Malam yang Mencekam

Antara sadar dan tertidur, saya mendengarkan ledakan-ledakan disertai teriakan-teriakan manusia. Genderang ditabuh dan terdengar seperti arak-arakan pasukan yang siap maju ke medan tempur. Pikiran saya membantah, tak mungkin perang. Kemudian saya melihat handphone, masih jam setengah 1 dinihari. Pikiran saya menyimpulkan mungkin anak-anak yang melakukan patrol untuk membangunkan orang sahur itu sudah gila dan bertengkar satu sama lain hingga akhirnya tawuran.

Saya terus tertidur kemudian bangun tidak tenang karena suara gelegar terasa mendekat. Saya memeriksa jam lagi, masih setengah 2, terlalu dini untuk sahur. Herannya, suara-suara berisik menjauh ketika saya benar-benar sadar. Saya memutuskan untuk tidur lagi. Tidak bisa nyenyak karena kesal. Anak-anak itu terlalu dini melakukan patrol. Bukannya membantu orang-orang supaya terjaga di waktu sahur, mereka malah membuat keributan yang mengganggu ketenangan istirahat. Bisa jadi karena itu mereka yang tidak bisa tidur nyenyak, seperti saya, malah terlambat untuk bangun:/.

Akhirnya saya tertidur dan syukur terbangun sekitar jam setengah 3. Saya pikir inilah saat yang tepat untuk anak-anak itu membuat keributan supaya orang-orang terjaga. Sepi. Bocah-bocah patrol itu malah sudah tak tak terdengar. Mungkin sudah pulang ke rumah masing-masing untuk sahur.

Kekesalan sebenarnya sudah terbentuk saat pulang dari masjid ketika menyaksikan anak-anak, yang bahkan saya kenali masih belum sekolah, bermain petasan, di depan rumah saya lagi! Lebih kesal lagi adalah, kemana orang tuanya? Kalau mereka bermain di rumah sendiri mungkin kekesalan saya bisa berkurang, namun mereka bermain petasan di jalanan!

hanya ilustrasi

Saya pikir ada yang salah dengan tradisi bulan puasa di kalangan bocah-bocah. Jika ditarik ke belakang sebenarnya permasalahan ada pada orang tuan yang membiarkan anak-anaknya. Mulai dari petasan yang dimainkan anak di bawah umur hingga patrol pada saat yang tidak tepat. Mungkin juga itu adalah efek memberikan libur pada anak-anak sekolah di waktu puasa, sehingga mereka bebas bermain hingga larut malam tanpa khawatir harus bangun pagi untuk sekolah.

Masjid di dekat rumah saya sudah berhasil ditertibkan dari gerombolan anak-anak yang berisik. Sehingga tidak terlalu penuh dan shafnya yang tidak rapat justru menyebabkan sebaliknya. Ternyata anak-anak berisik berada di dekat masjid, tidak sholat juga nampaknya. Hanya bergerombol, bersarung dan berpeci dengan petasan di tangan. Ada baiknya mereka dikirim untuk intifadah di Palestina :p. Daripada di sini hanya menganggu ketertiban umum dan memperjelek citra Islam di mata non Muslim. Saya membayangkan pikiran non Muslim yang terganggu tidurnya karena berandal patrol berisik, “Sedemikian istiqomahnya orang Islam mendidik anak mereka menjadi teroris.” (sarkas)…

Semoga orang tuanya segera sadar dan mendidik anaknya dengan baik. Amiin