Mempertanyakan Penafsiran Hadits yang Berkedok Sains

Pada awalnya hendak saya beri judul “meluruskan” penafsiran hadis yang berkedok sains. Namun karena saya pun tidak punya bukti telak (seperti jurnal ilmiah, laporan penelitian dari lembaga yang kredibel dll), juga ada potensi “kesalahan” dari penafsiran saya sendiri, maka saya hanya berani memberi judul seperti di atas. Tidak semua hadis akan saya bahas karena jumlahnya sangat banyak. Saya hanya akan mempertanyakan beberapa hadis yang menurut saya cukup populer tersebar di dunia maya dan dunia nyata. Saya hanya membahas penafsiran hadisnya, bukan mempertanyakan keshahihan hadisnya. Penafsiran hadits yang saya kupas adalah hadits yang berkaitan dengan adab/tatacara makan.

1.Larangan Meniup Makanan dan Minuman

Telah menceritakan kepada kami Abdurrahman dari Isra`il dari Abdul Karim Al Jazari dari Ikrimah dari Ibnu Abbas ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang meniup makanan dan minuman. Dan telah menceritakannya kepada kami Abu Nu’aim dari Ikrimah secara mursal, dan telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sabiq mensanadkannya dari Ibnu Abbas. (HR Ahmad – 3194) :

Hadits di atas mempunyai penjelasan ilmiah yang cukup populer. Mari kita simak

Apabila kita menghembuskan napas pada minuman atau makanan, kita akan mengeluarkan CO2 atau karbon dioksida, yang apabila bercampur dengan air H20, akan menjadi H2CO3, yaitu sama dengan cuka, menyebabkan minuman itu menjadi bersifat asam. Demikian pula jika kita meniup makanan yang panas dan keluar uap air dari makanan itu, akan terjadi reaksi pembentukan asam karbonat atau H2CO3.

ilustrasi

Penjelasan di atas kurang tepat karena mengabaikan beberapa fakta ilmiah penting seperti:

a. Reaksi CO2 + H2O is in equilibrium with H2CO3 adalah reaksi yang sangat lambat. Mayoritas CO2 tidak akan bereaksi dengan H2O apabila tidak ada katalis atau zat yang mempercepat terjadinya reaksi. Reaksi yang sangat lambat juga disebabkan oleh Kh =[H2CO3]/[CO2] = 1.70×10−3

b. H2CO3 adalah zat asam lemah yang tidak seberbahaya seperti yang dibayangkan, bahkan jika kosentrasinya bertambah di dalam tubuh. Asam karbonat banyak dipakai untuk mengkarbonasi soft drink. Bahkan, asam karbonat sendiri merupakan fase antara dalam transportasi CO2 ke luar tubuh. Ekuilibrium asam karbonat dalam tubuh juga berfungsi sebagai buffer yang menjaga netralitas PH dalam darah mamalia, termasuk manusia.

Kesimpulannya adalah, tidak akan terbentuk H2CO3 ketika anda meniup minuman atau makanan yang mengeluarkan uap air. Kalaupun terbentu, kosentrasinya sangat kecil (bisa diabaikan) dan tidak akan mempengaruhi kondisi PH tubuh. Ada buffer dalam tubuh kita yang selalu senantiasa menjaga netralitas PH.

Hadits ini lebih pas jika dikaitkan dengan etika saat makan (table manner) daripada harus dipaksakan ditafsirkan dengan sains. Bayangkan jika anda bersikeukeuh meniup makanan padahal tanpa sadar anda mengeluarkan bau yang tidak sedap dari mulut, tentu suasana makan menjadi eneg. Atau anda meniup makanan terlalu kencang sehingga muncrat ke orang lain, tidak sopan bukan? Kalau makanan panas, masih banyak cara mendinginkannya selain dengan meniup. Bisa dikipasi atau diletakkan di tempat yang lebih lapang atau bisa juga didiamkan sebentar.

solusi mendinginkan makanan tanpa meniup

Silahkan amalkan hadits ini tanpa harus bersandar pada penjelasan ilmiah yang dipaksakan.

2. Lalat Hinggap ke Minuman Anda, Celupkan Sekalian Lalatnya!

Nabi Bersabda, “Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya. (HR. Bukhari, Ibn Majah, dan Ahmad)

Apabila saya sendiri mengalami kejadian seperti itu, percayalah, saya tidak akan meminumnya. Toh dalam hadis tidak disebutkan anjuran untuk meminumnya, tapi cuma disuruh celupkan lalatnya keseluruhan :p.

