Berharap Negara Tetangga Mengklaim Jamu Jawa sebagai Milik Mereka

Tidak. Tidak ada yang salah dengan judul yang saya tulis, eh saya ketik. Bagi yang tidak paham, saya niatkan untuk menyindir siapa saja yang mengaku cinta produk dalam negeri tapi lebih suka makan ala barat, berpakaian ala barat, ngomong ala barat dan segala aktivitas lain yang kebarat-baratan hanya untuk mengesankan bahwa dia lebih baik dan modern. Sebenarnya juga termasuk sindiran bagi mereka yang terkena demam Korean wave, Japan wave dll sampai menggigil karena demamnya. Termasuk juga  bagi mereka yang lebih suka reaktif daripada aktif dalam hingar-bingar isu tertentu, contoh: pengamat, selebritis, politikus dan saya sendiri :p Saya katakan reaktif karena baru bertindak setelah ada stimulus dari pihak asing yang melakukan “hal jahat” terhadap bagian diri. Padahal jika tidak ada “hal jahat” itu, kita sendiri cenderung berbuat lebih jahat lagi, yaitu lalai dalam mengurus bagian dari diri kita sendiri. Contohnya: batik, Reog, tempe. Bahkan untuk kasus TKI, sepertinya hukum reaksi juga berlaku. Tidak ada usaha lebih untuk mengklaim mereka sebagai bagian dari kita kecuali setelah para pahlawan devisa itu “diperlakukan dengan jahat” oleh pihak luar.

Saya pun dapat inspirasi menulis sebagai reaksi atas isu iklan Tong Fang yang sangat fenomenal itu. Sampai seorang ketua Ikatan Dokter Indonesia merasa profesinya dilecehkan iklan bersangkutan. Sampai seorang warga negara kita merasa perlu membuat parodi iklannya di Twitter. Sampai di kaskus ada threads (lebih dari satu thread) yang intinya membahas dan mengolok iklan tersebut. Terima kasih Tong Fang🙂 :p

Tong Fang adalah salah satu dari sekian banyak klinik pengobatan alternatif yang ada di negara kita. Contoh lain yang juga terkenal adalah Mak Erot dan obat penumbuh rambut asal Arab, minyak Firdaus. Pengobatan alternatif yang saya maksud adalah segala kegiatan yang menyangkut upaya menjaga kesehatan dan menyembuhkan diri dari penyakit, serta urusan terkait merekayasa bagian tubuh tertentu, yang hanya sedikit atau bahkan abai sama sekali dengan pengetahuan medis modern/barat.

Dari pengalaman pribadi dan pengamatan pribadi terhadap masyarakat sekitar, orang Indonesia menganggap remeh pengobatan alternatif namun jika sudah terdesak akhirnya ya percaya juga. Orang baru mau ke dukun atau tabib setelah keluar biaya berjuta-juta di rumah sakit Singapura namun tak kunjung mendapat kesembuhan. Lalu seorang kolega menyarankan untuk berobat ke seorang dukun. Tidak lama berselang sembuh deh. Dukunnya cuma minta biaya seikhlasnya. Sang pasien yang telah habis biaya berjuta-juta hanya merasa perlu membayar sang dukun ratusan ribu atau puluhan ribu saja, yang penting ikhlas kan? Itulah sekelumit cerita tipikal testimoni orang-orang yang sembuh hasil berkunjung ke klinik pengobatan alternatif.

Kisah seperti di atas tidak sepenuhnya salah atau hanya rekaan seperti yang dituduhkan pada iklan Tong Fang. Saya berani ngomong ada banyak orang yang punya pengalaman seperti itu, termasuk pengalaman pribadi saya sendiri. Makna yang bisa diambil adalah, pengobatan alternatif juga sama berkhasiatnya dengan pengobatan modern. Sebab, metode pengobatan alternatif bisa jadi juga telah mengalami masa trial dan error selama bertahun-tahun melalui beberapa generasi “praktisi”. Pengetahuannya diperoleh melalui pengalaman trial dan error (sama saja dengan sains) dan diwariskan melalui tradisi lisan dan praktek langsung. Jadi tuduhan bahwa pengobatan alternatif itu sekedar takhayul dan klenik yang ngasal bisa dianggap kurang tepat. Tentu saja kita tetap harus waspada terhadap oknum yang memanfaatkan keadaan untuk memperoleh keuntungan padahal tidak punya pengetahuan apapun tentang pengobatan alternatif. Meski, di dunia kedokteran modern sendiri pun masih juga ada dokter abal-abal.

Pengobatan alternatif, dinamakan alternatif karena memang merupakan alternatif metode dari pengobatan modern ala barat. Pengobatan alternatif biasanya merujuk pada metode pengobatan ala Timur Tengah, China dan lokal Indonesia sendiri. Geliat pengobatan alternatif sebenarnya sudah bangkit sejak beberapa tahun yang lalu, bahkan di barat termasuk di Amerika Serikat (yang merupakan kiblat ilmu pengobatan mdoern) juga sudah meneliti dan mengembangkan proses pengobatan alternatif melalui lembaga-lembaga medisnya. Bahkan di China, rumah sakit sudah berani memberikan obat herbal ala tradisi China kuno kepada pasien. Kombinasi pengetahuan modern dan tradisional diharapkan menghasilkan metode pengobatan yang lebih efektif dan aman.

Bagaimana dengan Indonesia? Masih proses. Beberapa fakultas farmasi dan kedokteran universitas lokal sudah melakukan penelitian pengembangan pengobatan alternatif. Dalam tataran praktek, malah sudah jauh lebih berani lagi. Banyak klinik kesehatan, dukun, obat herbal, tabib, sinseh, kyai yang beroperasi menjalankan metode pengobatan alternatif. Beberapa sudah mempunyai status yang cukup terakui berkhasiat di mata masyarakat. Tidak bisa dipungkiri juga banyak pula yang penipu, tak punya keahlian tapi menarik keuntungan dengan membuka praktek. Secara formal, belum tampak usaha untuk menggabungkan metode modern dengan pengobatan alternatif.

Hanya tinggal menunggu pemicu yang tepat untuk melakukan usaha formal ini. Berkaca dari pengalaman, upaya formal biasanya reaktif terhadap isu tertentu. Saya ambil contoh judul artikel ini sendiri, nunggu jamu diklaim negara tetangga dulu baru orang-orang berpangkat akan terbuka matanya untuk bereaksi, minimal sekedar mengeluarkan statemen yang intinya mendorong lembaga medis terkait yang ada di dalam negeri supaya aktif turut serta dalam pengembangan kearifan lokal sesuai mandat tridharma perguruan tinggi yang berlandaskan semangat Pancasila dan Pembukaan UUD 1945 untuk mencapai Indonesia sejahtera adil dan makmur (amin).