Gelagah Boreh Rambutan Jantan, Orang Berbunga Dia Berbunga, Orang Berbuah Dia Tidak

Era teknologi informasi telah menjadikan dunia kita lebih terbuka bahkan cenderung mengarah kepada kebebasan yang tidak bertanggung jawab. Kini sms, status di situs jejaring sosial adalah kekuatan utama untuk menarik perhatian massa. Dengan tidak mengabaikan faktor yang lain, booming berbagai situs jejaring sosial di Indonesia tidak terlepas dari peran para orang terkenal (baca artis). hal yang mungkin lebih fenomenal adalah bagaimana kekuatan ini bisa diarahkan untuk mengerahkan masa. Contoh yang paling nyata adalah ketika masa kampanye Presiden AS yang lalu bagaimana keefektifan situs jejaring sosial bisa digunakan untuk menggalang simpatisan. Di dalam negeri sendiri kita bisa mengambil contoh tentang kasus Prita serta dukungan terhadap pimpinan KPK, Pak Bibit dan Chandra.

Pada hakikatnya manusia butuh pengakuan akan keberadaannya. Meminjam ungkapan filsuf Perancis, Rene Descartes, “cogito ergo sum”, aku berpikir maka aku ada. Jika kita telaah lebih jauh, maka ini adalah sebuah ungkapan penuh percaya diri. Maksudnya keberadaan seseorang bisa dibuktikan dengan hanya pikirannya sendiri. Pada intinya, jika manusia mau berkontemplasi sejenak, sederhana saja ia akan tahu bahwa ia pasti ada. Kesadaran pembuktian keberadaan diri melalui berpikir inilah yang perlu  ada sehingga orang tidak haus akan pengakuan eksistensi.

Pada masa sekarang, ungkapan “aku berpikir maka aku ada” lebih sering tergantikan oleh ungkapan ‘gak narsis gak eksis”. Perubahan ini tidak hanya terjadi pada struktur bahasanya, tetapi juga pada perubahan makna bahkan mengarah pada perilaku tertentu. Narsis sendiri merupakan kata atau lebih tepatnya nama orang yang diserap oleh bahasa pergaulan di Indonesia. Narsis berasal dari kata/ nama orang Narcissius yang digambarkan dalam suatu cerita Narcissus tersebut adalah orang yang terlalu berlebihan dalam mengagumi dirinya sendiri bahkan cenderung memujanya hingga akhirnya ia mati karena hal tersebut. Kini arti kata narsis tidak jauh berbeda dengan tingkah laku si pemiliknya. Narsis berkaitan dengan pembuktian eksistensi diri melalui aksi – aksi yang cenderung berlebihan dengan tujuan menarik perhatian orang lain bahkan ingin memantik munculnya komentar. Inilah letak perbedaannya. Eksistensi yang sudah jelas – jelas ada wujudnya kini seolah harus dibuktikan keberadaanya oleh orang lain. Di luar orang seakan  – akan percaya diri dengan menunjukkan apa yang dimilikinya. Akan tetapi secara tidak sadar justru melupakan pembuktian eksistensi diri melalui pikiran sendiri. Kebutuhan akan pengakuan diri oleh orang lain sangat sering menghilangkan kemauan diri dan cenderung mengarah pada pemenuhan akan kemauan orang lain  dan hal inilah yang mengikis kepercayaan akan diri sendiri. Lebih parah lagi justru fenomena narsis ini lebih mengarah pada bagaimana penampilan fisik kita.

Sisi positifnya adalah kita terpacu untuk “memasarkan” diri kita beda dengan orang lain. Tetapi yang perlu dijaga adalah tidak berlebihan dan sadar bahwa kita ada, dan jangan melupakan keinginan diri. Perlu diingat juga bahwa keberadaan kita juga bisa terungkap dari karya, pemikiran, tulisan, dll, tidak hanya dari penampilan kita.