Arok Dedes

Judul : Arok Dedes
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2002

Gambar Sampul

Kisah Arok Dedes adalah kisah kudeta pertama dalam sejarah kita. Kudeta unik ala Jawa, penuh rekayasa, kelicikan, lempar batu sembunyi tangan, yang punya rencana menjadi orang terhormat, yang tak terlibat malah menjadi korban yang ditumpas habis-habisan.

Bingung dengan sejarah kelam peralihan orde lama ke orde baru? Atau masih penasaran dengan siapa simpang siur sejarah reformasi 1998? Novel ini bukan bercerita tentang dua peristiwa dalam sejarah NKRI tersebut. Namun cuplikan kisahnya menjadi cermin yang baik terhadap dua peristiwa luar biasa di negeri tercinta ini.

Ken Arok, nama yang sudah sering tercantum dalam buku sejarah di sekolah. Tercatat sebagai pendiri kerajaan Singosari dan sering digambarkan sebagai penjahat bengis yang melakukan kudeta terhadap pemerintahan sah di Tumapel, yaitu pemerintahan Tunggul Ametung. Bahkan lebih jauh dia semakin mendapat stigma jelek karena juga “merampas” istri Tunggul Ametung, si cantik jelita, Ken Dedes.

Maka di novel ini perspektif anda terhadap sejarah akan dijungkir balikkan sedemikian rupa.
Bagi Ken Dedes, Tunggul Ametung hanyalah seorang penjahat dan pendekar yang diangkat untuk jabatan itu oleh Sri Kertajaya untuk menjamin aris upeti ke Kediri. Semua brahmana termasuk ayahnya, membencinya. Dua puluh tahun sebagai Tunggul Ametung pekerjaan pokoknya adalah melakukan perampasan terhadap semua terbaik milik rakyat Tumapel: kuda terbaik, burung terbaik, perawan tercantik.

…dan kini Ken Dedes, putri brahmana terkemuka pun tak luput jadi incaran si pejabat korup, Tunggul Ametung. Dia diculik dan tak kuasa melawan hingga menjadi paramesywari dengan terpaksa. Suatu rekayasa Dewata yang kelak membantunya untuk menghancurkan Tunggul Ametung…

Sementara di lain tempat, Arok telah tumbuh menjadi pendekar terpelajar. Tak hanya cakap bersilat tapi juga mampu membaca kitab dan berpikir bijak. Perlahan Arok mulai mengorganisir massa untuk memberikan sengatan pada pemerintahan zalim Tunggul Ametung. Disertai
“Dengan namamu yang baru, Arok, Sang Pembangun, kau adalah garuda harapan kaum brahmana.”

Dengan sangat baik Pram membangun latar belakang Dedes dan Arok. Menggiring langkah hidup mereka untuk bersinggungan dan saling memperkuat untuk merobohkan Tunggul Ametung. Dedes bergerak dari dalam istana sedangkan Arok, perlahan tapi pasti merangsek dari luar sambil tetap menjaga jarak, memastikan tangannya tetap “bersih” dari noda-noda darah akibat kudeta yang direncanakannya.

Bagaimana dengan mpu legendaris pembuat keris yang akhirnya menjadi kutukan raja-raja Singosari, mpu Gandring?
Kisah mpu Gandring menjadi semacam cerita jenaka di tengah cerita yang panas hingga bisa membuat kita menyungginggkan senyum. Hal yang cukup memebuat saya terhenyak karena selama ini saya selalu membayangkan bahwa mpu Gandring itu bekerja sendirian, kalaupun ada yang membantu paling cuma dua orang. Namun Pram menceritakan sosoknya dengan cara yang berbeda. Mpu Gandring menjadi kepala pabrik senjata di sini dengan banyak bawahan yang siap memproduksi massal senjata perang.

Akhirnya Pram, mengakhiri kisah ini dengan kecemburuan seorang Ken Dedes. Bukan hanya karena dia dimadu denga seorang perempuan dari kasta bawah oleh Ken Arok, namun juga karena kemenangan Ken Arok dipersembahkan bagi orang Budha, Wisynu, Tantrayana dan Kalacakra. Dedes ingin sembahannya sajalah, Hyang Syiwa, menjadi satu-satunya kepercayaan di Tumapel.

Suatu pelajaran penting bagi pemimpin kita, agar tak mengikuti kata hati, hanya menonjolkan golongannya saja, tapi hendaknya kemenangan itu diperuntukkan bagi semua golongan yang menginginkan kebaikan dalam hidup.

Akhir kata, novel ini sangat wajib untuk dibaca🙂.

Nilai 5/5