Diskusi di Dunia Nyata vs Diskusi di Dunia Maya

Saya lebih suka berdiskusi di dunia maya daripada dunia nyata. Saya merasa lebih banyak hambatan ketika berdiskusi di dunia nyata. Kenapa?

1. Lisan dan Tulisan

Karakter saya yang cenderung pendiam membuat saya kesulitan dalam berekspresi lewat suara. Ditambah lagi dengan trauma semasa sekolah, sering diejek karena sering kehabisan suara saat ngomong panjang, lebar dan tinggi. Akibatnya fatal, intonasi suara saya ga karuan dan sering cempreng, maka meledaklah tawa teman-teman. Padahal itu bukan kesalahan saya sepenuhnya, napas saya pendek-pendek pas terserang asma dan itu mempengaruhi olah vokal yang saya miliki.

Dan saya lebih menyukai tulisan sebagai sarana berekspresi. Berbeda dengan ekspresi lewat lisan yang cenderung menggiring orang untuk ngomong dulu baru mikir, tulisan mengajak saya untuk mikir dulu baru nulis. Jadi ekspresi yang saya sampaikan lebih terkontrol. Tapi ada kalanya juga saya ga sreg dengan kontrol yang berlebihan, misalnya dalam penulisan karya ilmiah😀.

Mungkin ini ada pengaruh dari kecenderungan belajar yang lebih menyukai pembelajaran bertipe visual daripada audio (saya juga bukan music freak). Tapi bagaimanapun, saya harus mempunyai dua keterampilan berbicara maupun menulis. Bagi saya, lisan dan tulisan adalah sarana yang saling melengkapi. Ada kalanya lisan harus berperan lebih banyak, misalnya saat pidato. Ada kalanya pula tulisan lebih banyak berperan, misalnya posting di blog ini :p. Tapi sering juga keterampilan keduanya dibutuhkan dalam waktu yang berdekatan, misalkan saat presentasi dalam seminar.

2. Profil Latar Belakang

Ketika diskusi dalam dunia nyata, status sosial anda sangat berperan penting untuk menentukan omongan anda bakal digubris atau tidak. Prasangka seringkali menutupi muatan yang justru hendak disampaikan. Bukankah kita sering mengalami, “Emang ente siapa berani berdebat dengan Profesor X?” atau “Masih bau kencur aja uda berani berbeda pendapat dengan sesepuh…” Saya pribadi mengakui memang pengalaman, pendidikan, dan latar belakang sosial lainnya sangat penting. Masalahnya di sini kita jadi mengambil prasangka terlebih dulu dan sering mengabaikan muatan yang disampaikan. Bagi yang Muslim, tentu ingat kisah Salman al Farisi, seseorang yang berani mengungkapkan pendapatnya meski waktu itu dia belum mendapat kedudukan sosial yang tinggi dalam komunitas Islam. Salman berani bertanya kepada Muhammad, apakah taktik perang yang disampaikannya itu firman Tuhan atau pendapatnya pribadi. Sebelum menjawab, sahabat yang lain sudah ketar-ketir karena Salman dengan enteng menanyakan hal seperti itu. Muhammad menjawab bahwa itu hanya pendapat pribadinya sebagai manusia. Setelah itu barulah Salman mengungkapkan usulannya yang kemudian terkenal dengan strategi perang parit alias khandaq.

Di sini terasa mengenai kebesaran hati Muhammad. Meski beliau adalah pemimpin komunitas yang tiap katanya selalu didengar dan (mungkin) selalu dituruti, namun Muhammad bersedia mendengar pendapat sahabatnya. Begitu pula dengan Salman, dengan berani dia mengutarakan usulnya. Bisakah kejadian seperti itu terjadi pada masa kini? Harusnya bisa, apalagi di negara Indonesia yang menjunjung tinggi demokrasi dan melindungi kebebasan berpendapat. Jadi apa masalahnya? Masalahnya ada pada saya yang terlalu sering mengalami pengabaian karena status sosial saya yang tidak cukup tinggi untuk didengarkan suaranya.🙂

3. Akses Referensi

A: “Kamu ngomong kayak gitu, buktinya mana Mas?”

B:” Saya lupa, tapi saya pernah membacanya di suatu buku.”

A: “Buku apa, jangan asal ngomong!”

B:” Lupa judulnya…”

Kalau percakapan itu terjadi di dunia nyata, A  cenderung mengesampingkan muatan yang hendak disampaikan si B dan lebih terpaku pada bukti. Saat kita diskusi langsung, memang akan sangat merepotkan jika kita ditanya bukti atau referensi. Tidak ada yang salah dengan menanyakan dasar kita berbicara suatu hal, namun akan sangat mengganggu bila hal tersebut justru menutupi esensi yang hendak disampaikan. Berbeda dengan dunia maya, referensi bisa lekas kita temukan dengan bantuan mesin pencari. Rekan diskusi kita pun bisa dengan mudah mengeceknya.

4. Fokus Diskusi

Saya banyak menghadiri berbagai macam diskusi diskusi di dunia nyata seperti seminar, FGD, bedah buku, majelis taklim, rapat, hingga ngobrol biasa di warung kopi. Tapi selalu ada kendala, kebanyakan diskusi berhenti karena keterbatasan waktu. Lainnya adalah keistiqomahan kehadiran “peserta” diskusi dan topik diskusi itu sendiri. Entah kenapa mudah sekali bergosip ketika diskusi di dunia nyata. Meski awalnya berdiskusi dengan asyik mengenai sepakbola, ujung-ujungnya kembali ngrasani orang ini, pemain itu dsb. Berbeda dengan dunia maya yang menyediakan banyak pilihan topik diskusi dengan peserta yang lebih “istiqomah”. Bahkan kita bisa berdiskusi dengan orang di ujung negara lain :p.

Akhirnya, diskusi di dunia nyata maupun maya pasti memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kelemahan terbesar yang saya rasakan ketika berdiskusi di dunia maya adalah feedback yang tidak sesegera seperti  saat  diskusi langsung tatap muka. Dan memang saya harus akui bahwa lingkaran pertemanan saya tidak terlalu besar. Tapi saya mendapatkan, meniru jargon Kaskus, “freedom of speech” lebih saya dapatkan di dunia maya daripada di dunia nyata.

NB: Anda yang membaca tulisan saya tidak harus setuju dengan argumen-argumen yang saya tulis di sini. Hal yang paling penting adalah selalu berdiskusi, jangan hanya bergosip :p.