Dari Puncak Bagdad

Judul    : Dari Puncak Bagdad: Sejarah Dunia Versi Islam
Penulis    : Tamim Ansary
Penerbit    : Zaman
Tahun terbit: 2010

Secara fisik, kemasan buku ini bagus. Sampul yang mantap dengan warna didominasi warna coklat yang elegan, gambar lukisan bernuansa timur tengah segera terasa yang melukiskan suasana di dalam istana, ketika sultan atau mungkin khalifah sedang bermusyawarah dengan pejabat-pejabat istanya. Kemasan yang baik ini meniadakan kesan membosankan dari tebalnya jumlah halaman buku ini.

“Ansary menuliskan pandangan tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan Islam secara gemilang, informatif, dan menyeluruh. Buku wajib dibaca.” Pendapat dari penulis The Kite Runner, Khaled Hosseini, tentang buku ini tidak salah. Penulis benar-benar menyajikan sudut pandang yang berbeda dari sejarah dunia. Secara langsung mengangkat kembali posisi peradaban Islam ke permukaan, sejajar kembali dengan narasi sejarah peradaban lain, terutama peradaban barat.

Ansary bertutur dengan sudut pandang orang pertama, bercerita tanpa basa-basi bahasa ilmiah yang menyulitkan sehingga mempermudah pembaca, yang awam sekalipun terhadap sejarah Islam, menangkap nuansa zaman yang sedang diceritakan. Ansary membagi ceritanya menjadi sepuluh bagian yang dimulai dengan kisah zaman kuno, Mesopotamia dan Persia, dan mengakhirinya dengan zaman reaksi Islamis pasca tragedi 9/11.

Bagi pembaca yang memahami sirah nabi atau sering membaca sejarah Islam mungkin akan merasakan suatu penyederhanaan cerita mengenai Muhammad, sang tokoh sentral yang memperkenalkan Islam pada dunia. Lebih jauh dari itu, penulis juga kurang menggali beberapa jejak peradaban yang tersisa hingga sekarang. Seperti riwayat perawi hadis macam Imam Bukhari, Imam Muslim. Bahkan kisah ulama-ulama yang berdakwah ke negeri timur, semenanjung Malaya dan nusantara, yang akhirnya membentuk komunitas Islam tersendiri hingga kini, bahkan menjadi negara multi bangsa dengan jumlah penduduk yang memeluk agama Islam terbesar di dunia, negara Indonesia.

Pembaca yang cukup pernah membaca sejarah Islam harus siap tercengang bahkan mungkin harus menahan amarah tatkala membaca penafsiran sejarah yang cukup berbeda daripada hikayat yang diriwayatkan para sarjana Islam. Hal ini nampaknya dipengaruhi latar belakang penulis yang hidup di dunia barat sehingga cerita tentang sesuatu tak melulu didominasi sisi baiknya saja namun juga harus dilengkapi dengan sisi kelam. Gaya bercerita seperti ini tentu lebih terkesan obyektif dan sepertinya bertujuan untuk memuaskan pembaca dari barat yang menginginkan kisah penalaran yang manusiawi daripada kisah-kisah manusia tanpa cacat moral.

Misalnya dalam kisah Usman bin Affan, anda akan mendapati penafsiran terhadap gaya kepemimpinan sang sahabat Nabi ini yang cenderung digambarkan lebih “berorientasi bisnis”. Bahkan lebih jauh, Usman digambarkan menggunakan kekuasaannya untuk membangun oligarki bisnis keluarganya, Bani Ummayah. Hal ini ditunjukkan dengan kebijakannya dalam memudahkan “peminjaman modal” dari kas baitul mal kepada kerabat dekatnya. Muawiyah, saudaranya se-Bani, juga ditempatkan sebagai Gubernur Damaskus, yang perlahan membangun kekuatan militer.

Penafsiran semacam ini tentu akan sangat menohok sebagian ulama Islam yang percaya akan kesalihan Usman. Bagi pembaca yang lebih moderat, kisah ini biasa saja mengingat wilayah Islam pada zaman Usman sudah sangat luas sehingga butuh birokrasi besar untuk menjalankannya. Dan birokrasi yang besar, bagaimanapun cenderung untuk korup. Pembaca yang Islam harus siap menerima analisis dua sisi dari momen sejarah yang dipaparkan.

Bagaimanapun, buku ini tetap sangat layak untuk dibaca. Ringan namun tetap berbobot sejarah. Tidak detail namun cukup lengkap dalam pengambilan momen penting dalam sejarah Islam yang patut untuk diceritakan.

Nilai 4.5/5