Sebuah artikel dari Arrahmah.com mencoba menerangkan hadits tersebut dengan kacamata sains. Artikel tersebut bersumber “jurnal ilmiah” dari Tim Departemen Mikrobiologi Medis, Fakultas Sains, Universitas Qâshim, Kerajaan Arab Saudi. Bagi yang penasaran dengan “jurnal ilmiahnya” silahkan download di sini. Jurnalnya sangat-sangat ilmiah lho😀. Di sini saya akan menampilkan rangkumannya saja. Saya copas saja dari Arrahmah.com.

Metode yang para peneliti gunakan cukup sederhana, yaitu mengkultivasi (menumbuhkan) air steril yang telah dicelupkan lalat ke media Agar [media yang berasal dari musilaginosa kering yang diekstrak dari ganggang merah, yang mencair pada suhu 100°C dan memadat pada suhu 40°C yang tidak dapat dicerna oleh mikroba], kemudian mengidentifikasi mikroba yang tumbuh.

Lalat yang digunakan ada beberapa spesies, dan sample yang digunakan untuk tiap spesies terdiri dari dua sample, yaitu

  1. sample air steril dimana lalat dimasukkan sedemikian rupa sehingga hanya pada bagian sayap lalat saja, dan
  2. sample air steril yang dimasukkan lalat yang dicelup seluruh tubuhnya. Semua ini dilakukan secara aseptis (bebas mikroba) di ruangan khusus, untuk menghindarkan terjadinya kontaminasi luar yang akan membuat hasil penelitian menjadi bias.

Setelah itu, sampel air tadi dikultivasi ke media Agar dan diinkubasi selama beberapa harisehingga kultur (biakan) mikroba tumbuh dan tampak secara jelas. Hasil kultur mikroba tersebut diidentifikasi untuk mengetahui jenis mikroba tersebut. Berikut ini adalah hasilnya :

hasil percobaan

Gambar di atas hanya hasil percobaan untuk spesies jenis A (entah kenapa jenis lalatnya tidak disebutkan).

Cawan Petri 1 :

sampel kultur air yang diambil dari sebuah tabung yang berisi air steril yang dicelupkan lalat secara sempurna (seluruh tubuhnya terbenam).

Cawan Petri 2 :

sampel kultur air yang diambil dari sebuah tabung yang berisi air steril yang dijatuhkan seekor lalat ke dalamnya tanpa membenamkannya.

Untuk spesies lalat B dan C hasilnya seperti hasil percobaan sama dengan lalat A dimana cawan petri 1 cairan terlihat bening dan cawan petri 2 terlihat keruh.

Kesimpulan percobaan: Masuknya lalat pada makanan atau minuman, dengan  dan tanpa dicelup, ternyata memberikan hasil berbeda yang secara  signifikan. Hal ini membenarkan apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bahwa pada sayap lalat itu terdapat penyakit sekaligus penawarnya.

Ada hal yang patut dipertanyakan dari percobaan tersebut.

a. Replikasi percobaan tidak disebutkan dalam “jurnal”. Padahal percobaan yang dilakukan bukanlah percobaan yang “mahal” dan hanya bisa dilakukan sekali saja. Kenapa tidak dilakukan replikasi percobaan untuk memperkuat hasil.

b. Jelas saja ada mikroba yang tumbuh, lah lingkungannya “diset” demikian. Maksud saya adalah, percobaan ini tidak menggambarkan keadaan di dunia nyata. Dalam kasus dunia nyata, cairan minuman yang dihinggapi lalat, lalu lalatnya dicelupkan tidak diinkubasi, tapi hendak diminum.

c. Jenis lalat hanya disebutkan, A, B, C atau “berbeda dari lalat sebelumnya”. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar, apakah lalat yang digunakan sejenis atau tidak. Jenis lalat sendiri sangat banyak di dunia ini. Apakah dengan “3” sampel percobaan ini saja sudah bisa disimpulkan bahwa semua lalat akan menghasilkan “zat” yang sama saat tercelup ke dalam cairan?

Penting untuk disimak, bahwa percobaan ini tidak menjawab, apakah air yang sudah dicelupkan lalat seluruh tubuhnya masih aman untuk diminum. Sekali lagi, silahkan mengamalkan hadits ini, tapi untuk meminumnya? Saya hanya menyarankan anda untuk berpikir lagi mengingat belum ada penelitian yang lebih “ilmiah” yang menjamin keselamatan anda setelah meminum air celupan lalat. Lagipula hadits tidak menyebutkan bahwa air yang sudah dicelupi lalat harus diminum.

