Selayang Pandang: NII, GAM, dan Aceh

Aceh sendiri sebetulnya adalah salah satu daerah yg terakhir ditaklukkan Belanda. Melalui studi kebudayaan yg dilakukan oleh Snouck Hurgronje, akhirnya diinisiasi sebuah pasukan Marsose, pasukan antar bangsa (berasal dari gabungan orang Jawa,Eropa, Manado dll). Akhirnya Belanda berhasil menaklukkan Aceh di awal tahun 1900an.

Sejarah Aceh sendiri tak lepas dari Islam. Bahkan Aceh sendiri adalah negara vassal. Semacam negara yg tunduk pada kekhalifahan Turki Ottoman. Dan sejarah Islam di Aceh sudah sangat mengakar, dari Samudra Pasai hingga Kerajaan Aceh. Artinya 40tahunan sebelum proklamasi kemerdekaan RI, Aceh sendiri masih sebuah “negara” sendiri yg berdaulat.

Menjelang proklamasi kemerdekaan, ulama Aceh, termasuk Daud Beureuh sepakat untuk menggabungkan diri dengan NKRI dengan syarat Aceh diberi kebebasan untuk menjalankan pemerintahan dengan hukum syariat Islam.

Foto Daud Beureuh

Soekarno dkk sepakat. Saat menyusun piagam Jakarta dan UUD 45, Soekarno yg paling getol mempertahankan kalimat, “…menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya…”. Namun apa lacur, kalimat itu akhirnya terhapus melalui perundingan 18 Agustus.

Aceh masih bertahan. Namun guncangan kembali terjadi. Pemerintah pusat menjadikan daerah Aceh satu provinsi dengan Sumatra Utara. Artinya, tak ada keleluasaan menerapkan syariat Islam. Padahal kebebasan menjalankan syariat Islam adalah harga mati bagi orang Aceh.

Padahal Aceh sudah memberikan bantuan dana besar untuk menjalankan pemerintahan pusat di Jawa. Termasuk membeli pesawat kepresidenan. Meletuslah pemberontakan NII Aceh dengan pimpinan Daud Beureuh.

Pemberontakan ini berhasil diredam, selain dengan operasi militer juga dengan janji diplomasi. Soekarno menjanjikan Aceh sebagai provinsi daerah istimewa. Aceh tenang sejenak.

Pemerintahan beralih ke Soeharto yg menerapkan kebijakan industrialisasi besar-besaran di Aceh. Mau tidak mau hal ini membawa dampak negatif industri yg cenderung sekuler dan sangat bertentangan dengan adat Islam masyarakat Aceh.

Terlebih lagi hasil pengerukan migas dan sda lain yg hanya digunakan untuk pembangunan di pusat. Sama sekali tak menyentuh kesejahteraan rakyat Aceh. Perlahan kondisi ini membuat ulama-ulama sepuh di Aceh berang dan berteriak pada umat untuk kembali mengangkat senjata. Lahirlah GAM, dan sebagai jawaban Pemerintahan Soeharto menjadikan Aceh sebagai daerah “istimewa”.

GAM memang teredam pada masa Soeharto karena sikap represif pemerintah yg memberlakukan tumpas habis bagi yg tidak menerapkan Pancasila ala Soeharto.

Aktivitas GAM naik lagi pasca reformasi, smpe pada pemerintahan Sukarnoputri, yg awalnya berteriak,” tak ada darah lagi di tanah rencong!”, niru kata bapaknya. Pada akhirnya malah memperburuk suasana dengan diterapkannya daerah operasi militer di Aceh.

Tak bisa dinafikan selama konflik itu memang banyak korban dari rakyat sipil. Pelanggaran HAM berat banyak dilakukan oleh kedua pihak, TNI dan GAM.

Hingga, Tuhan menginisiasi jalan damai melalui tsunami pada 2004. Damai mulai terbit dan Aceh menjadi Nangroe Aceh Darussalam…

Fyuh… koreksi yak jika ada yg salah..lupa-lupa ingat soalnya.Saya taruh di opini saja karena belum bisa menampilkan sumber sejarahnya.