Donna Donna

Pertama kali saya mengetahui lagu ini dari film Gie yang super bagus sekali. Saya terkesan dengan irama lagunya yang sangat  melankolis dan menyayat hati. Saya mencoba mendengarkan liriknya, ternyata sang penyanyi menggunakan pronunciation yang susah saya ikuti. Terpaksa saya cari liriknya di internet dan… Saya semakin terkesima dengan lagu ini.

Sekedar informasi, lagu ini adalah lagu pengiring teatrikal mengenai seekor anak lembu yang akan dijagal. Saya jadi ingin melihat teatrikalnya mengingat lirik lagu ini saja sudah membuat saya berfilosofi akan banyak hal🙂. Puitis sekali.

On a wagon bound for market
There’s a calf with a mournful eye.

Dua baris lirik yang sangat manis. Tidak bertele-tele dalam mengantarkan anda ke inti cerita. Ada seekor anak lembu di atas kereta di pasar, akan dijualkah? Kenapa matanya begitu terlihat marah? Siapa yang begitu memperhatikan hingga bisa melihat amarah di mata seekor lembu?

High above him there’s a swallow
Winging swiftly through the sky.

Dua baris yang menutup bait pertama lagu ini. Anda diajak untuk melihat kenyataan bahwa di atas lembu yang sedang marah itu terbang seekor burung layang-layang. Kontradiksi dengan keadaan lembu yang sepertinya terikat, si burung justru terbang seperti kilat di angkasa. Dua makhluk yang berbeda nasib.

How the winds are laughing
They laugh with all their might
Laugh and laugh the whole day through
And half the summer’s night.

Ternyata yang memperhatikan sejak tadi adalah alam, termasuk sang angin. Menyaksikan pemandangan yang penuh kontradiksi itu, antara perbudakan dan kebebasan. Tak ada simpati dari angin, mereka terus saja bertiup, seolah-olah menertawakan nasib si lembu.

Dona, dona, dona, dona,
Dona, dona, dona, do,
Dona, dona, dona, dona,
Dona, dona, dona, do.

Awalnya saya pikir ini hanyalah semacam chorus yang digunakan oleh alam, termasuk angin untuk mengejek si lembu. Seperti suara jangkrik di malam hari yang mengusik manusia yang terkena insomnia. Ternyata bukan, dari wikipedia, Dona atau Dana merujuk pada Adonai. Adonai adalah bahasa Yahudi untuk Tuhan. Setelah mengetahui hal tersebut saya bingung, siapa yang menyebut asma Tuhan? Si lembu atau yang lain? Nampaknya tak jadi masalah siapa yang mengucapkannya. Bahkan bisa jadi mereka semua yang menyebut nama Tuhan sebagai bentuk protes, mengapa ada ketidakadilan di dunia ini?

“Stop complaining,” said the farmer,
“Who told you a calf to be?
Why don’t you have wings to fly with
Like the swallow so proud and free?”

Bait ini semakin membuat saya getir dan trenyuh. Antara marah dan ingin menangis. “Berhenti mengeluh!” kata si petani kepada anak lembu. “Terima saja takdirmu menjadi anak lembu!” Saya membayangkan amarah semakin memuncak di pikiran anak lembu. Amarah yang saya pikir bukan hanya ditujukan kepada si petani, tapi kepada Tuhan juga. Kenapa Tuhan tidak memberinya kebebasan ? Bahkan hanya mengeluh pun terlarang bagi si lembu.

Dua bait terakhir menjadi ungkapan iri si lembu kepada burung layang-layang yang bisa terbang bebas. Namun saya lebih suka mengartikannya sebagai pilihan hidup. “Kamu bisa saja punya sayap dan terbang bebas di langit seperti burung layang-layang, tapi kamu tidak memilihnya. Kamu lebih memilih berada di kandang milik petani. Setiap hari disediakan makan dan dilindungi dari binatang buas. Kamu tidak pernah bertanya kemana orang tuamu pergi karena kamu terlalu kenyang untuk berpikir. Sampai akhirnya kamu dibawa ke pasar dan kamu sadar bahwa ini akhir hidupmu.”

How the winds are laughing …

Suara angin berhembus menambah luka karena seperti tawa yang mengejek nasib si lembu. Tawa yang berarti, “Percuma mengeluh, sudah terlambat.”

Calves are easily bound and slaughtered
Never knowing the reason why.
But whoever treasures freedom,
Like the swallow has learned to fly.

Bait terakhir yang menyimpulkan segalanya. Lembu-lembu mudah diikat kemudian dijagal, tanpa pernah memikirkannya sebelumnya. Tak jarang mereka tak pernah tahu, mengapa harus mereka yang dijagal? Mengapa mereka yang harus menerima kekejaman nasib? Kami terlahir sebagai lembu, dipelihara layaknya lembu dan mengakhiri hidup juga sebagai lembu. Bagaimana mungkin lembu bisa belajar terbang jika tak ada pilihan untuk belajar dalam hidupnya?

Benarkah tak ada pilihan? Jangan-jangan mereka sendiri yang terlalu takut untuk mencoba bebas? Bukankah lembu punya kekuatan fisik untuk mendobrak kekangan manusia, kenapa tidak dicoba? Takut akan kebebasan ternyata berakibat fatal. Hanya mereka yang berani untuk terbang tanpa takut jatuh yang bisa melihat indahnya pemandangan dari angkasa.

Secara keseluruhan, lirik lagu Donna Donna membuat saya teringat mental manusia Indonesia akibat penjajahan. Lembu adalah metafor untuk mental manusia yang bisa menjangkit siapa saja. Penjajahan yang sangat lama membuat mental itu akhirnya berwujud menjadi manusia-manusia pengecut. Manusia-manusia yang terbiasa disuapi oleh penjajah. Manusia-manusia yang telah terdomestikasi oleh sistem yang tidak memberi mereka banyak pilihan. “Kamu kerjakan saja itu, tak usah mikir untuk apa kamu mengerjakannya, toh kamu digaji!”

Lembu itu sempat hidup enak. Penuh materi semasa hidupnya. Makan disediakan secara teratur. Dimandikan pula secara teratur. Dibuatkan kandang yang melindunginya dari terkaman macan. Sementara burung layang-layang harus cari makan sendiri dalam ketidakpastian. Setiap hari ancaman mengintai dari burung-burung pemangsa yang lebih besar. Hidup burung layang-layang penuh kemungkinan-kemungkinan, sementara hidup lembu adalah kepastian.

Hidup dalam boikot dan terusir ke Madinah daripada menyekutukan Allah kata Muhammad. Merdeka atau mati kata Bung Karno. Lebih baik hidup terasingkan daripada menyerah pada kemunafikan kata Soe Hok Gie.

Jadi mana yang anda pilih? Atau ada pilihan lain?