Humaira, Ibunda Orang Beriman

Penulis :Kamran Pasha

Penerbit :Zaman
Tahun Terbit :2010

sampul

Mendengar nama Humaira, orang Islam pasti langsung merujuk ke Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Memang benar, buku ini bercerita tentang Aisyah, yang pipinya bersemu merah sehingga Muhammad memberikan julukan Humairah kepadanya.

Rasulullah berkata: “Dan kau akan menjadi Humairah-ku. Si Kecil dengan Wajah Bersemu Merah.”

Cerita ini ditulis seolah-olah dituturkan oleh Aisyah RA sendiri kepada keponakannya, Abdullah. Kisah bermula saat awal-awal masa kenabian Muhammad, masa-masa ketika pemeluk Islam masih ditindas oleh kafir Quraisy Mekkah. Di sini Aisyah masih digambarkan sebagai gadis kecil yang belum mengalami masa puber.

Suatu ketika, bersama ayahnya, Abu Bakar As Siddiq, Aisyah berjalan-jalan hingga mendekati Ka’bah. Di situ dia melihat Umar bin Khattab yang masih kafir menyiksa seorang Islam. Abu Bakar bermaksud melerai namun dia bukan tandingan Umar yang perkasa. Akhirnya Aisyah disuruh memanggil Hamzah oleh ayahnya. Perjalanan mencari Hamzah benar-benar siksaan lahir batin bagi Aisyah. Siksaan secara lahir karena Hamzah berada di tempat yang jauh untuk ditempuh anak gadis kecil sendirian. Siksaan secara batin karena dalam perjalanan Aisyah harus melihat adegan kekejaman siksaan orang kafir bernama Abu Jahal terhadap dua orang muslim.

Dan kisah berlanjut hingga kisah keberanian Aisyah yang menjadi “intel” alias bonek ketika mengintip pertemuan kaum kafir di Mekkah yang ternyata adalah pertemuan untuk menentukan algojo kematian Muhammad. Dari intipan itulah, Aisyah mulai mengenal sosok Hindun, wanita kejam yang kelak tega memakan jantung mayat Hamzah.

Peran Aisyah dalam Islam semakin besar ketika dia ditunjuk oleh Muhammad sendiri untuk menjadi pendamping hidupnya. Kebahagiaan dirasakan Aisyah, namun sifat cemburu terkadang mengalahkannya. Pasca kematian Khadijah, ternyata Muhammad mempraktikkan poligami, yang artinya, Aisyah harus berbagi kasih Muhammad dengan wanita lain. Dalam hal ini, penulis benar-benar mengupas sifat cemburu seorang wanita yang ternyata bisa ditekan oleh sifat lain, yaitu tanggung jawab. Aisyah memang tidak boleh menampakkan kecemburuan di luar rumah tangganya karena statusnya sebagai Ummul Mukminin atau ibunda umat Islam.

Tak hanya dari sisi Aisyah, peran wanita yang sangat menonjol pada masa permulaan Islam menjadi bahan cerita yang menarik. Terutama perang antara dualitas kebaikan dan keburukan, antara pribadi ummul mukminin dengan antagonis bernama Hindun. Diceritakan bahwa Hindun sangat “menguasai” pemimpin-pemimpin Quraisy sehingga dia dengan leluasa mengatur kebijakan politik Mekkah.

Ketika kemenangan Islam tiba dan umat Islam menaklukkan Mekkah, semua orang kafir diampuni termasuk Hindun. Di sanalah Hindun bertatap muka dengan Aisyah. Hindun mengucapkan sesuatu kepada Aisyah yang terasa seperti kutukan. Kutukan yang tampak menjadi kenyataan bagi Aisyah ketika huru-hara politik pasca kematian khalifah Usman mulai mengusik ketenangan hidupnya. Puncaknya ketika Aisyah harus melawan khalifah Ali RA karena suatu kesalahpahaman dan fitnah. Semua umat Islam tahu, tak ada yang menang dari perselisihan itu karena yang menang adalah pihak luar, yaitu Muawiyah.

Jelas sekali referensi utama penulis adalah hadis yang sudah umum diketahui oleh umat Islam. Namun deskripsi suasana dan pemilihan alur yang tepat menjadikan hadis-hadis itu menjadi kisah narasi yang enak dibaca. Hal ini didukung juga oleh kualitas terjemahan yang bagus. Suatu cara yang pas untuk melengkapi kisah sirah Nabi.

Novel ini wajib dibaca!
rate 4.5/5