Konflik dan Kerusuhan Sipil di Indonesia

Konflik dan kerusuhan sipil yang dimaksud adalah peristiwa-peristiwa kekacauan menjurus pada kekerasan dan pengrusakan yang menyangkut masyarakat sipil sebagai pelaku utama. Konflik dan kerusuhan sipil biasanya dipicu atau makin memburuk oleh sentimen kesukuan, agama, ras dan antar golongan (SARA). Ada pula yang terjadi karena memanasnya suhu politik ditambah kesulitan dalam ekonomi, seperti yang terjadi saat tragedi di Jakarta dan beberapa kota di Indonesia pada tahun 1998.

INDEKS:

1. Tragedi Ambon

2. Kasus “Serangan Ninja” di Banyuwangi

1.1 Kronologi Tragedi Ambon 1999

19 Januari 1999, masih dalam hari raya Idul Fitri (hari kedua), pemuda Bugis NS bersama temannya seorang pemuda Bugis lain bernama T, melakukan pemalakan di Batu Merah terhadap pemuda Kristen J.L selama beberapa kali ketika J.L mengendari angkotnya dari jurusan Mardika – Batu Merah.

Merasa dirinya terancam, pemuda J.L langsung pulang ke rumahnya mengambil parang (golok) dan kembali ke terminal Batu Merah. Disana ia masih menemukan pemuda Bugis NS bersama temannya T. Ia kemudian memburunya, dan NS kemudian berlari masuk ke kompleks pasar Desa Batu Merah.

NS kemudian ditahan oleh warga Batu Merah, dan ketika ia ditanya apa permaslahannya, maka ia (NS) menjawab bahwa, “ia akan dibunuh oleh orang Kristen”. Jawabannya ini kemudian yang memicu kerusuhan Ambon, dengan munculnya warga Muslim dimana-mana untuk menyerang warga Kristen dan sebaliknya juga warga Kristen yang muncul untuk mempertahankan diri.

Beberapa saat berselang atau sekitar 5 menit setelah peristiwa saling kejar-mengejar antara pemuda Muslim asal Bugis, NS dengan pemuda Kristen asal Ambon J.L, seperti ada komando, kerusuhan akhirnya pecah dimana-mana dalam kota Ambon.

Tanggal 20 Januari 1999, terjadi penyerangan secara besar-besaran yang dilakukan oleh warga Kristen terhadap kompleks Pasar Gambus, kompleks Pasar Mardika dan kompleks Pasar Pelita yang berada di tengah-tengah jantung kota. Penyerangan ini dimulai dengan kosentrasi masa Muslim disekitar Jl. A. J. Patty menuju ke lapangan Merdeka Ambon yang diduga akan melakukan penyerangan ke gereja Maranatha (gereja Pusat Ambon).

Gambar ini sangat populer di internet berkaitan dengan kerusuhan Ambon 1999. Namun jarang diketahui lokasi persisnya.

Kira-kira jam 09.00 WIT, warga Muslim jazirah Leihitu yang terletak bagian barat dan utara Pulau Ambon mulai bergerak dengan sasaran menuju kota Ambon. Menurut data yang ditemukan di lapangan , tujuan mereka bergerak menuju kota Ambon karena adanya isu yang tidak benar bahwa mesjid Al-Fatah di kota Ambon telah dibakar oleh orang-orang Kristen. Selain itu juga ada data yang mengungkapkan bahwa tujuan mereka ke Ambon adalah dalam rangka silahturahmi berkenan dengan hari raya idul fitri.

Tanggal 21 Januari 1999 warga Kristen yang berdomisili di Batu Gajah Dalam mendengar terbunuhnya 2 (dua) orang pendeta dan pembakaraan beberapa buah gereja dalam penyerangan yang dilakukan oleh warga Muslim dari jasirah Leihitu kemudian bangkit menyerang warga Muslim Dusun Batu Bulan dan membantai sejumlah warganya. Dari data di lapangan terungkap 150 buah rumah dibakar/dirusak, 5 (lima) orang dibunuh dan 1 (satu) buah Mesjid terbakar. Demikian juga pada tanggal yang sama warga Kristen yang berdomesili di Batu Gantung Dalam (Kampung Ganemo), Mangga Dua, Kudamati ikut melakukan penyerangan terhadap warga Muslim yang berada di sekitarnya. Dalam penyerangan ini 8 (delapan) orang meninggal dunia. 5 (lima) orang warga Muslim diantaranya dibantai kemudian dibakar bersama mobil truk yang mengangkutnya di kawasan Mangga Dua karena diduga sebagai propokator dan membawa bahan peledak.

