Catatan Awal Bulan

Entahlah, kenapa masyarakat ini begitu suka ngomong. Tak ada masalah sih kalau yang diomongkan bermanfaat. Lha ini masalahnya yang diomongkan adalah kabar burung, fitnah dan  gosip. Digosok makin sip. Parahnya lagi mudah sekali masyarakat ini termakan provokasi. Hanya karena dibilang bahwa negara tetangga mengklaim tarian di salah satu daerah Indonesia, masyarakat langsung ribut. Simbol-simbol nasionalisme langsung dikumandangkan seolah-olah kalau kita tidak menyatakan perang pada negara tetangga yang brengsek itu kita adalah negara pengecut.

Kemudian pentas Euro 2012 semakin memanas dan menapaki babak akhir.  Masyarakat beralih lagi. Kali ini Balotelli jadi bahan pembicaraan. Mulai seputar bagaimana asal-usulnya hingga bisa masuk ke timnas Italia yang selalu didominasi kulit putih hingga selebrasi gol-nya yang dipandang sok cool. Ada pula isu abS atau asal bukan Spanyol. Bosan dengan Spanyol yang menguasai sepakbola dunia dalam 5 tahun terakhir, baik berupa duel panas El Classico Real Madrid vs Barcelona maupun kedigdayaan tim nasionalnya yang menjadi juara di Euro 2008, Piala Dunia 2010 dan kini masuk final Euro 2012.

Sah-sah saja sih tapi ada yang lucu juga saat suporter anti Spanyol tersebut mencoba menggiring opini publik dengan politik devide et impera. Yah, suporter anti Spanyol itu mulai menyebut rivalitas tidak sehat di dalam timnas Spanyol terutama antara pemain Madrid dan pemain Barcelona. Bahkan membanding-bandingkan dengan kurang ajar bahwa pemain Barcelona tukang tipu, pahwalan Spanyol sejati adalah pemain Madrid. Ada juga yang nyentil permainan Spanyol yang suka muter-muter tapi sulit mencetak gol. Jelas komentar yang aneh mengingat pemain-pemain Spanyol, baik dari Madrid, Barca dan klub lainnya justru bersatu padu berjuang agar Spanyol juara. Dan dengan permainan yang muter-muter, bukankah Spanyol justru masuk ke final menyingkirkan kontestan yang lain? Di lain sisi Italia didiskkreditkan melalui kartun-kartun rasis terhadap Balotelli. Namun Italia justru mendapat banyak dukungan karena dianggap timnas yang from zero to hero. Tak terlalu diunggulkan namun justru melenggang dengan meyakinkan ke final. Didera kasus calciopoli justru Italia hendak kembali mengukir sejarah lagi.

Di balik semua itu ada pembelajaran yang harus ditarik oleh bangsa kita, negara kita. Bukan hanya PSSI dan timnas sepakbola saja, tapi seluruh elemen negara ini. Apa itu?

Bahwa Euro 2012 berlangsung di tengah keprihatinan krisis ekonomi yang melanda Uni Eropa. Patut kita contoh bahwa Polandia dan Ukraina, sebagai tuan rumah, tetap melaksanakan tugasnya dengan baik, menjalankan Euro 2012 dengan meriah sampai akhir. Bahwa Yunani, Spanyol, Italia, Portugal adalah negeri-negeri yang mengalami krisis paling parah. Yunani sudah chaos, mirip dengan Indonesia di tahun 1998. Di awal bahkan PSSI-nya Yunani kelabakan cari sponsor untuk pendanaan tim selama berlaga di Euro dan sempat terancam tidak berangkat.  Bank-bank di Spanyol sudah mulai merger menghindari kerugian kebangkrutan lebih banyak. Italia juga begitu, ditambah kasus calciopoli, sempat pula beredar bahwa Italia akan mengundurkan diri dari turnamen akbar ini.

Namun apa yang terjadi? Yunani lolos dari fase grup menyingkirkan Russia dan tuan rumah Polandia. Di perempat final, Yunani bahkan memperlihatkan semangat juang yang sangat tinggi melawan Jerman. Para pemain Yunani hendak menyampaikan pesan lewat sepakbolanya, ” Kami tidak kehilangan semangat meski harus menghadapi badai serangan Jerman.” Maka semoga perjuangan mereka benar-benar bisa menginspirasi bangsa Yunani untuk bisa keluar dari krisis. Spanyol dan Italia malah lebih hebat lagi, lolos ke final di tengah kesulitan ekonomi negaranya!

Pelajaran penting bagi sepakbola kita yang sangat melempem di kancah internasional. Banyak yang menyalahkan pemerintah khususnya karena konflik PSSI. Tapi apa sebenarnya yang bisa kita lakukan selain menyalahkan pemerintah dan PSSI? Saya pikir banyak sekali orang yang berpikir bisa merubah negara ini menjadi lebih baik (termasuk saya :D), namun berapa orang yang berpikir untuk memperbaiki dirinya sendiri terlebih dahulu? Langkah paling mudah seharusnya adalah memperbaiki diri sendiri, bukan malah memaksakan khalayak untuk berbenah. Ah ngomong emang gampang, realisasinya sulit.🙂

Seperti sepakbola, kuncinya adalah permainan individu dan kolektivitas. Tak mungkin ada kolektivitas yang baik tanpa permainan individu yang baik. Tak boleh juga hanya mengandalkan sosok tertentu saja dalam permainan. Seperti bangsa ini yang selalu mengatakan bahwa problem terbesar adalah kurang pemimpin yang jujur. Kalau ekonomi negara anjlok, semua tangan selalu menunjuk satu sosok untuk dipersalahkan, istilah kerennya: jadi kambing hitam. Sementara yang lain bersikap seolah jadi kambing putih. Ternyata kambing hitam yang ditunjuk pun tidak mau dikatakan kambing hitam, maunya juga bergabung dengan kambing putih, menunjuk sosok lain untuk jadi kambing hitam. Lalu kita bertanya, apakah kegagalan Belanda itu hanya karena van Martwijk yang salah strategi? Emboh…🙂

Jadi apa kabar PSSI? Bentar dong, besok mulai lagi. Sekarang saatnya bersatu padu yaitu menonton final Euro.

===

Lalu apa hubungannya dengan tarian yang diklaim oleh negara tetangga? Benang merahnya adalah kita mudah bersatu sekaligus mudah tercerai – berai. Saat pertandingan Euro, kita bersatu sebagai penonton televisi yang baik, yang hanya bisa menyaksikan sambil sesekali mikir (itupun kalau ingat), timnas garuda Indonesia kapan main lagi? Atau kita bersatu dengan sekuat tenaga, sebisa mungkin memakain hashtag “Tor-tor milik Indonesia”, kemudian menyebarkannya sehingga menjadi trending topic di dunia maya?

Ada satu pertanyaan yang mengganggu pikiran saya, lebih baik menyimpan barang di gudang hingga membusuk tak terpakai, atau memberikannya pada orang lain yang bisa memanfaatkannya?

Catatan ini saya buat menjelang pertandingan final Euro 2012. Spanyol akhirnya menang telak 4-0 atas Italia.