Recent Updates Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Irwanto Ali 3:25 p05 on May 22, 2020 Permalink | Reply  

    Saatnya Dunia Berubah, Sebuah Utas Mengenai Perjuangan Siti Fadilah Menentang Kapitalisme Global 

    Tulisan ini adalah inti sari dari buku beliau yang berjudul “Saatnya Dunia Berubah”

    1.Inti dari perjuangan Bu Siti adalah menekan WHO supaya lebih terbuka akan penelitian virus dan vaksin


    2. Menurut Bu Siti, pada dasarnya virus juga adalah “kekayaan alam” suatu negara. Maka ketika suatu negara menyerahkan sampel virus ke WHO sudah barang tentu negara ybs berhak mengetahui dimana virus tsb akan diteliti


    3.Negara ditemukannya virus juga berhak mendapat keuntungan jika kelak dari sampel virus tersebut dibuat vaksin. Paling tidak mendapatkan vaksin secara gratis. Bukan malah menjadi negara pembeli vaksin dengan harga mahal


    4.Bu Siti tidak menolak pemakaian vaksin untuk melawan wabah. Yang beliau tolak adalah kapitalisme vaksin yg menjadikan negara2 miskin sebagai perahan


    5. Bu Siti sebagai Menkes saat itu tetap mengupayakan pembuatan vaksin berdasar strain virus yg ditemukan di Indonesia


    6. Dalam kasus flu burung, Bu Siti membantah pernyataan WHO bahwa penularan virus flu burung sudah bisa terjadi antar manusia. Padahal tidak ada data yg mendukung klaim WHO saat itu. Penularan yang terjadi hanyalah dari unggas ke manusia


    7. Dalam buku tidak disebutkan keterkaitan Bill Gates ataupun istrinya dalam komersialisasi vaksin secara global.


    8. Di dalam buku memang disebutkan keterlibatan Yayasan Bill &Melinda Gates Dalam beberapa rapat dgn WHO. Hanya sebatas itu.


    9. Di dalam buku sama sekali tidak disebut vaksin flu burung adalah hasil rekayasa yg bertujuan sebagai senjata biologis. Dengan keterbukaan penelitian virus justru diharapkan bisa mencegah pembuatan senjata biologis dari virus yang sudah muncul


    10. Sama sekali tidak disebut bahwa wabah flu yang muncul adalah bagian dari upaya pengurangan populasi manusia

    Demikian Utas inti sari isi buku Bu Siti Fadilah. Saya sarankan untuk membaca bukunya karena mungkin banyak hal yang tidak tersampaikan dalam rangkuman tulisan saya ini.

     
  • Irwanto Ali 3:25 p11 on November 16, 2018 Permalink | Reply  

    SEKILAS INFO TENTANG APOLOGETIK 

    Pengantar

    Seperti tulisan saya sebelumnya, tulisan ini juga ditujukan untuk membuka ruang diskusi, termasuk diskusi dalam pribadi saya sendiri. Saya mengawalinya dengan pembahasan mengenai apologetik. Apologetik adalah usaha untuk membela iman dengan menggunakan informasi tertentu. Sebenarnya sah-sah saja melakukan apologetik, bahkan dianjurkan untuk melawan ejekan-ejekan yang dilakukan oleh oknum jahat untuk mendeskritkan agama tertentu. Apologetik jauh lebih baik daripada membalas fitnah dengan fitnah juga. Permasalahan baru muncul ketika apologetik dilakukan dengan ceroboh tanpa memeriksa informasi lebih jauh bahan yang digunakan sebagai apologetik.

    Jika anda sering mengikuti kajian-kajian Islam, baik di dunia maya, koran, majalah, seminar, training motivasi ataupun majelis taklim secara langsung, anda pasti pernah mendengar teori relativitas yang dikaitkan dengan Isra Mi’raj, bigbang dengan surat Al-Anbiya ayat ke-30 dan lain sebagainya. Usaha untuk membuat penafsiran Qur’an dengan mengutip teori ilmiah merupakan salah satu apologetik yang kini sedang populer. Ada beberapa tokoh yang terkenal karena membuat karya-karya “pembuktian secara sains ayat dalam Al Qur’an”, saya ambil dua tokoh yang sering dikutip dalam kajian Islam yaitu Michael Bucaille dan Adnan Oktar aka Harun Yahya. Keduanya telah menerbitkan banyak karya terkait apologetik terhadap Islam.