Isu-isu yang tidak benar ini, akhirnya keluar dari wilayah pulau Ambon. Serentak dengan itu umat Muslim di kota Sanana (Kabupaten Maluku Utara) bangkit dan menyerang kelompok minoritas Kristen di kota Sanana dan sekitarnya

Di Gudang Arang pada tanggal 23 Januari 1999 kira-kira jam 14.00 WIT masa Muslim asal BBM (Buton, Bugis, Makasar) dengan memanfaatkan aparat keamanan (bantuan) KOSTRAD yang berasal dari Ujung Pandang telah melakukan penyerangan dan pembakaran rumah-rumah warga Kristen di Gudang Arang.

Kronologi masih panjang, namun saya potong di sini. Kerusuhan dan bentrokan yang memakan korban jiwa terus terjadi hingga bulan Februari. Namun suasana mencekam terus terjadi hingga 3,5 tahun kemudian.

1.2 Analisis

a. Prakondisi
Suatu kondisi psikologis maupun yang pernah mengemuka menjadi konflik terbuka antar kelompok agama memang realitas yamg rupanya telah lama terdapat di dalam masyarakat. Bukti-bukti untuk hal ini adalah kejadian-kejadian yang sebelum peristiwa kerusuhan bulan Januari ini terjadi. Yakni misalnya pertikaian yang terjadi pada tanggal 3 Maret 1995 antar warga desa Kelang Asaude dan warga desa Tumalehu, peristiwa serupa terjadi juga pada tanggal 21 Februari 1996. Fakta-fakta tersebut di atas menujukan bahwa dari kondisi obyektif menunjukan adanya konflik yang bersifat lokal dan sesekali menjadi suatu pertentangan terbuka. Sentimen beragama yang juga muncul selama masa penjajahan disinyalir masih terpelihara melalui kelompok-kelompok penduduk tertentu di Maluku. Tidak luput juga isu-isu separatis seperti keterlibatan pendukung RMS (Republik Maluku Selatan) ikut memanaskan suasana.

Selain daripada itu, konflik di Maluku juga harus dipahami sebagai akumulasi problematika pembangunan sebelum konflik berlangsung. Data yang dipublikasi oleh UNSFIR (United Nations Support Facility for Indonesian Recovery) pada tahun 2001 menyatakan bahwa jumlah penduduk miskin di Maluku dan Maluku Utara adalah 46,1% dari total penduduknya. Kemiskinan yang dirasakan oleh hampir separuh penduduk Maluku telah mengakibatkan keterbelakangan dan rendahnya kualitas hidup. Hal ini masih diperparah dengan serapan tenaga kerja yang rendah sehingga mengakibatkan angka pengangguran tinggi. Lingkaran setan kemiskinan tersebut menimbulkan kesenjangan dan ketergantungan. Ketergantungan pada pemerintah pusat akhirnya melemahkan peran budaya setempat dalam menjaga keharmonisan masyarakat. Ketika pemerintah pusat kacau di tahun 1998, kekang yang mengikat masyarakat akhirnya kendor dan meledakklah kekacauan di sana.

b. Peristiwa 19-23 Januari 1999
Kerusuhan tanggal 19 Januari terjadi begitu cepat dan menyebar dalam konsentrasi massa dalam jumlah yang cukup besar di beberapa tempat antara pukul 15.30-16.45 WITA. Fakta-fakta di lapangan seperti mudahnya konsentrasi massa terjadi dalam jumlah yang masive di berbagai tempat dalam waktu yang bersamaan, rangkaian peristiwa yang begitu cepat dari satu tempat ke tempat-tampat lain dengan isu-isu yang provokatif, bahkan peritiwa tangggal 19 Januari yang mengawali kerusuhan lanjutan pada keesokan harinya terjadi di tempat yang berbeda dalam tempo yang hampir bersamaan, membuat kita jadi patut bertanya apakah peristiwa-peristiwa tersebut merupakan rangkaian kejadian terencana ?

