Catatan Minggu Ini

Agak jengah juga setiap hari dibombardir bom berita seputar liputan Sukhoi yang sudah jadi puing dan pencekalan konser Lady Gaga. Seolah tidak ada berita lain yang menarik untuk diangkat. Padahal setidaknya ada berita yang lebih menarik dan positif. Pertama, tanggal 17 Mei kemarin adalah hari perpustakaan atau hari buku nasional. Kedua, Minggu dini hari nanti waktu Indonesia, akan berlangsung pertandingan final Liga Champions, antara Bayern Munich kontra Chelsea.

Lucu sekali ketika “perwakilan” barat hanya mengutus seorang Lady Gaga untuk memecah belah kesatuan negara kita. Hanya karena Lady Gaga bangsa kita rela saling memojokkan satu sama lain, bahkan menghina satu golongan agama tertentu. Bayangkan jika yang dikirim adalah agen CIA atau M16 yang terkenal, yang bisa hadir di Indonesia tanpa di-booming-kan oleh media, jangan-jangan negara kita sudah “menyembah” pada orang asing? Who knows…

Mau konser Lady Gaga diadakan juga yang untung adalah orang asing. Okelah pihak penyelenggara ada yang orang Indonesia, tapi berapa keuntungannya dibandingkan Lady Gaga dan manajemennya sendiri? Maka absurd sekali pemberitaan media yang mengangkat isu “pembunuhan kebebasan berekspresi lewat seni” padahal ini cuma urusan bisnis? Oh my God.

Bagaimana dengan Sukhoi? Oi, ingat, kecelakaan pesawat di Indonesia itu sudah sering. Tak usahlah didramatisir, apalagi dikomersialkan lewat media bernama berita. Padahal liputan yang diangkat juga itu-itu saja berulang, bahkan di beberapa stasiun tv ada yang membahasnya dengan tertawa-tawa? Oi, ini tragedi bung! Berempatilah dan jadikan pelajaran, bukan dijadikan bahan candaan.

Maka ada masalah serius dengan bangsa ini. Dimana budaya “bergosip” ternyata lebih disukai, bahkan untuk isi berita pun lebih cocok untuk bahan gosip masyarakat Indonesia daripada berisi informasi yang mencerdaskan kehidupan bangsa. Masyarakat lebih menyukai berita yang tersaji ringan, melihatnya kemudian membicarakannya sekilas lalu berlalu begitu saja tanpa ada niat untuk menjadikannya bahan pelajaran untuk bekal di masa depan? Kapan mau maju jika tak pernah belajar dari pengalaman. Yang ada malah terjatuh di lubang yang sama.

Maka dengan momentum hari Kepustakaan Nasional( yang terlupakan) ini saya mengajak pembaca untuk banyak membaca, menyiapkan diri dalam rangkan 14 tahun reformasi, di tengah gejolak bangsa yang bukan hanya pemerintahnya yang mudah diintervensi pihak asing, namun juga ternyata masyarakatnya. Miris.