REFLEKSI HARI KARTINI

Suatu kali saya makan di sebuah warung bakso. Saya makan dengan lahap sampai kuahnya nyiprat-nyiprat. Orang di sebelah saya langsung menegur.

“Mas, makan pelan-pelan. Kuahnya nyiprat ke saya.” kata orang tersebut dengan nada serius.

Saya langsung menghentikan makan saya sejenak. Saya merasa bersalah dan hendak meminta maaf. Saya menoleh ke arah orang tersebut. Wajahnya sudah tak memperhatikan saya, cuek. Hembusan asap rokok keluar dari mulutnya. Sela jemari tangan kanannya memegang sepuntung rokok. Asap terus mengepul, tak peduli di depan orang tersebut ada anak kecil yang sedang makan juga. Sontak saya bereaksi atas pemandangan itu.

“Iya pak, maaf. Tapi asap rokok Bapak juga nyiprat kemana-mana.” saya menjawab dengan sopan.

Bapak tersebut menoleh, lalu segera berdiri, pergi.

Kalau saya makan bakso, kuahnya nyiprat kemana-mana, saya risih.

Kalau makan rujak pun, jika bumbu kacangnya yang lezat itu tak sengaja berhamburan ke sekitar, kita yang makan jadi was-was takut mengenai baju orang.
Bahkan kalau kita sendawa atau batuk, kita diajarkan untuk menutup mulut kita supaya udara terkontaminasi dari mulut kita tidak terhirup orang lain.

Tapi mengapa orang yang merokok tak risih ketika asap rokoknya nyiprat kemana-mana? Bahkan sengaja dihembus-hembuskan?!

Ada yang bilang perokok itu penyumbang pajak terbesar. Tapi saya tidak yakin perokok membayarnya dengan ikhlas, siapa yang ikhlas bayar pajak?

Saya pikir di dunia ini cuma rokok yang tidak akan menimbulkan gelombang protes besar ketika harganya naik selangit. Jika harga beras naik maka ibu-ibu seluruh Indonesia siap turun ke jalan. BBM naik, giliran mahasiswa yang unjuk rasa. Bagaimana kalau harga rokok naik? Saya ragu akan muncul gelombang protes besar-besaran. Yang ada malah orang dengan sukarela memotong anggaran makan sebagai subsidi untuk anggaran membeli rokok.

Lalu, kelompok masyarakat orang tak tahu diri sedunia juga pasti jatuh ke kelompok orang perokok. Anda pasti pernah menemui (atau melakukan) orang merokok setelah makan, baru bangun tidur, sedang rapat, sedang menyetir mobil, hingga sedang buang air (mungkin). Tak peduli itu waktu pagi, siang atau dini hari, bulan puasa, natal, hari kesehatan sedunia hingga kalaupun ada hari antirokok sedunia, saya pastikan masih ada orang yang merokok. Bahkan dalam dunia olahraga pun yang seharusnya dijauhkan dari unsur-unsur yang merusak kesehatan, sponsor utamanya rokok. Saya pernah main sepakbola dan kiper kesebelasan saya masih sempat-sempatnya merokok, hebat bukan?

Maka dengan semangat hari Kartini ini kita semakin cemas akan peningkatan jumlah perokok aktif maupun pasif, terutama di kalangan perempuan. Sudah bukan zamannya lagi wanita merasa tabu untuk merokok. Hal paling berbahaya dari kenyataan ini adalah wanita paling banyak berurusan dengan anak-anak. Mulai dari mengandung, melahirkan sampai membesarkan sang buah hati. Bagaimana jika sang ibu perokok aktif? Tentu tidak hanya zat-zat berbahaya yang diwariskan kepada anaknya sebagai hasil menghisap racun rokok, tetapi juga bisa jadi kebiasaan merokoknya. Bukankah buah jatuh tak jauh dari pohonnya?

Kecemasan kita berganti sungging senyum dengan iringan gelengan kepala (dan mungkin mengelus dada) tatkala negara kita dinobatkan sebagai salah satu negara konsumen rokok terbesar. Di tengah keringnya prestasi bangsa kita di kancah internasional, sekali lagi kita patut (tidak) bangga bahwa perokok termuda di dunia ada di negara kita! Bayangkan, Korea Utara boleh punya kepala negara termuda di dunia, barat boleh jadi punya profesor termuda hingga astronot termuda tapi Indonesia punya perokok termuda di dunia Bung!

 

Tidak hanya itu, ternyata deretan prestasi negara kita terus bertambah. Setelah kita bertahun-tahun mempertahankan gelar negara terkorup di dunia, akhirnya ada gelar di bidang lain: Negara dengan pengakses situs porno terbesar di dunia. Ajaib bukan? Negara lain boleh mengajukan protes tidak terima atas penobatan tersebut kepada Indonesia. Amerika Serikat bisa saja tak terima mengingat negara itu mempunyai fasilitas yang lebih memadai untuk mengakses bahkan membuat hal-hal berbau pornografi. Jepang juga tidak boleh dikesampingkan usahanya, saya khawatir negara itu protes karena upayanya yang begitu

besar menjadi negara maju, termasuk usaha meninggalkan budaya malu ala timur. Intinya, negara lain bisa mengajukan gugatan ke PBB, tapi Indonesia punya bukti tak terbantahkan bahwa penduduknya adalah pengakses situs porno terbanyak. Apa buktinya: banyaknya laporan siswi hamil yang dilarang mengikuti ujian nasional 2012.

Saya yakin itu bukan awan gelap yang ditakutkan Kartini. Bukankah kini wanita bebas dan berhak melakukan apa saja? Bebas merokok, bebas mendapatkan pendidikan bikin anak sebelum waktunya, bebas berekspresi atas nama karya seni yang mengutamakan foto manusia tanpa busana. Bagaimana emansipasi bisa terjadi kalau perempuan masih mau dipaksa, bahkan banyak yang sukarela menjadi “korban pemerkosaan” zaman?

Ketika orang membicarakan Kartini, kita sering lupa bahwa pada akhirnya Kartini pun kembali ke fitrahnya sebagai perempuan. Emansipasi itu pendidikan untuk perempuan. Pendidikan untuk  persiapan menikah dan bersiap menjadi istri serta ibu yang baik. Karena kita (pria juga) tahu, bahwa perempuan memegang peranan sentral dalam menjaga keberlangsungan populasi dan peradaban (yang bermoral baik) manusia.