Perlukah “Bukti Ilmiah” untuk Dogma Agama?

Judulnya sengaja saya bikin pertanyaan biar terjadi diskusi, terutama diskusi dalam alam pikiran saya sendiri. Jujur, inspirasi datang dari hobi saya sendiri yang gemar akan bacaan agama dan sains. Lebih spesifik, inspirasi datang dari bahan bacaan saya mengenai teori evolusi. Entah kenapa, teori evolusi ini selalu hangat menjadi bahan debat dari tingkat sekolah hingga para “pakar”. Saya sendiri memang menikmati perdebatan itu, bahkan cukup sering terlibat di dalamnya. Dan saya cukup mengerti bahwa judul yang  saya berikan bisa menimbulkan kontroversi karena terminologi agama sendiri bisa mencakup banyak hal, bisa sejarah agama, hukum agama, konsep teologinya, penafsiran kitab sucinya dan lain-lain. Begitu pula jika kita membicarakan sains, ruang lingkupnya sangat luas. Maka, saya persempit bahasan, bahwa agama yang dibahas adalah agama Islam (agama saya sendiri :)), dogma yang saya ambil bukanlah seluruh konsep ke-Islam-an, namun yang saya anggap populer di dalam kajian-kajian Muslim, baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Saya mengawalinya dengan satu konsep sains, bahwa apa yang dikatakan ilmiah oleh ilmuwan berasal dari penelitian yang dilakukan dengan metode ilmiah kemudian hasilnya dilaporkan melalui laporan ilmiah (bisa berupa skripsi, jurnal, thesis, disertasi, buku dll), dan hasil laporan tersebut diterbitkan sehingga orang lain yang punya kompetensi terkait penelitian tersebut bisa mengujinya. Penelitian ilmiah sendiri dilakukan untuk menjawab hipotesis dan hipotesis disusun untuk membuktikan suatu teori. Terminologi teori yang sering dipakai dalam kehidupan sehari-hari sering berbeda maksud dengan istilah teori dalam dunia sains, misalnya dalam kalimat, “Ah, itu kan cuma teori, kenyataannya berbeda.” Sedangkan  teori dalam ranah sains adalah hipotesis yang sudah terbukti ilmiah dan digunakan untuk menerangkan fenomena yang terjadi di alam. Sebagai contoh adalah kisah terkenal mengenai apel dan gravitasi Newton. Gravitasi adalah teori yang oleh Newton digunakan untuk menerangkan sebab mengapa apel jatuh ke kepalanya. Lebih lanjut, teori gravitasi digunakan untuk menerangkan kenapa benda di bumi selalu jatuh ke bawah dan posisi serta pergerakan planet.

Sekarang kita beranjak ke konsep sains mengenai falsifikasi dan pembuktian terbalik. Falsifikasi adalah proses untuk mebuktikkan bahwa suatu pernyataan itu salah. Suatu hipotesis/teori harus bersifat falsifiabilitas. Kenapa harus bersifat falsifiabilitas? Supaya terjaga keobyektifan dari penelitian yang akan dilakukan untuk membuktikkan hipotesis tersebut. Keobyektifan penelitian bisa dikontrol dengan pembuktian terbalik dari penelitian yang mendukung terhadap pernyataan awal. Misalnya, seorang ilmuwan melakukan penelitian dan menemukan bahwa semua burung yang bersayap bisa terbang. Jika tidak dilakukan pembuktian terbalik, yang ada malah terus membenarkan-benarkan hasil penelitian ini, meski dilakukan oleh ilmuwan yang lain. Berbeda dengan jika dilakukan pembuktian terbalik oleh ilmuwan lain dengan hipotesis bahwa tidak semua burung bersayap bisa terbang. Jika tidak ditemukan burung yang tidak bisa terbang, maka hasilnya akan menguatkan penelitian pertama secara obyektif. Namun jika ternyata ditemukan satu burung saja yang tidak bisa terbang, maka klaim penelitian pertama gugur dan digantikan oleh hasil penelitian yang kedua. Dengan cara ini, selain keobyektifan terjaga, juga memastikan agar sains terus berkembang.

