Lika-Liku Sejarah Indonesia

1. Apakah Negara Indonesia dijajah selama 350 tahun oleh Belanda?

Jawabannya tidak karena negara Indonesia baru terbentuk pada 1945. Angka 350 tahun pun tidak tepat benar karena daerah -daerah nusantara ditaklukkan secara bertahap oleh Belanda dan VOC. Aceh dan Bali adalah dua daerah terakhir yang ditaklukkan Belanda. Itupun masih diselingi penjajahan Inggris, Spanyol dan Portugis serta Jepang. Mungkin kalimat yang lebih tepat adalah Belanda butuh waktu sekitar 350 tahun untuk menguasai seluruh wilayah yang kini dinamakan Indonesia.

2. Tatkala Belanda Membonceng Sekutu

Pernahkah anda mendengar kalimat dalam buku sejarah, ” Tentara Belanda membonceng pasukan sekutu yang hendak melucuti tentara Jepang.”, atau kalimat semacam itu? Saya yakin anda pernah mendengarnya. Tetapi tahukah anda bahwa Belanda tidak hanya “memboncengkan” pasukannya untuk menggoyang kedaulatan republik dengan agresi militer namun juga melalui cara agresi ekonomi?

Pada tanggal 6 Maret 1946, Letnan Jenderal Sir Philip Christison, panglima AFNEI(Allied Forces in Netherlands Indie) menyatakan berlakunya uang NICA. Uang tersebut bergambar Ratu Wilhelmina tersebut ditujukan untuk alat pembayaran yang sah bagi semua pihak (Indonesia, Belanda dan juga Sekutu). Padahal sejak tahun 1946, pemerintah NKRI sudah mengeluarkan mata uang republik Indonesia (ORI).

Perdana menteri Indonesia waktu itu, Sutan Syahrir, memprotes tindakan sekutu tersebut karena dianggap melanggar kedaulatan NKRI dan melanggar kesepakatan yang ada. Akibat dari dikeluarkan mata uang baru tersebut menimbulkan kebingungan pada rakyat dan meningkatkan inflasi di Indonesia. Padahal kondisi ekonomi Indonesia sudah dalam kesukaran pasca kemerdekaan. Secara politis, tentu usaha ini adalah upaya Belanda dan sekutu untuk memperlemah pemerintahan dengan menimbulkan kekacauan ekonomi, suatu hal yang kelak selalu menjadi senjata ampuh bangsa asing untuk menguasai Indonesia.

3. Pemenang Pemilu Pertama di Indonesia

Tahukah anda meski PNI menjadi partai pemenang dalam Pemilu legislatif tahun 1955, namun sesungguhnya kekuatan Islam-lah yang menguasai Pemilu 1955.Dari lebih 39 juta pemilih waktu itu, Masyumi mendapatkan 7,9 juta suara (20,9%) mendapatkan 57 kursi di parlemen, NU-6,96 juta suara (18,4%)-45 kursi, PSII-1,1 juta suara (2,9%)-8 kursi, dan partai kecil lain yang berideologikan Islam. Total suara yang diperoleh parpol Islam pada pemilu 1955 adalah sekitar 45% dan mendapatkan 116 kursi dari 257 kursi yang diperebutkan di parlemen. Kekuatan dominan Islam di parlemen berakhir seiring manuver politik yang dilakukan Soekarno melalui dekrit Presiden 1959.

Lalu apa istimewanya kemenangan pada Pemilu pertama ini? Tentu istimewa karena pada periode pasca kemerdekaan sampai meletusnya G30S, terjadi perang pemikirang mengenai dasar negara Indonesia. Dengan menguasai parlemen tentu akan lebih mudah melakukan manuver politik guna memperbaiki, menyempurnakan atau bahkan mengganti dasar negara. Lalu pertarungan tersebut terjadi dalam Badan Konstituante yang bertugas menyusun UUD. Dari sinilah terjadi gesekan ideologi antara Pancasila, Islam dan Sosial Ekonomi. Kekuatan dominan Islam di parlemen berakhir seiring manuver politik yang dilakukan Soekarno melalui dekrit Presiden 1959 yang juga menandai berakhirnya, walaupun sementara, peperangan ideologi di jajaran elit bangsa ini.

