Amerika” di Timur-Tengah. Sayangnya, Amerika Serikat terlalu naif dalam menyatakan bahwa Islam adalah semua yang berada di antaranya dan sebagai hadiahnya.

Tapi apa itu terorisme- isu paling mendesak yang oleh barat segera diasosiasikan dengan Islam? Dengan kata lain, apakah peristiwa pada 11 September akan tetap terjadi tanpa Islam? Jika dendam orang-orangTimur-Tengah telah bertahun-tahun mengakar terhadap kebijakan politik Amerika Serikat dan aksinya, telah dibungkus sedemikian rupa dengan panji-panji yang berbeda, apakah hal ini akan berbeda secara luas? Sekali lagi, sangat penting untuk mengingat bagaimana dengan mudahnya agama dapat digunakan bahkan untuk dendam lama yang memicu kemarahan. 11 September 2001, bukanlah awal dari sejarah. Kepada pembajak dari Al Qaeda, Islam berfungsi sebagai kaca pembesar saat matahari  bersinar, mengumpulkan dendam bersama dan memfokuskannya menjadi sinar yang kuat, momen kejelasan sebagai reaksi atas invasi bangsa asing.

Dalam fokus barat terhadap terorisme atas nama Islam, ingatan-ingatan menjadi pendek. Tentara gerilya Yahudi disebut teroris yang melawan Inggris di Palestina. Tamil hindu di Srilanka,”Macan” menemukan seni rompi bunuh diri dan lebih dari sepuluh tahun menunjukkan pada dunia penggunaan bom bunuh diri-termasuk saat pembunuhan perdana menteri India, Rajiv Gandhi. Teroris Yunani melaksanakan operasi pembunuhan terhadap kedutaan AS di Athena. Organisasi teroris Sikh membunuh Indira Gandhi, menyebarkan malapetaka di India, mendirikan kantor cabang internasional di Kanada, dan menjatuhkan sebuah pesawat maskapai Air India di atas Atlantik. Teroris Macedonia sangat ditakuti di sepanjang semenanjung Balkan pada perang dunia 1. Lusinan pembunuhan berskala besar terjadi di akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 yang dilakukan oleh “anarki-anarki” Eropa dan Amerika, menghasilkan ketakutan kolektif. Pasukan republik Irlandia memperkerjakan secara efektif dan brutal teroris untuk melawan Inggris selama satu dekade, seperti juga gerilyawan komunis dan teroris di Vietnam melawan Amerika, komunis Malaysia melawan Inggris di tahun 1950-an, teroris Mau-Mau melawan pendudukan Inggris di Kenya-daftar terus berlanjut. Tidak perlu mengambil orang Islam untuk melakukan terorisme.

 

Bahkan sejarah terbaru mengenai kegiatan terorisme tidak terlihat berbeda. Berdasar data Europol, 498 serangan teroris tercatat dilakukan di Uni Eropa di tahun 2006. 424 di antaranya dilakukan oleh grup separatis, 55 dilakukan oleh ekstremis sayap kiri dan 18 sisanya dilakukan oleh teroris lain. Hanya 1 yang dilakukan atas nama Islam. Untuk lebih memastikan, terdapat beberapa serangan gagal di dalam komunitas Musilm yang diawasi secara ketat. Tetapi contoh ini membuka tabir luasnya wilayah ideologi yang berpotensi melakukan teror di dunia.

Apakah sulit membayangkan, Arab-baik Kristen atau Muslim- marah terhadap Israel atau invasi konstan imperialisme, meruntuhkan dan mengintervensi, melakukan aksi yang sama seperti terorisme dan perang gerilya? Pertanyaannya boleh diganti, mengapa tidak terjadi segera? Sebagai kelompok radikal yang menyebarkan dendam dalam zaman globalisasi, mengapa kita tidak harus menyangka mereka untuk melakukan perlawanan hingga ke jantung barat?

Jika Islam membenci modernitas, mengapa perlu menunggu sampai 9/11 untuk melaksanakan serangannya? Dan mengapa para pemikir Islam pada awal abad ke-20 berbicara tentang perlunya modernitas dengan tetap melindungi budaya Islam? Sebab Osama bin Laden di awal -awal kepemimpinannya bukanlah modernitas sama sekali- dia membicarakan Palestina, jejak Amerika di tanah Arab Saudi, hukum Saudi di bawah kontrol AS dan “tentara salib” modern. Tamparan ini tidak memuncak sampai akhir 2001 bahwa kita menyaksikan puncak kemarahan mayoritas Islam kepada tanah AS sendiri, sebagai reaksi akumulasi peristiwa yang baru saja terjadi dan kebijakan -kebijakan AS. Jika bukan 9/11, peristiwa yang mirip tentu akan datang juga.

