The Year of Living Dangerously

Judul  : The Year of Living Dangerously
Penulis  : Christopher Koch
Penerbit  : Serambi
Tahun Terbit : 2009

Vivere Pericoloso

Ingatan sebagian besar orang Indonesia yang pernah hidup di tahun – tahun 1964-1965 adalah kegetiran. Soekarno sendiri sudah meramalkannya dan menyebutnya tahun Vivere Pericoloso-tahun dengan hidup penuh bahaya, bagi kekuasaannya dan juga mungkin bangsa Indonesia. Suatu lembaran hitam dalam catatan sejarah Indonesia. Bagi yang terlahir setelah tahun itu, hanya dampaknya yang bisa dirasakan: menguntungkan, merugikan atau bahkan tak terasa sama sekali. Generasi selanjutnya pun mengenal tahun-tahun tersebut lewat pelajaran sejarah subyektif, yang ditulis oleh sang pemenang pertikaian sebagai gejolak politik, kudeta berdarah untuk mengganti ideologi Pancasila.

Adalah Guy Hamilton, seorang wartawan asal Australia, datang untuk meliput huru-hara politik di Indonesia. Jakarta yang sibuk tapi kumuh, megah sekaligus miskin sangat tak bersahabat dengannya. Beruntung dia bertemu Billy Kwan, “kurcaci” yang menjadi pemandu sekaligus juru kamera handal. Dengan segera liputan Guy tentang politik di Indonesia menjadi trending topic di seluruh dunia. Dan Guy semakin terseret ke dalam kehidupan Billy yang nyentrik, misterius bahkan mungkin berbahaya. Billy pula yang memperkenalkannya pada wanita cantik, Jill Bryant, wanita yang sangat dicintai Billy sendiri. Membawa mereka dalam cinta segitiga.

Klise memang, cerita terpusat pada kesetiaan persahabatan, karir dan cinta. Namun balutan idealisme Billy yang tertuang dalam catatan rahasia misteriusnya, obrolannya serta foto hasil jepretannya menjadikan novel ini kaya akan filsafat yang menambah khazanah sastra pembacanya. Ditambah lagi dengan pandangan dari seorang wartawan asing mengenai Jakarta waktu itu. Keadaan politik yang memanas, meminjam istilah Billy, perang dingin antara wayang kiri dan wayang kanan semakin mendekati puncak dan mungkin saja terjadi pertumpahan darah. Suatu kemungkinan yang pada akhirnya benar-benar terjadi.

Melalui novel yang sempat dilarang terbit di Indonesia oleh Pemerintahan Orde Baru, pembaca bisa memperkaya sudut pandang mengenai apa yang sebenarnya terjadi menjelang 30 September 1965. Meskipun fokusan utama cerita ini adalah kisah persahabatan dan cinta segitiga, namun sempilan fakta sejarah yang ditampilkan bisa menjadi alternatif cerita sejarah dari yang biasa didoktrinkan di sekolah-sekolah. Bilamana pembaca mengingkan novel yang lebih menantang dengan konflik yang memanas, pembaca hanya akan mendapati plot yang sedikit datar-datar saja dan cenderung mudah ditebak.

Penuturan cerita melalui orang ketiga, wartawan yang juga menjadi teman Billy dan Guy, terkadang cukup membingungkan alur cerita yang sedang berkembang. Pembaca bisa tersesat dan mengira bahwa yang sedang diceritakan adalah Guy padahal cerita sudah berganti ke Billy. Ketelitian pembaca membaca deskripsi cerita diperlukan di sini.

Kumar, asisten Guy bertanya, mengapa dia yang pintar harus hidup susah di Indonesia sementara banyak orang barat bodoh yang bisa hidup mewah? Suatu pertanyaan retoris yang sulit terjawab. Dengan mengutip opini Billy Kwan, bahwa atas konflik yang terjadi, masalah yang sedang mendera masyarakat ini, orang barat pun tak punya jawabannya. Hanya sang waktu yang bisa memaksa kisah ini mengalir, membiarkannya menanti, siapa yang benar dan siapa yang salah.

Rating: 4/5