AKTUALISASI NASIONALISME : MEMBUDAYAKAN MEMBACA, BERDISKUSI DAN MENULIS

Ketika orang menyodorkan pertanyaan, “Apa yang sudah kamu lakukan untuk negaramu?”, kebanyakan orang, juga mahasiswa akan tergagap dalam menjawabnya. Kecenderungan berpikir akan menggiring orang untuk menyajikan suatu jasa yang besar, layaknya jasa-jasa mulia para pahlawan mengusir penjajah. Pada akhirnya, mahasiswa akan terjebak dalam perasaan bahwa melakukan sesuatu untuk negara adalah sesuatu hal yang harus fenomenal dan berdampak luas. Pemikiran seperti itu akan menghambat karena dalam melakukan perubahan besar pun, satu langkah kecil adalah permulaannya.

Leo Tolstoy, seorang sastrawan besar, pernah menulis novel terkenal. Judul novel itu klise dan membayangi pikiran idealis, “What then must we do?”. Jadi, Apa yang harus kita lakukan? Sebagai mahasiswa dengan empat fungsi alami yang melekat padanya harusnya bisa menjadi garda terdepan dalam aktualisasi nasionalisme. Ironisnya, pembentukan karakter mahasiswa yang penuh semangat nasionalisme terhambat oleh kejahatan intelektual yang dilakukan oleh mahasiswa itu sendiri. Mahasiwa semakin jarang membaca, berdiskusi dan menulis. Padahal seharusnya ketiga kegiatan itu lumrah dilakukan oleh mahasiswa.

Jangankan membaca surat kabar, majalah atau karya sastra, membaca buku teks kuliah sendiri saja malas. Mahasiswa suka yang lebih praktis, slide presentasi yang diberikan dosen. Tentu hal tersebut seharusnya tidak cukup. Kalau hanya mengandalkan pemberian dosen, secara langsung mahasiswa mengokohkan budaya doktrinasi satu sudut pandang yang mengugurkan semangat kritis. Hal tersebut tidak akan terjadi kalau mahasiswa rajin membaca. Dengan membaca akan banyak hal baru, khazanah keilmuan yang menjadi landasan berpikir untuk merumuskan ide kita sendiri.

Maka mahasiswa harus ingat, pergerakan nasional Indonesia muncul setelah diterbitkannya buku berjudul Max Havelaar. Buku itu dibaca oleh intelektual Belanda yang berpihak pada nasib bangsa Indonesia dan tentu buku tersebut juga dibaca oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional kita yang kala itu kebanyakan masih berstatus mahasiswa. Dari situ semangat pergerakan dididik yang kelak melahirkan organisasi massa bercirikan nasional nusantara dan menjadi penanda kebangkitan nasional Indonesia.

Informasi yang masuk ke alam pikiran melalui membaca akan melahirkan ide-ide yang belum sempurna. Diskusi adalah jalan untuk menguji ide-ide tersebut. Dengan berdiskusi akan terjadi pertukaran ide yang bisa jadi menjadi antitesis dari ide yang sudah dimiliki. Hegel, filsuf terkenal dari Jerman, menunjukkan bahwa setelah pertukaran ide tersebut akan terjadi sintesis ide. Sintesis ide itulah yang mendekati sebuah gagasan yang matang untuk dituangkan. Semakin banyak diskusi dilakukan, semakin teruji ide yang disampaikan.

Sekali lagi ironisnya kecenderungan menyampaikan gagasan orang Indonesia, termasuk mahasiswa,  masih rendah. Dalam kuliah di dalam kelas pun, keberanian untuk bertanya atau menyampaikan gagasan yang berbeda dari dosen juga sangat kecil. Padahal Undang-Undang Dasar 1945 sudah menjamin kebebasan berpendapat dan mengeluarkan gagasan. Dari sejarah pun sudah terdapat contoh. Bukan hanya sekali Soekarno dan Hatta terlibat dalam diskusi bahkan menjurus ke perdebatan mengenai ide-ide kebangsaan nasional Indonesia. Lewat media massa masing-masing, baik Soekarno dan Hatta saling menanggapi atas gagasan yang dimunculkan. Pelajaran yang bisa dipetik adalah, bukan hanya kematangan ide Soekarno dan Hatta yang teruji namun juga khalayak ramai yang membaca tulisan berbalas itu juga menjadi terdidik. Wawasan kebangsaan mereka menjadi bertambah. Tidak hanya itu, dengan berdiskusi juga akan melatih kemampuan berdiplomasi. Tanpa kemampuan diplomasi yang baik, mustahil bagi Soekarno, Hatta, Syahrir, Adam Malik dkk untuk meyakinkan dunia internasional bahwa negara Indonesia adalah negara yang siap untuk berdaulat penuh.

