Ironi RCTI

Saya tak banyak menghabiskan menonton televisi empat tahunan ini. Baru kemarin saya tersadar ketika melihat daftar acara salah satu stasiun televisi swasta, bahwa selain mempunyai dua channel televisi swasta yang mengkhususkan pada berita, kita punya stasiun televisi yang mengkhususkan acaranya pada selebritis dan derivasinya. Ah sebut saja, stasiun tv itu RCTI.

3 jam berita tokoh sok penting se-Indonesia alias acara gosip selebritis

2,5 jam acara musik hura-hura+diselingi gosip dan lawak

4 jam shitnetron dengan tema sama, bertengkar + konspirasi rumah tangga

Total 9,5 jam acara untuk selebritis. Artinya lebih dari sepertiga waktu tayang televisi dalam sehari digunakan untuk acara berbau selebritis.Dan itu ditayangkan pada waktu prime time.

Bagaimana dengan acara yang bersifat edukasi?

0.5 jam ceramah agama

2.5 jam berita

cuma 3 jam atau cuma seperdelapan dari jam tayang sehari.

Dan kebanyakan acara tersebut konstan tayang selama seminggu. Betapa luar biasanya tontonan kita!

Menarik bukan? Sementara itu bos-nya koar-koar tiap hari dengan kendaraan politik barunya, partai Nasdem, mengajak pemirsa RCTI (MNC dan Global juga) agar melakukan perubahan demi kebaikan bangsa. Lha, institusinya sendiri saja belum menyajikan acara bermutu. Perbaiki dulu diri sendiri dan lingkungan kerja, atau ikut partai sekedar cari kekuasaan demi mengamankan sumber kekayaan? Kapitalis itu bung!

Hary Tanoe

Saya sebagai mantan pemirsa tetap RCTI, prihatin. Berharap ada perubahan (seperti koar-koar bosnya) yang baik yang bisa membawa manfaat bagi bangsa. Jika bisa melakukan itu, tak usah ikut partai pun saya yakin yang bersangkutan akan mendapat apresiasi khusus dari masyarakat.