3. Dilarang Minum sambil Berdiri

Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallammelarang sambil minum berdiri. (HR. Muslim no. 2024, Ahmad no. 11775)

Hadits di atas mempunyai penafsiran ilmiah yang sangat populer di kalangan Muslim. Berikut saya kutip dari salah satu media online terkenal, Tribunnews.com.

Suatu kajian kesehatan akupuntur yang diadakan salah satu ahli akupuntur, membuktikan bahwa air minum yang masuk dengan cara minum sambil duduk lebih baik dibandingkan kita minum dengan cara berdiri.
Air putih yang kita minum saat duduk akan disaring oleh sfringer. Sfringer adalah suatu struktur maskuler (berotot) yang bisa membuka (sehingga air kemih bisa lewat) dan menutup. Setiap air yang kita minum akan disalurkan pada pos-pos penyaringan yang berada di ginjal.

Sebaliknya, jika kita minum air putih dengan cara berdiri, maka air yang kita minum itu masuk tanpa disaring lagi. Air itu bisa langsung menuju kandung kemih. Ketika langsung menuju kandung kemih, maka terjadi pengendapan di saluran ureter.
Karena banyak limbah-limbah yang menyisa di ureter maka hal ini bisa menyebabkan penyakit kristal ginjal. Salah satu penyakit ginjal yang berbahaya. Susah kencing itu penyebabnya.

Sebenarnya tidak perlu penjelasan ilmiah yang sangat ribet untuk hadits ini. Lebih baik minum sambil duduk daripada dengan berdiri, mengapa? Capek kalau sambil berdiri terus! Lagi dan lagi, ini sekedar masalah etika saja daripada harus ditafsirkan sembarangan dengan analisis sok ilmiah. Kenapa saya katakan sok ilmiah?

a. Entah penulisnya salah ketik atau memang tidak tahu, tidak ada yang namanya sfringer dalam tubuh manusia. Bagian yang dimaksud mungkin adalah sphincter.

sphincter

b. Meskipun kita minum sambil berdiri, air tidak langsung menuju kantung kemih tapi masuk dulu ke saluran pencernaan seperti biasa. Air diserap dulu oleh saluran pencernaan, kalau kelebihan baru dibuang sebagai urin.

c. Terlalu lama mempertahankan posisi tubuh statis, baik duduk maupun berdiri adalah hal yang sama-sama tidak ergonomis dan sama-sama berpotensi membahayakan organ tubuh dalam.

Ada hadits lain yang justru memperbolehkan minum sambil berdiri.

Dari An-Nazzal bin Sabrah ra. berkata, “Ali ra datang ke pintu Rahbah dan beliau minum sambil berdiri. Beliau berkata, “Sungguh aku melihat Rasulullah SAW minum sebagaimana kalian melihat aku minum.” (HR. Bukhari)

Dari Umar ra. berkata, “Dahulu kami pernah di zaman Rasulullah SAW makan sambil berjalan dan minum sambil berdiri.” (HR Tirmizy)

Jadi penafsiran ilmiah akan hadits yang melarang minum sambil berdiri bersumber pada hal yang tidak kredibel. Dari sisi hukum Islam sendiri, ternyata ditemui hadits lain yang menunjukkan izin untuk minum sambil berdiri. Bahkan makan sambil berdiri pun boleh. Kita sering melihat atlet yang minum sambil berdiri setelah bertanding, toh tak pernah ada laporan kejadian aneh-aneh karena dia minum sambil berdiri. Minum sambil duduk atau berdiri lebih karena masalah etika. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung. Silahkan mengamalkan hadits yang menurut anda lebih benar.

4. Jari Tangan Mengandung Zat yang Membantu Pencernaan Makanan

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jika salah satu di antara kalian makan, maka janganlah dia bersihkan tangannya sehingga dia jilati atau dia minta orang lain untuk menjilatinya.” (HR. Bukhari no. 5456 dan Muslim no. 2031)

Klaim fakta ilmiahnya (saya ambil dari http://medicalera.com/info_answer.php?thread=11328):

  • Dengan menggunakan tiga jari (jempol, telunjuk, dan jari tengah), makanan yang masuk ke mulut lebih sedikit, enzim ptyalin yang diproduksi kelenjar saliva mencerna makanan dengan maksimal sehingga makanan menjadi lembut dan mudah dicerna
  • Tangan mengeluarkan enzim RNAse, yaitu enzim yang dihasilkan tangan yang mempunyai kemampuan mengikat bakteri sehingga dapat menghambat aktivasi bakteri dalam tubuh

Klaim pertama masih logis dan diterima akal. Makan dengan tiga jari tentu saja membatasi volume makanan yang bisa diangkut ke mulut kita. Kalau alasannya untuk makan dengan perlahan dan sedikit demi sedikit, makan dengan sumpit juga pasti lebih memenuhi tujuan tersebut. Dengan sendok kecil juga bisa. Intinya, tidak harus memakai jari.