Nah, bagaimana dengan dogma agama, apakah bersedia difalsifikasi juga? Tuhan itu ada, negasinya adalah, Tuhan tidak ada. Bagaimana membuktikkan bahwa Tuhan itu ada atau bagaimana membuktikkan bahwa Tuhan itu tidak ada? Ada yang menganggap bahwa pernyataan Tuhan itu ada adalah pernyataan yang bisa difalsifikasi, namun ada juga yang menganggapnya tidak bisa. Saya yakin mayoritas dari kita (yang beragama Islam) akan mengatakan bahwa alam semesta dan isinya adalah bukti positif mengenai keberadaan Tuhan. Bagi anda yang berpikiran seperti itu, coba ganti kata Tuhan dengan alien. Alien itu ada. Alien-lah yang menciptakan alam semesta. Paham dengan logika saya?

Jika anda paham, anda akan menyangkal bahwa bukan alien yang menciptakan alam semesta, tapi Allah. Pertanyaannya, bagaimana anda tahu bahwa yang menciptakan alam semesta itu Allah? Dan bagaimana anda bisa membuktikkannya? Jika anda masih mengikuti logika berpikir saya, saya perkirakan anda akan menjawab, “Lho, di Al-Qur’an kan ada, di surat Al-An’am, ayat ke-101. Di situ Allah berfirman bahwa Allah pencipta langit dan bumi.” Di sinilah konsensus sains tidak “menerima” bukti berupa ayat-ayat dari kitab suci. Perlu bukti lagi yang tidak bias oleh kepercayaan atau keimanan. Sementara agama sangat tergantung pada apa yang tertulis pada kitab sucinya. Sebagai umat Islam, kita beriman bahwa isi dari Qur’an adalah kebenaran universal, namun bagaimana dengan umat agama yang lain? Saya jawab, belum tentu mereka percaya. Inilah perbedaan nyata antara sains dan agama. Sains diharapkan menghasilkan sesuatu yang “netral”, tidak akan bias hasil meski dikembangkan oleh ilmuwan dari berbagai agama ataupun yang tidak beragama sekalipun.

Kalau begitu, apakah kebenaran yang dihasilkan sains adalah kebenaran absolut? Saya jawab, sains atau laporan ilmiah bukanlah kebenaran absolut. Artinya, sains bisa salah! Lebih tepatnya bisa dibuktikkan salah! Bagaimana caranya? Tentu saja seperti yang saya terangkan di atas, bisa dengan pembuktian terbalik atau  menyusun teori ilmiah baru yang lebih komprehensif, yang tentunya juga disusun dalam koridor ilmiah.  Begitulah cara kerja sains sehingga dapat dipastikan sains selalu berkembang. Kata Newton, “Jika saya bisa melihat lebih jauh, itu karena saya berdiri di pundak para raksasa.” Maksudnya adalah, karya Newton didasarkan pada karya ilmiah yang sudah ada sebelumnya, entah itu “salah” ataupun “benar”.

Inilah yang patut ditekankan, bahwa kebenaran sains tidak bersifat absolut. Sangat berbeda dengan dogma agama yang absolut. Sejauh saya mengamati, pada poin inilah banyak saudara seiman saya yang tidak paham. Kebenaran sains dianggap kebenaran absolut sehingga ketika ada pertentangan antara dogma agama dengan sains, cenderung langsung membawa persoalan ke dunia hitam atau putih, benar atau salah, bahkan hingga Muslim atau kafir. Tentu kita tidak ingin mengulang tragedi Copernicus atau Galileo. Sikap yang paling bijak tentunya adalah tidak menempatkan sains setara dengan agama. Jadi ketika ada indikas pertentangan, kita bisa mengkaji lebih jauh, jangan-jangan hasil penelitiannya yang salah, atau penafsiran kita atas ayat kitab suci yang selama ini salah? Who knows?

Jadi kesimpulannya adalah…

 

belum saya simpulkan🙂, karena saya berniat meneruskan tulisan ini. Tunggu saja.