Menelusuri Jejak Surat Raja Sriwijaya kepada Khalifah Umar bin Abdul Aziz

Saya mengetahui adanya dugaan korespondensi antara Raja Sriwijaya, Sri Indrawarman dengan Khalifah Umar dari artikel biografi mengenai Umar bin Abdul Aziz yang saya baca di wikipedia. Tercatat Raja Sriwijaya pernah dua kali mengirimkan surat kepada khalifah Bani Umayyah. Yang pertama dikirim kepada Muawiyah I, dan yang ke-2 kepada Umar bin Abdul-Aziz. Surat kedua didokumentasikan oleh Abd Rabbih (860940) dalam karyanya Al-Iqdul Farid.

Saya melakukan penelusuran di dunia maya dan berusaha mencari artikel terkait hal tersebut. Saya menemukan semacam artikel yang banyak di-copy-paste begitu saja, dari blog ke blog, dan salah satunya ada di Kompasiana. Dari artikel yang ada saya menemukan dua nama rujukan, yaitu S Fatimi, seorang sejarawan Malaysia yang menulis dan dikutip oleh Azyumardi Azra dalam bukunya Islam Nusantara. Azyumardi menyatakan bahwa ada dua buah surat yang kemungkinan besar ditulis oleh Raja Sriwijaya untuk Kalifah Arab. Karena tidak mendapatkan buku Islam Nusantara yang dimaksud, saya meneruskan penelusuran di dunia maya dan menemukan buku Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu yang ditulis oleh Ahmad Jelani Halimi.

Buku yang disebut terakhir memberikan beberapa pencerahan bagi saya mengenai surat sang Raja Sriwijaya. Dalam karya yang saya sebutkan sebelumnya yaitu buku  Al-Iqdul Farid disebutkan ada raja India (saya sendiri sudah membaca bagian tersebut) yang mengirim surat kepada Khalifah Umar. Berikut kutipan dari buku Al-Iqdul Farid,

Nuaym ibn Hammad said, “The king of India sent a letter to Umar ibn Abd al-Aziz, in which he said, ‘From the king of kings who is the son of a thousand kings and is married to the daughter of a thousand kings, in whose stables are a thousand elephants, who has two rivers that grow aloe-wood, aloes, coconuts, and camphor, whose scent is perceptible at a distance of twelve miles – to the king of the Arabs who does not attribute partners to God. After this exordium, I am sending you a gift that is not a gift but a greeting. I would like you to send me a man who would teach me Islam and explain it to me. And peace be to you.’ By gift, he meant the letter.

Dari buku edisi terjemahan bahasa Inggris tersebut hanya disebutkan Raja India, tidak spesifik menyebut nama Sriwijaya atau nama Sri Indrawarman. Namun Ahmad Jaelani dengan mengutip SQ Fatimi menafsirkan bahwa raja India yang dimaksud adalah Sri Indrawarman sang raja Sriwijaya. Dalam buku yang sama, mengutip MD Mansoer (1970:45), surat yang dimaksud sekarang masih tersimpan dengan baik di Museum Madrid di Spanyol.

Saya mencoba mencari Museum yang dimaksud melalui internet. Namun karena kesulitan dalam bahasa dan lain-lain, saya belum bisa memastikan surat yang dimaksud, apakah benar masih disimpan di sana. Hal yang lebih penting lagi adalah, apakah benar surat tersebut berasal dari Raja Sriwijaya? Saya berharap Allah SWT memberi kesempatan untuk berkunjung ke Museum tersebut (sekalian jalan-jalan :)) dan memastikan isi surat tersebut (itupun kalau saya bisa baca  aksaranya :p).

Dari sini, saya mengambil kesimpulan, dengan melihat timeline sejarah Bani Umayyah dan Sriwijaya memang ada kecocokan waktu. Terlebih lagi dari catatan yang lain, salah satunya catatan Itsing dan Ibn Batutah banyak diketahui catatan mengenai aktivitas perdagangan antar “negara” di masa lampau di perairan Sumatra-Melayu. Sayangnya saya cenderung menahan diri untuk tidak terlalu cepat mengambil kesimpulan bahwa surat tersebut berasal dari Sriwijaya. Hal ini mengingat bahwa salah satu sumber utama mengatakan bahwa surat berasal dari Raja India, yang berarti tidak menutup kemungkinan adalah Raja India di Hindustan sendiri.

Rujukan

http://id.wikipedia.org/wiki/Umar_bin_Abdul-Aziz

Al Iqdul Al Farid halaman 60

http://sejarah.kompasiana.com/2011/09/13/surat-raja-sriwijaya-untuk-kalifah/

Sejarah dan Tamadun Bangsa Melayu