Standarisasi Kalender Hijriyah

Mumpung lagi hot tentang penentuan awal puasa, saya ikut sedekah pendapat saja. Tapi bukan pendapat tentang sebaiknya pakai metode yang mana. Saya lebih menekankan tinjauan pada kalender Hijriyah yang digunakan. Dengan kalender Hijriyah yang terstandarisasi, paling tidak bisa mengurangi perbedaan pendapat penentuan awal dan akhir puasa Ramadhan. Selain itu, kalender Hijriyah yang terstandarisasi juga akan menjadi pedoman yang lebih valid dalam penentuan waktu ibadah yang lain. Kalender Hijriyah yang bisa diterima semua golongan umat Islam di negeri ini adalah awal untuk membentuk persatuan di antara umat Islam.

Kalender Hijriyah adalah kalender yang disusun berdasar pergerakan bulan. Setiap bulan mempunyai kemungkinan berumur 29 atau 30 hari. Secara tradisional, hari pertama tiap bulan ditentukan dari terlihatnya hilal dengan mata telanjang tepat setelah matahari terbenam. Jika hilal tidak terlihat (karena mendung atau langit terlalu terang), maka umur bulan berjalan digenapkan menjadi 30 hari. Saksi yang melihat hilal haruslah orang Islam yang mempunyai pengetahuan atas itu dan bersedia disumpah oleh otoritas agama Islam.

Di Indonesia sendiri meskipun mayoritas penduduknya beragama Islam, secara resmi dan secara umum menggunakan kalender Masehi. Kalender Masehi sendiri berdasar pergerakan bumi mengitari pusat massa di sekitar matahari. Selain terbiasa menggunakan kalender Masehi, penentuan awal hari juga terpaku pada jam. Awal dan akhir hari pada kalender Masehi ditetapkan tepat jam 00.00 atau jam 24.00. Sedangkan pada kalender Hijriyah, awal dan akhir hari bertepatan dengan waktu sholat Maghrib atau saat matahari tenggelam. Dari sini bias hari dalam kalender Hijriyah mulai terjadi. Misalkan untuk tanggal 1 Ramadhan 1433 H ini, seperempat hari tanggal tersebut masuk Jumat tanggal 20 Juli 2012 dan sisanya masuk tanggal 21 Juli 2012. Sementara common sense , 1 Ramadhan sepenuhnya berada di hari Sabtu tanggal 21 Juli 2012. Inilah pangkal perbedaan itu. Muhammadiyah mengambil “1/4 hari” 1 Ramadhan di hari Jumat sebagai awal puasa. Sedangkan Pemerintah dan ormas lain mengambil “3/4 hari” sisa tanggal 1 Ramadhan yang berada di hari Sabtu sebagai awal puasa.

Kalau boleh saya bilang, penentuan waktu dalam kalender Hijriyah itu sangat relatif sedangkan kalender Masehi sudah “fix”. Relatif (bukan karena Einstein mengatakan adanya relativitas waktu :p) dalam artian penentuan umur hari mengikuti pergerakan semu matahari, sedangkan umur bulan dan tahun mengikuti pergerakan bulan. Umur hari ditentukan berdasar pergerakan semu matahari karena untuk menunjukkan waktu sholat wajib.  Umur bulan ditentukan berdasar penampakan bulan, dan menentukan waktu ibadah tahunan umat seperti haji, puasa Ramadhan (wajib), idul fitri dan idul adha.

Metode penentuan awal dan akhir bulan berdasar penampakan hilal memang sangat tidak praktis karena harus memastikan hilal terlihat atau tidak tiap bulannya. Maka dapat dipahami jika beberapa kalangan ulama, termasuk ulama Muhammadiyah menawarkan metode hisab yang berarti penentuan umur bulan berdasar perhitungan. Bahasa mudahnya adalah seperti kalender Masehi, diprediksi jauh-jauh hari (tentunya berdasar pertimbangan astronomi yang matang) kemudian, kalender dipastikan, di-fix-kan untuk jangka waktu tertentu. Metode hisab seperti ini mempunyai kegunaan yang sangat praktis yaitu waktu krusial seperti waktu awal puasa Ramadhan bisa diketahui jauh-jauh hari.

Pemerintah bisa menginisiasi perundingan dengan kalangan ulama dari berbagai golongan umat Islam untuk menentukan kriteria standarisasi kalender Hijriyah. Upaya yang bisa dilakukan jauh-jauh hari (tidak perlu sidang isbat menjelang Ramadhan lagi) adalah:

1. Penentuan lokasi melihat hilal yang harus disepakati bersama

2. Penentuan tim bersama untu melihat hilal

3. Metode hisab yang digunakan Muhammadiyah bisa dijadikan dasar penentuan kalender untuk beberapa tahun ke depan kemudian hasilnya disesuaikan dengan hasil observasi hilal

4. Frekuensi observasi hilal, apakah per bulan atau cukup pada bulan-bulan kritis yang terdapat hari melakukan ibadah wajib tahunan, ex: bulan Dzulhijah, Ramadhan

Saya pikir hal tersebut jika dilakukan akan mengurangi perbedaan ekstrim mengenai perbedaan waktu awal puasa. Semoga Allah SWT memberi petunjuk pada kita. amiin.