c. Kejanggalan-kejanggalan dalam Kerusuhan Ambon
1. Kerusakan total hampir terjadi di setiap sudut kota Ambon. Namun dari sinipun terlihat beberapa hal yang janggal : yakni, rupanya pada saat kerusuhan terjadi telah dilakukan pemilihan sasran perusakan maupun pembakaran. Hal ini terbukti dari adanya beberapa bangunan seperti Swalayan Matahari yang utuh tak tersentuh perusuh, sementara hampirseluruh bangunan disekelilingnya rusak total. Hal sejenis terjadi di pertokoan-pertokoan tertentu lainnya.

2. Slebaran-slebaran dan adu domba.
Pada tanggal 2 Februari ini slebaran yang menyatakan adanya isu pertentangan kembali muncul. Di kalangan Islam beredar isu akan adanya Kristenisasi, sedangkan dikalangan Kristen beredar isu akan adanya serangan balasan.

3. Pemindahan dan penarikan pos penjagaan Kariu oleh pihak keamanan yang dilanjutkan dengan pembakaran.
Tanggal 13 Januari 1999 terjadi peristiwa yang bermula dari suatu kejanggalan dengan dicabutnya sebuah pos penjagaan di desa Kariu oleh seorang Komandan Regu Kostrad bernama S. Dan dipindahkan ke dusun Nanaca. Sebelumnya, telah pula terjadi beberapa keanehan dengan dilarangnya warga Kariu masuk ke daerah Kailolo, dan ini diketahui oleh aparat keamanan.
Tanggal 14 Februari , sekitar pukul 03.00 WITA listrik di desa Kariu padam dan sekitar pukul 03.00 WITA ada rumah masyarakat Kariu dibakar. Posisi rumah yang pertama di bakar itu ada di Pilou dan Kariu.
Sekitar pukul 06.00 WITA desa Kariu diserang oleh kelompok Islam dari desa Kariu, Ori, dan delapan desa Islam di sekitarnya. Pada saat penyerangan, pihak aparat yang dipimpin oleh Danru S ikut serta dengan mencopot seragam dan menggantikannya dengan pakaian sipil dengan sorban putih. Pada senjata mereka pun diikat dengan kain putih.
Sekitar jam 08.00 tanggal 14 Februari, masyarakat Hulaliu melihat adanya asap kebakaran di desa Kariu dan mereka bermaksud datang untukmenolong. Namun diperbatasan desa Ori mereka dihadang oleh pasukan dari Kostrad yang telah membentuk formasi untuk mengepung dan mengembalikan mereka ke Halaliu.
Hasil dari peristiwa ini, pukul 15.00 WITA gereja GPM dibakar massa, padahal gereja ini mereka titipkan kepada aparat keamanan dalam keadaan masih utuh. Di desa Kariu 2 gereja juga habis terbakar.

1.3 Kesimpulan
1. Konflik di Ambon dipicu oleh ulah preman yang kemudian menjadi besar karena ditiupkan isu pertikaian antar golongan beragama.
2. Prakondisi masyarakat yang sebagian besar hidup dalam kemiskinan memudahkan provokator dalam mengarahkan masyarakat untuk melakukan tindakan-tindakan radikal tertentu. Mobilisasi massa yang  cepat mengarahkan kita untuk bertanya, apakah kerusuhan ini terencana?
3. Konflik Ambon menjadi membesar karena disinyalir ada keterlibatan pihak dari luar Maluku yang memobilisasi massa luar untuk ikut menjadi bagian dalam pertempuran. Hal ini diperparah dengan lemahnya peran negara dalam upaya penyelesaian konflik. Ada dugaan kerusuhan di Ambon dijalankan untuk kepentingan politik tertentu.