Busana Muslim, (bukan) Pengemis dan Teroris!

Suatu ketika saya berkunjung ke kos teman akrab saya memakai sarung. Teman saya heran dan bertanya, “Kenapa pakai sarung?”
“Oh, tadi habis sholat di masjid langsung kesini.” jawab saya datar.
Setelah percakapan singkat , kami langsung berangkat menuju tempat makan yang sudah direncanakan. Kami juga berencana ke tempat rental DVD setelahnya.

“Jadi nyewa game-nya?”, tanya saya ingin memastikan.
“Gak jadi ah, kamu pakai sarung.” jawabnya
“Emang kenapa? Saya sering pakai sarung ke swalayan.”
“Dulu kan? Waktu terorisme belum marak.”

Saya terdiam tak membantah.

Sebelumnya, dengan teman saya yang lain saya mengalami pengalaman serupa namun tak sama. Waktu itu saya mau mengajukan permohonan izin untuk melakukan survei, ke Badan Kesatuan Bangsa Politik dan Perlindungan Masyarakat Kota Surabaya. Kami berencana berangkat setelah sholat Jum’at dalam kondisi saya masih memakai baju koko putih. Teman saya keberatan dengan penampilan saya dan meminta saya ganti pakaian. Katanya saya mirip orang minta sumbangan. Apalagi waktu itu saya juga menenteng proposal penelitian saya.

Dari dua pengalaman tersebut saya berpikir, betapa mengenaskan cara berpakaian orang Islam yang ternyata terlihat sebagai penampilan bad guy bagi sebagian orang. Terlebih lagi dua orang teman yang saya ceritakan adalah teman seagama. Kalau yang seagama saja sudah berpikiran seperti itu, bagaimana dengan orang yang berbeda agama? Jangan-jangan orang yang sering berbaju koko, gamis, bersarung, memakai peci semuanya adalah teroris, atau peminta sumbangan?

Di tengah gencarnya seruan penerapan syariat Islam, dalam era pembangunan pasca reformasi, dengan asas Pancasila yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa, sampul buku orang Islam justru koyak mengenaskan. Kata orang bijak, don’t judge a book by its cover only, kenyataan yang terjadi adalah sebaliknya. Delapan puluh persen dari dua ratus tiga puluh delapan juta penduduk Indonesia beragama Islam harus menanggung stigma “teroris” atau “pengemis” ketika memakai baju gamis atau sarung di luar masjid. Tidak modern dan salah tempat, katanya.

Kemudian ternyata umat Islam ikut mendaftarkan diri untuk menjadi bagian dari masyarakat modern. Caranya adalah dengan memperebutkan kaos original, yang masih bau keringat Beckham, para gadisnya berpakaian serba minim, rok mini ala bintang K-Pop, atau berjilbab tapi bajunya transparan. Saya mengerti persoalan berpakaian adalah masalah etika. Orang harus tahu situasi kondisi dimana dia berada sehingga bisa memilih pakaian yang tepat. Saya pun bukan orang yang fanatik dalam berpakaian ala Muslim-seharusnya. Namun apakah saya akan dilarang masuk jika ke mall pakai sarung, hanya karena saya dikira teroris? Apakah mall hanya milik para ABG labil yang suka kekurangan kain sehingga pakaiannya super minim dan ketat? Presiden Abdurrahman Wahid (almarhum) saja pakai sarung di istana negara, tempat yang dikenal sebagai tempat super resmi.

Sayangnya tidak di semua tempat orang Islam bebas berekspresi lewat pakaiannya yang sopan nan santun. Bahkan di negeri ini, yang katanya adalah negara dengan mayoritas umat Islam terbesar di dunia, pembunuhan karakter umat Islam terus berjalan.