(Tidak) Penting Belajar Sejarah

Belajar sejarah itu bukan sekedar hafalan nama-nama orang, tanggal, nama kerajaan antah berantah apalagi hafalan wajah orang dalam foto hitam putih. Belajar sejarah itu seperti bermain drama. Anda harus menjiwai karakter orang lain, seting peristiwa serta peranan apa yang akan anda lakoni hingga bisa tercantum dalam sejarah. Belajar sejarah juga berarti belajar filsafat, politik, ilmu sosial bahkan agama.

Penting ga belajar sejarah?

Ndak penting, kecuali anda mau mengklaim warisan anda.

Maksudnya?

Kebanyakan orang baru menelusuri silsilahnya (sejarahnya) ketika sudah berurusan dengan pembagian harta warisan. Mereka bersabar mencari tahu, tanya sana sini, mencari bukti yang bisa menguatkan kedekatan mereka dengan “pemilik” harta waris. Bukankah semakin dekat mereka dengan sang pemilik akan menjadikan porsi warisan mereka lebih besar?

Saya masih ndak ngerti.

Begini, harta warisan itu adalah bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya, yang ada di negara kita tercinta. Pemiliknya adalah bangsa Indonesia. Pewarisnya adalah bangsa Indonesia juga. Seiring berjalannya waktu, dengan cara yang culas, segelintir orang memonopoli harta berlimpah ini. Lebih mengherankan lagi, orang asing juga memonopoli penguasaan harta ini, entah bagaimana caranya. Banyak orang tidak sadar harta mereka telah dirampas. Bahkan, lebih mengherankan lagi, harta itu dijual kepada pewaris sesungguhnya, ditukar dengan cucuran keringat, darah, nyawa hingga harga diri. Tapi tetap saja banyak orang tidak sadar.

Kenapa banyak orang tidak sadar?

Karena mereka tidak merasa bahwa harta itu adalah milik mereka. Mereka sudah lupa perwujudan harta mereka sendiri karena telah silau dengan benda ajaib bernama uang. Ada yang tahu tapi ragu-ragu untuk menuntut hak atas kepemilikan hartanya. Karena sudah ada contoh, bagi mereka yang lancang melakukan tuntutan atas harta mereka sendiri bisa berujung pada kematian. Maka hingga beberapa generasi tak ada yang sadar bahwa harta berlimpah ruah yang setiap hari harus mereka perebutkan itu sebenarnya milik mereka sendiri.

Lalu, bagaimana dengan orang yang memonopoli harta warisan itu, bagaimana mereka bisa sadar dan mengklaim kepemilikan atas harta itu?

Karena mereka belajar sejarah. Di saat anak-anak pewaris lain sibuk dengan film, musik hura-hura, kenikmatan hidup duniawi hingga terlelap saat pelajaran sejarah, mereka yang memonopoli itu dengan siaga mendengarkan sejarah “pembagian warisan” oleh ibu pertiwi mereka. Bahkan, tidak cukup dengan hanya mendengarkan, mereka mencari tahu, mencari bukti, menyewa pengacara hingga mereka bisa mendapatkan tanda tangan ibu pertiwi pada dokumen surat wasiat yang isinya bebas mereka tentukan sendiri. Akhirnya mereka bisa mengklaim harta warisan itu. Kemudian ada anak lain yang mengikuti caranya, rela menelusuri buku-buku tua, berusaha menemukan bukti yang menyatakan bahwa dia juga mendapatkan warisan dari sang ibu pertiwi. Sampai akhirnya anak-anak yang lain juga mengikuti cara yang sama. Khawatir dengan porsi harta yang semakin berkurang, maka kelompok itu mulai membuat catatan fiktif alias sejarah palsu sehingga anak-anak selanjutnya tak bisa mengetahui, bahkan tak pernah terpikir bahwa mereka juga berhak atas harta ini. Kalau mereka tidak tahu, bagaimana mungkin mereka bisa sadar? Kalau mereka tidak sadar, bagaimana mungkin mereka bisa terpikir untuk menuntut keadilan atas harta warisannya?

Sejarah mulai diisi dengan hafalan nama-nama orang yang justru memonopoli harta warisannya, lengkap dengan tanggal ulang tahun dan tanggal matinya. Buat apa menghafal ulang tahun orang yang sudah mati? Sejarah memang membosankan bukan?

Hingga kini, sejarah masih menjadi mata pelajaran favorit bagi para siswa untuk tidur dengan nyenyak di kelas.🙂