Ide yang telah dimatangkan lewat diskusi harus dituliskan. Ikatlah ilmu denga menuliskannya, begitu kata pepatah. Dengan menulis ide akan terekam dan memudahkan dalam koreksi serta penyebarluasan ide tersebut. Penyebarluasan ide berarti juga berbagi ilmu. Semakin besar ilmu itu tersebar semakin besar pula potensinya untuk bermanfaat. Jika ide tersebut mengajak ke perubahan yang baik, bukankah itu sudah menjadi aktualisasi nasionalisme yang nyata?

Sekali lagi sejarah sudah memberi contoh. Soekarno menulis, begitu juga denga Hatta, Syahrir, Tan Malaka, Natsir dan masih banyak tokoh besar lainnya. Menulis adalah salah satu aktualisasi diri paling nyata. Oleh karena itu, aktualisasi nasionalisme para tokoh itu bisa terlihat dari karya tulis mereka. Bahkan, dari masa lampau, seorang Mpu Sedah, Mpu Panuluh dan Mpu Tantular juga menulis mengenai kerajaan tanah airnya. Suatu bentuk nasionalisme nyata dari masa lalu. Maka hikmah besar dari menulis adalah tulisan itu menjadi sumber ide, yang bisa jadi tak lekang digerus zaman.

RELEVANSI

Kembali ke persoalan aktualisasi nasionalisme di kalangan mahasiswa. Apa yang bisa kita berikan untuk negara? Maka jawaban yang paling pas adalah berani memulai perubahan. Segera bertindak dan laksanakan. Jangan hanya lagi terjebak pada retorika semu bahwa memberikan sesuatu untuk negara harus yang bernilai besar dan fenomenal. Jangan pulan terjebak pada romantisme simbol-simbol nasionalisme, bahwa nasionalis itu berarti menang olimpiade internasional, pakai batik, upacara bendera, atau memperingati hari-hari penting nasional dengan pawai dan festival. Kalau nasionalisme hanya simbol-simbol, betapa buram kaca sejarah yang dijadikan refleksi. Ujung-ujungnya adalah tidak melakukan apapun karena terdapat segala keterbatasan selaku mahasiswa. Tidak melakukan apapun berarti hal yang terburuk.

Padahal nasionalisme adalah ide, konsep, atau gagasan. Tak seharusnya hal tersebut dirayakan pada hari-hari tertentu. Apalagi dengan segala simbol-simbol congkak seolah pada hari yang ditentukan seluruh bangsa Indonesia menjadi bangsa paling nasionalis sedunia dengan segala macam simbol-simbol negaranya. Nasionalisme itu juga berarti sikap. Sikap yang ditunjukkan lewat perilaku keseharian. Nasionalis bukan berarti mem-beo, mendukung setiap ucapan tokoh besar negara yang nasionalis. Nasionalis bisa berarti kritis ketika berhadapan dengan wacana dalam masyarakat. Jangan sampai menjadi seorang nasionalis buta, hanya marah ketika simbol-simbol negara diinjak, namun apatis menghadapi problematika kehidupan sekitarnya

Dan pertanyaan Tolstoy kembali mengingatkan, jadi, apa yang harus kita lakukan? Sebagai mahasiswa ada banyak hal yang bisa dilakukan. Salah satunya adalah menghentikan kejahatan intelektual yang semakin membesar. Jarang membaca, jarang berdiskusi dan jarang menulis adalah kejahatan. Disebut kejahatan karena tak semua penduduk Indonesia bisa merasakan hak belajar di perguruan tinggi, yang berarti tak mendapat kesempatan untuk lebih banyak membaca, berdiskusi dan menulis. Padahal anggaran negara sudah disisihkan sedemikian besar untuk pendidikan. Jika hal tersebut tidak digunakan untuk hal yang bermanfaat, bukankah itu adalah penyelewengan dana negara?

Sekali lagi dan lagi, bacalah, diskusikan dan buat tulisan! Meskipun akan tidak semudah mengatakannya, kapan lagi budaya intelektual tersebut bisa dimulai kalau bukan sejak menjadi mahasiswa. Dan aktivitas membaca, berdiskusi dan menulis memang bukan hal besar, namun jika sudah menjadi budaya mahasiswa, bukan tak mungkin akan terlahir cendekiawan yang memimpin kebangkitan nasional pada era ini menuju Indonesia yang lebih baik.

 

Tulisan ini sebenarnya saya buat untuk Kompas menjelang peringatan Hari Kebangkitan Nasional, namun karena tidak dimuat😦 akhirnya saya terbitkan sendiri. Hehe