Klaim kedua terasa sangat konyol. Sejak kapan tangan mengeluarkan enzime RNase sehingga bisa tercampur lewat makanan? Dari http://en.wikipedia.org/wiki/RNase, kita memperoleh informasi bahwa RNase adalah enzim yang berfungsi sebagai katalisator saat degradasi RNA menjadi komponen yang lebih kecil. Perannya ada di dalam tingkat sel. Jadi enzim tersebut tidak “keluar” melalui jari tangan saat kita makan.

Maka, seperti hadits-hadits sebelumnya yang saya sebutkan, hadits ini mengatur adab (etika) Muslim saat makan. Tidak usah dipaksakan ditafsirkan dengan bahasa sains yang ngawur. Ada unsur budaya dalam hadits ini. Alat bantu makan seperti sendok dan garpu bukanlah benda yang umum ditemui pada masa Rasulullah. Jenis makanan pada masa Rasul hidup pun kebanyakan bukan jenis makanan yang memerlukan sendok untuk menyantapnya. Jadi wajar saja jika Rasul menyesuaikan tatacara makannya dengan budaya yang berlaku waktu itu. Apakah nyaman makan bakso yang berkuah panas itu hanya dengan tiga jari?

Seandainya informasi medis ini benar maka ini adalah di antara manfaat mengamalkan sunnah di atas. Jika manfaat secara medis tersebut memang ada, maka patut disyukuri. Akan tetapi jika tidak terjadi, maka hal tersebut tidaklah menyusahkan kita karena yang penting bagi kita adalah melaksanakan perintah Nabi.

5. Jangan Makan sambil Bersandar.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru r.a, ia berkata, “Tidak pernah terlihat sekalipun Rasulullah saw. makan sambil bersandar dan tidak pernah sekalipun beliau berjalan di depan orang-orang dalam rombongan,” (Shahih, HR Abu Dawud [3770] dan Ibnu Majah [244]).

Fakta ilmiahnya saya ambil dari sumber yang sama dengan poin no. 4:

  • Karena pada saat duduk dengan posisi tegak syaraf pencernaan berada dalam keadaan tenang, tidak tegang dan tidak relaksasi sehingga apa yang dimakan dan diminum akan berjalan pada dinding usus dengan lembut dan perlahan sehingga tercipta keseimbangan organ pencernaan.
  • Sedangkan posisi bersandar dapat memungkinkan terjadinya refluks makanan dan minuman.

Saya mengamati bahwa posisi orang makan selalu condong mendekati alat makannya (piring makannya). Jika orang makan duduk di kursi dan posisi makanannya ada di meja di depannya, otomatis orang tersebut akan menjauhi sandaran kursi karena mendekat ke meja dan menghadap ke piring makannya. Dari hasil pengamatan, saya cenderung menemui orang minum dengan bersandar daripada orang makan dengan bersandar.

Jika ditanyakan mana yang lebih sehat, makan dengan bersandar atau tidak, ada banyak faktor lain yang mempengaruhinya. Saya sendiri tidak melihat dampak signifikan terhadap kesehatan tubuh mau makan dengan bersandar atau tidak. Makan memang harus dalam keadaan rileks dan nyaman.

Klaim pada poin dua sangat tidak jelas. Refluks bisa berkaitan dengan persoalan kimia juga. Refluks yang dimaksud mungkin adalah refluks asam. Refluks asam adalah kondisi di mana cairan dan gas dari lambung berbalik mengalir ke kerongkongan. Mulut jadi terasa pahit dan dada terasa terbakar. Kondisi ini disebut refluks asam atau refluks gastroesofagus. Asam lambung bahkan bisa mengalir sampai ke tenggorokan (faring) dan mulut. Hampir setiap orang pernah mengalami kondisi ini, yang biasanya hanya berlangsung singkat. Refluks asam terjadi karena sfingter esofagus bagian bawah (cincin otot di ujung bawah kerongkongan) gagal berkontraksi sebagaimana mestinya. Sfingter ini berfungsi sebagai katup satu arah yang mencegah isi perut mengalir ke atas .

