Mengamati Fenomena Sindrom “Obsesi Artis”

Dalam benak kita, mungkin terlintas, ” mana ada orang yang gak mau terkenal?” Sering sekali terpikir bagaimana menarik perhatian orang lain. banyak sekali keluh kesah, umpatan, kata – kata kotor, curahan hati, atau sekedar “laporan rutin” kegiatan kita menghiasi status user jejaring sosial hanya untuk menanti comment dari orang lain. Orang banyak berkilah, ” Ya aku cuma mengungkapkan perasaanku.” Ya kalau mau sekedar mengungkapkan isi hati harusnya tidak perlu membuka situs jejaring sosial( yang sampai sekarang koneksi internetnya masih perlu dibayar), cukup menulis di buku harian atau ketik saja di HP. OK pasti motifnya ingin diketahui orang lain. Hal inilah yang saya sebut fenomena sindrom ” obsesi artis”. Tidak bisa menjadi artis di dunia nyata, bukan halangan untuk tidakmenjadi artis dunia maya. kalau menyampaikan nasihat, kata – kata bijak, pengalaman atau hal lain yang bisa dijadikan teladan maka ini positif. Tapi yang unik sebagian besar justru mengungkapkan keluh kesahnya, kegiatan sehari – harinya dan hal pribadi lainnya. Artis digaji untuk melakukan hal itu. tapi “artis maya” ini tentu tidak. Mungkin hanya kepuasan sementara saja. Tidak penting komentar apa yang masuk, yang penting banyak komentar dan menarik perhatian banyak orang. Lucu lagi ketika orang berkata tidak bisa mengungkapkan perasaannya tapi bisa mengetik bebas di dunia maya. Internet telah menjadi pelarian orang akan ketidakacuhan dunia pada dirinya. Tidak heran budaya artis kacangan tumbuh subur di negeri ini. Artis kacangan mengandalkan keluh kesah, kehidupan pribadi, kasus, gosip yang menimpa dirinya untuk menarik perhatian. Pendek kata budaya GILA POPULARITAS ini sudah mengakar dan justru terfasilitasi.

Hati – hati dengan perilaku menarik perhatian orang ini karena mudah terpeleset kepada riya’.

“Dari Amirul mu’minin Umar bin Al-Khotthob rodiallahu’anhu, ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya amalan-amalan itu berdasarkan niatnya dan sesungguhnya bagi setiap orang apa yang ia niatkan, maka barangsiapa yang berhijrah kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barangsiapa yang hijrahnya karena untuk menggapai dunia atau wanita yang hendak dinikahinya maka hijrahnya kepada apa yang hijrahi”. (HR. Al-Bukhari: 1).

Sisi positif yang bisa diambil dari adanya jejaring sosial adalah membantu orang – orang yang katanya pendiam dan tidak mampu mengungkapkan perasaannya secara lisan, jadi bisa mengekspresikan dirinya. Hal ini baik jika dipandang sebagai media pembelajaran untuk bersosialisasi. kekhawatiran muncul justru jika ini menjadi media bersosialisasi utama. Harusnya jejaring sosial menjadi media alternatif dalam bersosialisasi. Manusia harus tetap berkomunikasi tatap muka secara langsung dalam dimensi waktu dan tempat yang sama. Jika tidak, entah nanti bagaimana nasib gotong royong membersihkan kampung mungkin tidak akan terjadi lagi. Atau sekedar pengajian atau arisan. Semuanya akan tergantikan oleh dunia virtual.

Hal yang disampaikan secara terbuka pun sebaiknya berupa nasihat, ungkapan yang bersemangat dan memberi motivasi atau peringatan. Hal yang bersifat keluhan, curahan hati atau berkaitan dengan hal pribadi selayaknya disampaikan dalam forum yang lebih tertutup. Hal ini untuk menghindari kesalahpahaman, bahkan untuk meminimalisir tersebarnya aib diri atau orang lain.

“…kata-kata yang baik adalah sedekah, setiap langkah kaki yang engkau ayunkan menuju ke masjid adalah sedekah dan menyingkirkan aral (rintangan, ranting, paku, kayu, atau sesuatu yang mengganggu) dari jalan juga merupakan sedekah.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Umpatan, kritik yang merusak, kata – kata kotor harus dihindari. Meskipun di dunia maya, tetap saja apa yang keluar dari kita merupakan representatif dari isi hati kita. Kata AA Gym, apa yang keluar dari mulut teko adalah dari isi teko itu sendiri, kalau isinya kopi maka yang keluar juga kopi. Begitu pula dengan isi pikiran kita, jika isinya kebaikan maka yang keluar dari mulut pun adalah perkataan yang menyenangkan hati.

“…dan barangsiapa menurutpi (aib) seorang muslim, Allah akan menutupi (aibnya) di dunia dan Akhirat; dan Allah selalu akan menolong hambanya selama ia menolong saudaranya.” Riwayat Muslim.

Wallahu alam bishowab