4. Seruan Berjihad dikala Genting

Pernah dengar kata jihad? Punya pandangan negatif atas kata tersebut? Jangan ikut arus dulu, karena sebagian besar perlawanan terhadap penjajah bangsa kita justru bermula dari seruan jihad kaum Muslim. Salah satu seruan berjihad penting dan (seharusnya) terkenal adalah seruan berjihad yang datang dari para kiai se-Jawa dan Madura di kantor ANO (Ansor Nahdlatul Oelama) pada tanggal 21-22 Oktober 1945. Setelah rapat darurat sehari semalam, maka pada 22 Oktober dideklarasikan seruan jihad fi sabilillah yang belakangan dikenal dengan istilah “Resolusi Jihad”.

Ketika NU melihat ancaman terhadap negara yang sudah menyatakan proklamasi kemerdekaannya, dan sudah mempunyai konstitusinya sendiri (UUD 1945), maka pada tanggal 22 Oktober 1945, organisasi ini mengeluarkan sebuah Resolusi Jihad. Namun, sebelumnya NU mengirim surat resmi kepada pemerintah yang berbunyi:

”Memohon dengan sangat kepada pemerintah Indonesia supaya menentukan sikap dan tindakan yang nyata serta sepadan terhadap tiap-tiap usaha yang akan membahayakan kemerdekaan agama dan negara Indonesia, terutama terhadap Belanda dan kaki tangannya. Supaya pemerintah melanjutkan perjuangan yang bersifat ”sabilillah” untuk tegaknya Negara Republik Indonesia yang merdeka dan beragama Islam.”

Adapun resolusi yang diputuskan dalam rapat para konsul NU se-Jawa itu berbunyi:

1. Kemerdekaan Indonesia yang diproklamirkan pada 17 Agustus 1945 wajib dipertahankan.

2. Republik Indonesia (RI) sebagai satu-satunya pemerintahan yang sah, wajib dibela dan diselamatkan.

3. Musuh RI, terutama Belanda yang datang dengan membonceng tentara Sekutu (Inggris) dalam masalah tawanan perang bangsa Jepang tentulah akan menggunakan kesempatan politik dan militer untuk kembali menjajah Indonesia.

4. Umat Islam, terutama NU wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.

5. Kewajiban tersebut adalah jihad yang menjadi kewajiban tiap-tiap muslim (fardhu ’ain) yang berada pada jarak radius 94 km (jarak dimana umat Islam diperkenankan shalat jama’ dan qashar). Adapun mereka yang berada di luar jarak tersebut berkewajiban membantu saudara-saudaranya yang berada dalam jarak radius 94 km tersebut.

Resolusi jihad tersebut akhirnya mampu membangkitkan semangat arek-arek Surabaya untuk bertempur habis-habisan melawan penjajah. Dengan semangat takbir yang dipekikkan Bung Tomo, maka terjadilah perang rakyat yang heroik dimulai pada 10 November 1945 di Surabaya.

5. Menuju Republik Indonesia

Judul di atas adalah judul terjemahan dari “Naar de Republiek Indonesia” yang dikarang oleh Tan Malaka ketika dalam masa pelariannya. Tan Malaka diduga menjadi orang Indonesia pertama yang menyebutkan nama Indonesia dalam karangan berbentuk buku sekaligus memperkenalkan nama itu di dunia internasional. Meski lebih banyak berisi pandangan dan panduan bagi gerakan komunis dan PKI dalam mewujudkan revolusi Indonesia, namun buku ini menjadi buku yang cukup komprehensif mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mewujudkan revolusi dan kemerdekaan Indonesia. Bahkan katanya buku ini juga menjadi inspirasi bagi pemuda Indonesia untuk mewujudkan Sumpah Pemuda 1928.

Referensi:

Ratna Nurhajarini, Dwi, Sejarah Oeang Repoeblik Indonesia, Jantra vol. 1, No 1, Juni 2006.

https://dhutag.wordpress.com/2009/12/16/islam-dan-pancasila-di-sidang-konstituante/.

http://umum.kompasiana.com/2009/08/30/psii-dan-nu-keluar-dari-masyumi/events/ib/?avatar.

Sd, Subhan, 1996, Langkah Merah: Gerakan PKI 1950-1955, Yogyakarta:Bentang.

http://sosbud.kompasiana.com/2011/08/22/jihad-melawan-penjajah-pondasi-negara-ini/

wahid, Hasyim, dkk, 1999, Telikungan Kapitalisme Global Dalam Sejarah Kebangsaan Indonesia, Yogyakarta:LKiS.