    Foto Adnan Oktar

    Permasalahan

    Permasalahan sendiri muncul justru karena kecerobohan sebagian umat Islam sendiri dalam memainkan propaganda keilmiahan Al Qur’an. Ceroboh karena tergesa-gesa dalam mengutip suatu teori ilmiah dan menjadikannya dasar justifikasi bahwa suatu ayat Qur’an itu benar. Kadang diperparah dengan sifat fanatik buta sampai lupa bahwa teori ilmiah yang dikutipnya bisa jadi salah. Kajian lebih dalam harusnya dilakukan oleh cendekiawan Muslim. Bukan hanya “quote mining” atau kutip sana-sini seperti yang dilakukan oleh Adnan Oktar, tapi juga melakukan penelitian ilmiah yang sesungguhnya. Bukankah aneh jika mengutip teori Einstein untuk pembenaran ayat Al Qur’an padahal Einstein sendiri tidak beragama Islam?

    Sekarang mari kita bahas beberapa apologetik “ilmiah” yang sering muncul dalam kajian.

    1. Peristiwa Isra’ Mi’raj dan Teori Relativitas

    Teori relativitas sering menjadi bahan kutipan untuk “menafsirkan” ayat Al Qur’an yang berkaitan dengan hal ghaib, perbedaan waktu dan perpindahan tempat. Demikian juga untuk menafsirkan peristiwa Isra Mi’raj yang dilakukan oleh Muhammad SAW, apakah Rasul benar-benar melakukan perjalanan secara fisik atau hanya ruh beliau saja yang melakukan perjalanan? Dalam Al Qur’an surat Al-Isra’ ayat ke-1, Allah SWT berfirman:

    “Maha suci Allah yang menjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Majidil Aqsha yang Kami berkahi sekelilingnya agar Kami memperlihatkan kepadanya sebahagian tanda-tanda (kebesaran) Kami.

    Ayat tersebut dan ayat-ayat lain yang terkait tidak menginformasikan dengan detail mengenai bagaimana metode perjalanan yang dilakukan Muhammad sehingga membuka ruang perbedaan penafsiran. Penjelasan lainnya bisa ditemui di Hadis namun juga tidak memberikan info mendetail mengenai metode perjalanan yang dilakukan oleh Muhammad SAW.  Akhirnya, secara garis besar umat Islam terbagi menjadi dua pemahaman, Isra Miraj sebagai fenomena fisik dan satunya lagi adalah sebagai fenomena ghaib.

    Pemahaman Isra Miraj sebagai fenomena fisik inilah yang sering dikait-kaitkan dengan teori relativitas. Teori relativitas seringkali dijadikan “bukti” bahwa Muhammad SAW melakukan perjalanan secara fisik dengan bantuan Buroq yang berkecepatan cahaya. Muhammad digambarkan berubah menjadi energi selama perjalanan menuju lapis-lapis langit, yang tampaknya relevan dengan rumus terkenal dari Einstein, E=m*c^2.

    Ada yang janggal dalam pemahaman ini. Teori ilmiah apapun, termasuk teori relativitas digunakan untuk menjelaskan fenomena. Dari yang kita tangkap dalam kajian-kajian mengenai Isra Miraj, teori ini malah dijadikan bukti penguat, padahal ini terbalik. Fenomena merupakan hal yang harus dijelaskan oleh teori sekaligus fenomena tersebut menjadi bukti keabsahan suatu teori. Peristiwa apel jatuh merupakan bukti adanya gravitasi, dengan demikian teori gravitasi “benar”. Sekarang pakai logika yang sama, dan ganti klausa “apel” jatuh dan frasa “teori gravitasi” dengan Isra Miraj dan teori relativitas. Isra Miraj merupakan bukti adanya relativitas ruang dan waktu, dengan demikian teori relativitas benar. Apakah anda merasakan kejanggalannya?

    Jadi, teori relativitas bukan bukti “kebenaran” peristiwa Isra Miraj, namun teori relativitas membuka kemungkinan bahwa perjalanan tersebut memang bisa terjadi secara fisik. Hal ini perlu ditekankan mengingat seperti yang saya jelaskan sebelumnya, banyak rekan seiman saya yang ceroboh menganggap bahwa teori relativitas adalah bukti, padahal teori itu hanya bisa dipakai untuk menjelaskan kemungkinan-kemungkinan metode perjalanan yang digunakan. Belum lagi soal, apakah Muhammad  menempuh perjalanan sesuai teori relativitas, atau ada cara lain yang belum diketahui sains saat ini? Bagaimana membuktikannya? Dan bagaimana jika perkembangan ilmu pengetahuan membuktikkan bahwa teori relativitas itu salah? Apakah itu juga berarti peristiwa Isra Miraj itu tidak ada? Mohon direnungkan baik-baik.

