“Adam” dan “Hawa” dalam Teori Evolusi

Adam, secara umum dalam masyarakat yang menganut agama-agama samawi, selalu dianggap sebagai manusia pertama yang ada di dunia ini. Namun jika anda mau membuka telinga anda lebar-lebar, di luar agama samawi, nama untuk manusia pertama sangat bervariasi. Rekan kita Hindu percaya bahwa manusia pertama bernama Manu (akhirnya kata ini diserap dalam bahasa Indonesia menjadi manusia). Orang-orang di Jepang percaya bahwa manusia pertama bernama Izanami. Dan masih banyak sebutan lain untuk merujuk pada manusia pertama. Saya juga pernah membaca, bahwa penyebutan Adam juga ada di kalangan bangsa Persia kuno.

Pembahasan mengenai manusia pertama memang sangat berkaitan dengan sains, terutama antropologi dan biologi. Dalam dunia sains sendiri, sebenarnya tidak terlalu penting siapa nama manusia pertama. Bahkan sains cenderung menghindari hal itu karena akan sulit sekali memastikan siapa nama dari tengkorak yang ditemukan. Sains, melalui teori evolusi, hanya berusaha menerangkan, kapan populasi manusia modern pertama kali muncul dan dimana lokasinya. Sayangnya, hal ini seringkali disalahpahami sebagai upaya “membantah” isi kitab suci, terutama Bibel.

Justru teori evolusi telah membantu menyediakan bukti kronologis dan genetik yang mengindikasikan bahwa manusia modern sekarang berasal dari keturunan kakek-nenek moyang yg sama.  Menurut informasi yang diterjemahkan dari DNA kita manusia, setiap orang yang hidup saat ini merupakan keturunan dari ibu yang sama (mungkin anda lebih suka menyebutnya Hawa:D). Kita semua menerima mitokondria dari ibu kita. Anda tahu kan organel sel bernama mitokondria? :D Hanya sel telur dari ibu kita yang memberi keturunannya DNA mitokondria, sel sperma tidak.

Karena mitokondria diberikan melalui ibu, dapat ditelusuri semua urutan DNA mitokondria yang ada di dalam manusia modern dunia ini berasal dari satu perempuan tunggal (kita mungkin terbiasa menyebutnya Ibu Hawa :D). Para ilmuwan memberi nama Hawa mitokondria (bukan nama orangnya lho :D) ini sebagai nenek moyang seluruh mitokondria yang ada di seluruh manusia modern saat ini.

Para ahli menemukan bahwa wanita pemilik Hawa mitokondria ini hidup sekitar 200.000-150.000 tahun yang lalu.

Sekarang mari kita beralih ke kromosom Y, kromosom yang menentukan jenis kelamin manusia. Kaum pria memberikan sebagian kromosom Y kepada anak-anak laki-lakinya dengan cara yang sama seperti wanita memberikan DNA mitokondria kepada anak-anak mereka, lengkap dan murni. Jika seorang pria tidak punya anak laki-laki, kromosom Y-nya berakhir di dirinya sendiri dan mati ketika pria itu meninggal. Ini berarti bahwa proses pemberian serupa yang mencirikan garis-garis keturunan mitokondria berlaku pada kromosom Y. Tiga milyar kromosom Y yang ada sekarang ini berasal dari seorang pria yang hidup di masa lalu (kita mungkin terbiasa menyebutnya Bapak Adam :D). Para ahli pun menamai kromosom Y milik pria ini dengan nama Adam kromosom Y (sekali lagi bukan nama orangnya lho :D).

Satu penelitian menjelaskan bahwa pria pemilik Adam kromosom Y hidup sezaman dengan wanita pemilik Hawa mitokondria (hoho penganut agama Samawi pasti senang mendengar hal ini). Namun tidak menutup kemungkinan pria pemilik Adam kromosom Y hidup tidak sezaman dengan Hawa mitokondria, bahkan dikatakan Adam kromosom Y bisa jadi berusia lebih muda.

Orang mana pemilik kakek moyang kromosom Y dan nenek moyang mitokondria itu? Dari penelitian juga, setiap orang yang hidup saat ini merupakan keturunan dari sekelompok kecil orang Afrika yang hidup antara 100.000-200.000 tahun yg lalu. Selengkapnya anda bisa baca di Teori Out of Africa

 

Sumber : Olson, Steve.2006.Mapping Human History: Gen, Ras, dan Asal-Usul Manusia. hal:40-46. Penerbit Serambi Jakarta.