Kasus "Serangan Ninja" di Banyuwangi

indeks:

1. Tragedi Ambon

2. Kasus “Serangan Ninja” di Banyuwangi

2.1 Catatan Pribadi

Secara pribadi penulis mengalami sendiri masa mencekam saat isu serangan ninja bergulir. Meskipun tempat tinggal cukup jauh dari sentral isu yaitu dari Banyuwangi, perguliran cerita dari mulut ke mulut ditambah peran media massa memberikan andil dalam penciptaan teror di daerah-daerah tapal kuda provinsi Jawa Timur. Serangan ninja menghantui kehidupan bermasyarakat. Jendela dan pintu rumah ditutup rapat setelah maghrib. Siskamling yang sempat dilalaikan menjadi kegiatan wajib pria dewasa di malam hari.Tiap pagi tiap keluarga cemas karena takut pintu rumahnya ditandai gambar tengkorak berwarna merah-yang berarti menjadi target operasi dari ninja selanjutnya.

Beberapa orang yang mencari nafkah di malam hari, meskipun khawatir, tetap bekerja bersenjata pring (bambu) kuning kecil yang tersembunyi di balik baju. Konon, para ninja menjadi lemas tak berdaya jika terkena sabetan bambu kuning tersebut. Ada pula yang menyebutkan bahwa ninja tak akan menyerang rumah yang di halamannya terdapat tanaman kelor. Beberapa ninja juga dikabarkan tertangkap setelah tak sengaja melihat tubuh telanjang wanita-yang memusnahkan kesaktiannya. Meski mempunyai kelemahan-kelemahan yang sekilas seperti guyonan anak kecil, isu serangan ninja ini sangat membuat suasana mencekam. Hingga kasus ini mereda, penulis sendiri belum pernah melihat secara langsung seperti apa ninja yang dimaksud dan bagaimana kondisi mayat korban serangan ninja, yang sering dikatakan “mati secara tak wajar”.

2.2 Kronologi

Juli 1998 mulai muncul laporan kasus pembunuhan kyai di Banyuwangi dengan tuduhan dukun santet oleh para “ninja” di beberapa media massa. Sebutan “ninja” sendiri mulai digunakan pertama kali di sebuah media pada tanggal 20 Juli 1998. Sebelumnya dilaporkan bahwa Paiman dan istrinya telah dibunuh. Mereka adalah warga dusun Kutorejo, desa Kendalrejo kecamatan Tegaldlimo. Dua korban ini paling tidak diserang oleh seratus orang. Korban diikat lalu ditarik keluar rumahnya hingga beberapa kilometer kemudian dihajar massa sampai mati.

Foto ini hanya ilustrasi. Tidak jelas foto ini menggambarkan kasus yang mana dalam tragedi Banyuwangi.

3 Agustus 1998 muncul lagi terminologi ninja di media massa. Kali ini dari desa Kedayun kecamatan Kabat. Seorang petani bernama Zainudin (60 tahun), dibunuh di hadapan istri dan anaknya. Polisi menahan 8 orang tersangka utama dari 175 warga lainnya yang diperkirakan mendukung aksi ini. Bukti yang disita berupa bambu sepanjang 3 meter, 4 batu dan 4 meter tali elastis.

September -Oktober 1998 Situasi semakin memanas. Berdasar tim investigasi yang dibentuk oleh NU, dilaporkan terjadi 143 kasus pembunuhan orang yang dituduh dukun santet di  Banyuwangi. Sementara itu 105 pembunuhan terjadi di daerah lain di Jawa Timur seperti Jember, Sumenep, dan Pasuruan.

24 Oktober 1998, “serangan balasan” terjadi di Malang. Lima orang korban yang terbunuh sebelumnya dicurigai sebagai “ninja”. Satu korban dikubur hanya tubuhnya saja. Sementara kepalanya diarak keliling jalanan Gondanglegi.