Dan bahkan Islam sebagai kendaraan perlawanan tidak pernah hadir, Marxisme yang akan melakukannya. Inilah ideologi yang telah tak terhitung menyebabkan teroris, gerilya dan gerakan pembebasan nasional. Telah diinformasikan tentang Basque ETA, FARC di Kolombia, Shining Path di Peru, Faksi Tentara Merah di Eropa, sedikit nama yang berada di barat. George Habash, pendiri terkenal Front Pembebasan Palestina, adalah seorang Kristen Orthodoks Yunani dan seorang Marxis yang belajar di Universitas Amerika di Beirut. Pada masa kemarahan nasionalis Arab dipanas-panasi oleh Marxis yang kasar, banyak Kristen Palestina memberikan bantuan kepada Habash.

Orang-orang yang melakukan perlawanan terhadap penjajahan asing membutuhkan panji-panji untuk mempropagandakan dan memuliakan sebab atas perlawanan mereka. Kelas perlawanan internasional untuk keadilan menyediakan suatu titik reli yang bagus. Nasionalisme tentu saja lebih baik. Tetapi agama adalah salah satu yang terbaik, menampilkan kekuatan tertinggi dalam mengusut sebab musababnya. Dan agama di mana-mana masih selalu dapat menyediakan dukungan pada etnisitas dan nasionalisme bahkan melewati batas-batasnya- terutama saat musuh memeluk agama yang berbeda. Pada kasus-kasus seperti ini, gencatan-gencatan agama menjadi sumber primer pertentangan dan konfrontasi, tetapi  agaknya menjadi kendaraannya. Masa panji-panji  mungkin telah pergi, tetapi menyisakan dendam.

Kita hidup pada masa terorisme adalah instrumen pilihan yang tersisa bagi  yang lemah. Hal ini telah menghalangi tidak diprioritaskannya tentara AS di Iraq, Afghanistan   dan dimanapun. Dengan demikian bin Laden lain dalam komunitas non-Muslim disebut “penerus Che Guevara.” Ini tidak akan ada artinya kecuali sebagai penampakan dari perlawanan terhadap dominasi AS, yang lemah kembali berjuang- suatu hal yang melewati budaya Islam atau Timur-Tengah.

 

LEBIH DARI SEKEDAR SAMA

Tapi masih tersisa pertanyaan, jika Islam tidak ada, akankah dunia menjadi damai? Pada wajah tensi antara timur dan barat, Islam  telah memberikan satu motif emosi, satu lebih lapisan dari komplikasi untuk mencari solusi. Islam bukanlah penyebab dari masalah-masalah itu. Sepertinya sangat canggih untuk mencari ayat dalam Qur’an yang sepertinya menjelaskan “mengapa mereka membenci kita” . Tetapi secara membabi buta menghilangkan sifat alami dari suatu fenomena. Apakah nyaman untuk mengidentifikasikan Islam sebagai sumber dari “masalah”; ini tentu lebih mudah daripada menjelajah dampak dari jejak langkah global dari tapak superpower dunia.

Dunia tanpa Islam masih akan melihat rivalitas berdarah yang bertahan lama berupa perang dan pendominasian atas wilayah geopolitik. Jika bukan agama, kelompok-kelompok ini akan menemukan panji-panji lain untuk mengekspresikan nasionalisme dan kemerdekaan. Tentu, sejarah tidak akan mengikuti jalan yang sama. Tetapi, pada permukaan dasarnya, konflik antara timur dan barat akan menyisakan semua tentang sejarah hebat dan isu geopolitik tentang kekuatan manusia: etnisitas, nasionalisme, ambisi, kerakusan, sumber-sumber daya, pemimpin lokal, kawasan yang dikendalikan, pendapatan finansial, kekuatan, intervensi, dan kebencian terhadap orang asing, penjajah dan imperialis. Dihadapkan pada isu-isu semacam ini, bagaimana mungkin kekuatan agama tidak menjadi terlibat?

Ingat juga, secara semu dari setiap satu prinsip yang menakutkan di abad ke-20 hampir datang secara eksklusif dari rezim sekular yang ketat. Leopold II dari Belgia di Kongo, Hitler, Mussolini, Lenin dan Stalin, Mao, dan Pol Pot. Hanya orang-orang Eropa yang menyaksikan “perang dunia” mereka dua kali dari sisi dunia yang lain- dua konflik global yang tidak ada kaitan langsung dengan sejarah Islam.

Sampai hari ini mungkin masih berharap suatu “dunia tanpa Islam”  yang mana masalah-masalah ini disangka tidak akan terjadi. Tetapi faktanya, konflik, rivalitas dan krisis-krisis tidak akan terlalu terlihat berbeda daripada apa yang kita tahu dewasa ini.

 Artikel ini adalah terjemahan dari jurnal berbahasa Inggris yang berjudul  World without Islam yang ditulis oleh Graham E. Fuller.

Graham E Fuller adalah mantan wakil ketua National Intelligence Council di CIA yang bertanggungjawab atas peramalan strategi jangka panjang. Dia baru saja dianugerahi gelar Profesor Sejarah oleh Universitas Simon Fraser di Vancouver. Dia adalah penulis banyak buku tentang Timur-Tengah, termasuk Masa Depan Politik Islam (New York: Palgrave Macmillan, 2003).