    2. Big bang dan Penciptaan Alam Semesta

    Peristiwa big bang banyak dikaitkan dengan surat Al-Anbiya ayat ke-30. Kecerobohan yang sering terjadi adalah mirip dengan kecerobohan penggunaan teori relativitas. Sifat malas membaca, berdiskusi dan mengkaji akhirnya menggiring pemahaman yang keliru bahwa big bang adalah ledakan besar yang terjadi dahulu kala. Ilmuwan sendiri mengemukakan bahwa teori big bang adalah teori yang menjelaskan pengembangan alam semesta dari “awal” hingga kini.

    Ilustrasi Big Bang

    Apalagi dalam surat Al Anbiya ayat ke-30, terminologi yang digunakan adalah langit dan bumi. Istilah langit dan bumi sangat rancu untuk diselaraskan dengan pengertian teori big bang mengingat langit mana yang dimaksud dan bumi mana yang dimaksud tidak cukup jelas.

    Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tidak juga beriman?

    Penafsiran mengenai ayat ini boleh saja dilihat dengan kacamata big bang, namun sekali lagi teori big bang bukan bukti kebenaran ayat tersebut. Teori big bang hanya memberi tambahan alternatif penafsiran terhadap ayat ini.

     
  • Irwanto Ali 3:25 p11 on November 14, 2018 Permalink | Reply  

    (Jika) Menulis Itu Senikmat Melahap Bakso 

    Bakso itu makanan sejuta umat di Indonesia. Dari anak-anak, pemuda, orang tua dan yang sok tua pasti mengenal bakso dan pernah memakannya minimal sekali seumur hidupnya. Oke, nampaknya terlalu lebai. Dan bukan itu esensinya. Jadi silahkan ganti bakso dengan makanan favorit masing-masing, bisa pecel, rendang, siomay, soto dll. Pokoknya makanan favorit anda yang tidak akan pernah bosan anda santap berulang kali.

    Ketika kita melahap makanan favorit yang rasanya maknyus, ada momen tarik ulur antara ingin melahapnya lambat-lambat karena khawatir makanan cepat habis. Namun kita juga merasakan ingin makan cepat-cepat karena ternyata organ-organ pencernaan kita, terutama lidah sang indra perasa, bekerja lebih giat.

    Kira-kira seperti itulah kenikmatan yang saya inginkan saat saya menulis.

    Lalu saya berikhtiar, kalau saya cari bakso yang enak, saya akan pilih-pilih dimana warung bakso yang terlihat mantap dan punya reputasi baik, Setelah sekian lama mencari, akhirnya melalui sebuah poster di perpustakaan, saya menemukan warung yang sering saya dengar namanya namun belum pernah mencobanya.

    Warung tersebut bernama FLP alias Forum Lingkar Pena. Warung yang sudah punya cabang (katanya) di seluruh nusantara bahkan di manca negara. Dan saya berkesempatan mencobanya di warung FLP Yogyakarta. Tidak ada salahnya mencoba, bukan?

    Tapi tentu saja tidak ada makanan yang gratis. Anda harus tetap bayar. Dan mungkin cukup menguras kantong (bagi mereka yang masih pelajar/mahasiswa). Namun demi suatu pengalaman dan ilmu (halah!), maka bolehlah anggaran lain dipotong. Dan saya harus berebut dengan calon pembeli lain. Bukti betapa bagusnya reputasi warung bernama FLP ini. Jadi, masih bertanya apakah ada yang lebih bagus dari FLP? Kalau yang lebih mahal kayaknya banyak.

    Dan terbukti, FLP bukan warung sembarang warung. Anda harus mengirim CV disertai esai motivasi kenapa ingin mencoba “bakso” di warung FLP. Dari awal pengunjung sudah diseleksi, siap tidaknya menyantap hidangan dari FLP. Saya pun khawatir, jangan-jangan tidak siap. Atau jangan-jangan citarasa bakso di FLP tidak sesuai dengan selera saya. Perasaan seperti itu saya tepikan dulu. Jadi, saya coba jalani saja dulu.

     

     

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel