Gadis Pantai

Penulis : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit  :  Hasta Mitra
Tahun Terbit : 2000
Genre : Roman

Sampul

Sampul Buku

Ah, bapak.
Bapak!
Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini.
Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta,
hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut.

Bunga desa kampung nelayan dipinang bangsawan ningrat dari kota. Jadilah dia istri kesekian dari bangsawan tersebut. Sang gadis melongo dengan kehidupan barunya, kedudukannya kini adalah nyonya di sebuah rumah besar di kota. Tak ada kemiskinan tapi dibayar dengan keterikatan. Tak lagi bebas seperti hidup di kampung nelayan. Si gadis terus tumbuh hingga mulai mengerti dan pasrah akan kehidupan barunya.

Seperti biasa, Pramoedya selalu menciptakan kehidupan tokoh wanita yang penuh dilema. Dengan inspirasi dari kehidupan neneknya sendiri, Pramoedya menjadikan Gadis pantai sebagai representasi individu nusantara yang terjebak dalam kemiskinan. Anugrah Tuhan berupa keindahan fisik justru menjadi semacam kutukan tatkala tidak dibarengi dengan pendidikan yang memadai. Fisiknya dirampas tanpa perlawanan berarti. Dinikmati kaum “terdidik” atas nama legitimasi kelas atas. Gadis pantai hanya bisa pasrah sambil sedikit demi sedikit belajar mengerti kehidupan.

Tidak perlu menjadi sebuah novel yang tebal, Pramoedya berhasil membangun secuil kisah kehidupan manusia menjadi pelajaran moral berharga bagi pembacanya. Hidup gadis pantai yang terombang ambing ombak nasib. Berusaha konsisten dengan idealisme hidup, tapi realita memaksa kita menyadari bahwa plin-plan adalah sifat kodrati manusia. Oportunis membuat kita tetap hidup, realistis menghindarkan kita dari tabrakan besar dengan nasib kejam. Gadis pantai akhirnya menerima sang suami, mencintainya dan mengandung anaknya.

Badai pasti berlalu, namun juga pasti akan datang lagi. Begitulah kehidupan gadis pantai. Dengan penuturan yang sangat kental “menyindir” feodalisme Jawa, yang sangat membanggakan tingkat bahasa ngoko, krama dan krama inggil, Pramoedya mengajak pembaca menyelami perasaan manusia yang tertindas karena kasta. Silih berganti masalah datang karena perbedaan kelas karena keturunan dan ekonomi semata.

Secara pribadi, saya pikir ini puisi yang berbentuk novel. Ciri khas puisi yang mengedepankan konflik batin terpapar jelas dalam kisah ini. Apalagi ditambah dengan gaya bahasa metafor yang penuh makna. Suatu bacaan wajib bagi pengusung emansipasi wanita untuk merenungkan lagi apa esensi perjuangannya.

Rating 5/5
NB: novel ini menjadi buku terlarang selama masa orde baru berdasar keputusan Jaksa Agung tahun 1987. Alasannya karena dianggap menyebarkan paham terlarang. Selain itu, novel ini adalah bagian pertama dari trilogi. Namun akibat huru-hara politik 65-66, naskah dua novel selanjutnya hilang dan tak pernah ditemukan.