Envy, The Seven Deadly Sins

Judul

Penulis

Penerbit

Tahun Terbit

Jenis Buku

: Envy, The Seven Deadly Sins

: Joseph Epstein

: Oxford University Press

: 2003

: Non fiksi, Filsafat

 

Petuah, “Jangan menilai buku hanya dari sampulnya”, memang tidak boleh diabaikan. Buku ini memiliki sampul yang terbilang imut. Dengan gambar komikal wajah orang melirik, cukup bisa menggambarkan apa yang dimaksud dengan envy alias sifat iri hati. Sayang sekali warna hijau yang dipilih sebagai latar  kurang sedap dipandang mata. Bagaimanapun, sampul buku ini kurang menggambarkan apa yang akan tertulis di dalam bukunya.

Harus diakui memang konsep tujuh dosa besar banyak dipakai dalam agama Kristen, namun di dalam prolog, penulis langsung membantah bahwa asal mula konsep ini berasal dari Bibel. Konsep tujuh dosa besar pertama kali diformulasikan oleh Gregory Agung pada abad ke-6. Di sini penulis lebih menekankan konsep tujuh dosa besar sebagai filsafat universal yang pasti dimiliki semua manusia daripada konsep agama tertentu. Lebih jauh, penulis banyak melengkapi esainya mengenai rasa iri hati (sebagai salah satu dosa besar) dengan pendapat-pendapat filsuf kontemporer seperti Nietszche, Kant, Schopenhauer hingga filsuf Yunani klasik.

Dengan membagi buku dalam 14 bab inti, buku ini berpotensi menimbulkan prasangka membosankan bahkan mengerikan dari pembacanya. Prasangka itu bisa sedikit terkurangi dengan melihat jumlah halaman yang hanya terdiri dari total 140 halaman. Lalu prasangka buruk terkikis habis dengan gaya penulisan yang ringan, mengangkat permasalahan sehari-hari sebagai bahan kajian, buku ini cukup mengalir untuk dibaca mengingat isi yang disampaikan bukan narasi fiksi namun kumpulan esai. Bahasa yang digunakan penulis (bahasa Inggris) juga tidak terlalu “filsafat” atau penuh metafora yang membingungkan, justru penulis menggunakan diksi kata dan struktur kalimat yang mudah dipahami.

Pada bab pertama, rasa iri hati diuraikan sebagai konsep yang berbeda dengan rasa cemburu. Karena merupakan bab yang memulai inti buku ini, penulis mengajak pembaca berdiskusi, apa sebenarnya rasa iri itu? Apakah iri itu emosi, perasaan, dosa, kecenderungan mental atau bahkan suatu pandangan hidup? Definisi rasa iri hati dijelaskan di sini. Definisi dipaparkan dengan berbagai acuan sitasi, mulai dari  penjelasan filsuf terkenal hingga dari kamus Bahasa Inggris terbitan Oxford.

Kamus bahasa Inggris Oxford memberikan definisi yang lebih baik: iri didefinisikan sebagai “keganasan perasaan tidak bersahabat; niat jahat, dengki, persetereuan,” dan juga sebagai “kejahatan aktif, merusak, kenakalan,”

  Tapi letak kejeniusan penulis sebenarnya terletak pada cara menjelaskan definisi iri itu sendiri. Penulis langsung memberikan contoh percakapan sehari-hari yang menggunakan kata iri.

 “Aku iri padamu yang bisa liburan dua bulan di Perancis selatan,”

Pada akhir bab ini, tidak ada kesimpulan yang diberikan mengenai perbedaan  iri hati dengan cemburu. Pembaca harus menyimpulkan sendiri setelah membaca paparan yang diberikan.

Pada bab-bab selanjutnya, penulis semakin intensif mengajak pembacanya berdiskusi. Apakah rasa iri hati itu sifat alami manusia? Apakah rasa iri itu bisa membawa kebaikan? Penulis memberikan jawaban implisit pada dua bab. Pada bab yang berjudul  “Our Good Friends, the Jews”, esai yang disajikan cukup satir dan menyindir. Teman baik iri adalah bangsa Yahudi. Semua bangsa di dunia ini iri dengan pencapaian intelektual bangsa Yahudi, benar bukan?

Iri bisa menjadi racun jika mencapai kadar intensitas tertentu…

Under Capitalism Man Envies Man; Under Socialism,Vice Versa adalah bab yang berisi esai tentang keterkaitan iri dengan dua ideologi ekonomi. Iri bisa menjadi bahan baku untuk mendorong ekonomi namun juga bisa menjadi produknya. Rasa iri pada seseorang bisa mendorong dia untuk berusaha dan bekerja lebih keras, sehingga ekonomi berjalan. Hal tersebut adalah tesis yang selalu diajukan kaum kapitalis. Namun bagaimana jika rasa iri tersebut terlalu besar bahkan bisa bermetamorfosis menjadi kerakusan yang tidak sehat?

Jika pembahasan-pembahasan itu terasa berat, ada ilustrasi lucu di beberapa bab yang bisa mengurangi kepenatan membaca.

Ilustrasi

Akhirnya,  kembali ke disiplin moral pribadi individu dalam mengatur rasa iri. Buku ini memang tidak menawarkan petunjuk praktis dalam manajemen rasa iri hati. Namun dengan tebal 140 halaman total, tersedia dalam e-bbok juga, buku ini layak baca guna menambah wawasan mengenai iri hati. Bila anda merasa kurang dan masih haus akan filsafat iri hati, penulis melengkapi bukunya dengan bibliografi yang bisa menjadi rujukan untuk bacaan lebih lanjut.

Nilai 4/5