Foto ini  pun tidak jelas merujuk pada kasus “ninja” yang mana. Penulis menggunakannya sebagai ilustrasi karena dari sumber asal dikaitkan dengan tragedi ninja di Banyuwangi serta kemiripan dengan deskripsi berita yang disampaikan.

Seiring pulihnya stabilitas keamanan dan politik di Indonesia, isu ninja ini juga surut. Meskipun secara umum sudah diabaikan, beberapa pihak masih gigih mencari kebenaran peristiwa tersebut dan memperjuangkan keadilan bagi para korban, di antaranya adalah lembaga Kontras dan NU.

2.3 Analisis

Dari dua kasus awal yang dilaporkan media, tidak jelas bagaimana kaitan dua peristiwa di atas dengan kemunculan ninja. Korban diduga merupakan orang yang dituduh mempraktekkan santet atau ilmu hitam, namun jelas pelaku pembunuhan bukanlah “ninja” atau paling tidak mereka yang membunuh menggunakan kostum ala ninja. Nampaknya peran provokator dan media massa bermain di sini, yaitu menciptakan sesuatu yang misterius agar terjadi teror di masyarakat.

Teror yang berlangsung akhirnya membangkitkan perlawanan dari kalangan yang merasa dirugikan, termasuk pihak yang terkait dengan korban. Perlawanan inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal konflik sipil jika diteruskan. Masyarakat yang diteror akan cenderung mengabaikan aparat keamanan yang mereka nilai gagal melindungi ketertiban masyarakat. Jika ini terjadi, tentu akan terjadi aksi saling balas dendam dalam skala besar melibatkan kelompok-kelompok masyarakat sipil.

Selain daripada itu, ditengarai kasus Banyuwangi ini merupakan aksi teror untuk mencapai situasi politis tertentu. Kuatnya hembusan isu yang menyatakan bahwa korban adalah kyai yang juga dukun santet atau mempraktekkan ilmu hitam disinyalir merupakan upaya untuk menjelekkan golongan tertentu. Isu ninja yang jelas-jelas tak pernah benar-benar ada wujud ninjanya menjadi semacam permainan psikologi untuk mengendalikan massa, bahwa ada kekuatan misterius yang “menghukum” pelaku ilmu hitam. Ninja menjadi semacam topeng yang benar-benar menyembunyikan identitas siapa dalang di balik peristiwa ini. Sehingga masyarakat hanya akan mendapatkan  jawaban yang berputar-putar mengenai siapa pelaku pembantaian kejam itu. Pelakunya adalah “ninja”, tapi siapakah di balik topeng ninja itu?

Hanya ilustrasi mengenai penampakan ninja

Beberapa pihak menilai bahwa dengan melihat permainan psikologi massa yang ditimbulkan, ada peran intelijen negara di sini. Tuduhan ini menjadi menguap begitu saja karena sulit mencari bukti-bukti keterlibatan aparat.

2.4 Kesimpulan

  • Pembunuhan dilakukan oleh kelompok massa yang menuduh korban adalah dukun santet. Tidak jelas darimana tuduhan tersebut berasal termasuk minimnya bukti yang mengarahkan bahwa korban adalah benar-benar dukun santet. Provokator jelas bermain dalam penggiringan opini bahkan mengarahkan masyarakat pada tindakan radikal.
  • Isu ninja sengaja dihembuskan dan menyebar lewat gosip dan media massa untuk menciptakan kesan misterius pelaku pembantaian sehingga masyarakat kesulitan mendeteksi siapa pelaku sebenarnya.
  • Isu bahwa korban adalah kyai dukun santet dimunculkan untuk menjelek-jelekkan kelompok tertentu. Selain itu isu ini juga dimunculkan agar masyarakat ragu dalam bertindak. Akan muncul kelompok masyarakat yang pro terhadap ulah para “ninja” dan ada pula yang kontra. Pro dan kontra opini dalam masyarakat pada tahap tertentu akan melahirkan konflik yang bisa memuncak pada serangan balasan terhadap pihak yang dituduh “ninja”.