Jika anda makan dengan posisi berbaring memang sangat memperbesar kemungkinan terjadinya refluks asam. Namun jika anda makan sambil bersandar masih dalam posisi duduk, kemungkinannya lebih kecil. Penyebab refluks asam bukan sekedar posisi makan, tapi juga bergantung pada berat tubuh, jenis makanan, kelainan organ pencernaan, kebiasaan merokok dsb.

Jadi, anjuran tidak bersandar saat makan adalah perihal etika budaya semata. Tidak perlu memaksakan penjelasan ilmiah yang dipaksakan.

6. Jangan Makan terlalu Banyak.

Tidak ada bejana yang diisi oleh manusia yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah baginya memakan beberapa suapan sekedar dapat menegakkan tulang punggungnya (memberikan tenaga), maka jika tidak mau, maka ia dapat memenuhi perutnya dengan sepertiga makanan, sepertiga minuman dan sepertiga lagi untuk bernafasnya.” (HR. Ahad, Ibnu Majah)

Hadits itu sudah jelas maknanya. Semua orang tahu, makan dengan porsi berlebih akan sangat membuat perut tidak nyaman. Tidak perlu penjelasan bertele-tele sok ilmiah dalam hal ini. Etika juga dikedepankan dalam hal ini. Terutama ketika makan bersama orang lain atau makan ditraktir orang lain, masak kita mau makan sebanyak-banyaknya dengan kilah “aji mumpung”? Tentu bukan perilaku Muslim yang taat. Sayangnya, ada oknum yang kurang percaya diri dengan aturan Islam sehingga merasa perlu untuk dibarat-baratkan supaya kelihatan ilmiah. Padahal yang dilakukan cuma asal dan tidak berdasar penelitian ilmiah yang sesungguhnya. Seperti penafsiran di bawah ini:
Fakta Ilmiahnya

  • Bila di analisis dari sisi kesehatan makan terlalu banyak dapat memberatkan kerja lambung, hati, usus besar dan ginjal, maka terjadi penurunan fungsi organ, dan pada akhirnya proses metabolisme terganggu.
  • Makan dengan porsi besar membuat pH tubuh menjadi asam dan bila tubuh tidak bisa mengatasi keadaan asam yang terlalu lama, maka akan terjadi penumpukan karbondioksida sehingga kadar oksigen menurun yang dapat berakibat sulitnya bernafas / sel-sel tubuh akan rusak
  • Ketika lambung dipenuhi oleh makanan maka terjadi peningkatan aliran darah ke lambung yang berisi oksigen, menyebabkan oksigen di sel tubuh berkurang dan menyebabkan kelelahan.

Poin pertama dan ketiga masuk akal. Penjelasannya bisa diterima. Namun untuk poin kedua, penjelasan yang diberikan sangat-sangat ngawur. PH tubuh akan tetap netral meskipun kita makan banyak makanan. Penjelasan yang lebih tepat adalah, lambung akan mengeluarkan lebih banyak zat asam untuk mencerna makanan. Tidak jelas apa yang dimaksud dengan penumpukan karbondioksida. Saat kita makan terlalu banyak, pasokan oksigen akan lebih banyak dialirkan ke organ pencernaan sehingga pasokan oksigen ke otak menjadi berkurang. Ketika pasokan oksigen ke otak berkurang, akan menyebabkan kita ngantuk.
Kesimpulan

Sudah seharusnya sebagai umat Islam kita mengikuti petunjuk Rasulullah yang tertuang dalam berbagai hadits. Termasuk tatacara makan yang sesuai tuntunan Baginda Rasul. Di lain sisi, kita dilarang untuk mengikuti mitos atau takhayul yang disebarkan oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Oleh para ulama, umat Islam juga dilarang untuk taklid buta, percaya pada suatu dalil tapi bersandar pada penjelasan yang salah.

Saya pribadi prihatin melihat fenomena cocoklogi ini. Mencocok-cocokkan dalil dalam agama dengan sains. Bukan saya menolaknya, namun saya merasa hal ini justru mempertegas kerendahdirian kita terhadap kemajuan barat sehingga segala sesuatunya harus dipandang dengan kacamata ala barat (sains). Yang terjadi malah penafsiran terburu-buru tanpa mengkaji lebih dalam baik dari sisi sejarah hadits yang bersangkutan maupun teori sains yang dipakai. Hanya karena melihat tulisan arab kemudian di bawahnya ada tulisan bernada ilmiah mencantumkan nama ilmuwan terkenal (biasanya Einstein), umat Islam biasanya langsung mengiyakan saja tanpa mempelajarinya lebih lanjut.

Semoga Allah memberi petunjuk bagi kita semua. Amiin.