Tips untuk mendeteksi artikel hoax yang tampak “Islami”

Tips untuk mendeteksi artikel hoax yang tampak “Islami”

1. Sumber utama belajar Islam adalah Al Qur’an dan Hadits.
Jika dalam suatu artikel dicantumkan suatu ayat yang dikaitkan dengan berita tertentu padahal terjemahan ayat tersebut tidak menyebut satu kata pun yang berkaitan dengan berita, maka curigalah. Ingat, ayat Qur’an harus dipahami secara holistik. Cara paling gampang memastikan bahwa ayat yang bersangkutan memang sesuai konteks berita adalah melihat apakah penulis artikel mencantumkan penafsiran dari ulama yang punya kredibilitas menafsirkan Qur’an. Contoh pihak yang punya kredibilitas menafsirkan Al Qur’an: Quraish Shihab (karyanya Tafsir Al Misbah), MUI melalui fatwa-fatwanya, Tafsir Ibn Katsir, Tafsir Jalalain, Syeh Yusuf Qardhawi dan pihak lain yang terkenal sebagai mufasir.

Maka pastikan, apakah dalam artikel bersangkutan mencantumkan penafsiran ayat Qur’an dari sumber yang kredibel atau tidak. Jika tidak, maka waspadalah.

2. Sumber utama artikel ilmiah adalah jurnal ilmiah, ilmuwan dan buku-buku ilmiah.
Seringkali terdapat kutipan pendapat dari ilmuwan ternama yang seolah-olah membenarkan “mukjizat” yang tercantum dalam ayat Qur’an atau hadits tertentu. Sekilas penjelasan yang didapat sangat ilmiah dan sungguh masuk akal. Memastikan apakah tulisan tersebut benar-benar ilmiah memang susah-susah gampang. Apalagi jika kita tidak mempunyai latar belakang pendidikan yang memadai. Lalu bagaimana memastikan bahwa artikel tersebut mengandung kebenaran ilmiah?

Seperti cara pada poin satu, cara untuk memastikan apakah suatu artikel mengandung kebenaran ilmiah atau bukan adalah kembali ke sumber-sumber primer dunia ilmiah. Berbeda dengan sumber primer ilmu Islam yang relatif mudah didapat, sumber primer artikel ilmiah lebih susah untuk didapatkan. Contoh sumber primer tulisan ilmiah: jurnal ilmiah/akademis yang diterbitkan institusi ilmiah tertentu, artikel yang terdapat pada website resmi perguruan tinggi, dan buku-buku teks akademis. Beruntunglah peseluncur dunia maya karena Google menyediakan fitur “google scholar” dan “google books” untuk memudahkan pencarian jurnal atau buku ilmiah.

Penulis yang baik pasti mencantumkan sumber ilmiah dalam tulisannya. Jika tidak dicantumkan sumber, maka waspadalah terhadap keilmiahan artikel yang anda baca.

3. Baca secara menyeluruh
Tips ini berlaku baik untuk membaca sumber primer terkait Islam maupun saat membaca sumber primer dunia ilmiah. Jangan membaca sepotong-sepotong karena ada beberapa penulis nakal yang melakukan kutipan pernyataan padahal pernyataan yang dimaksud, jika dibaca secara menyeluruh, tidak sesuai dengan artikel yang ditulisnya.

4. Ketikkan judul dari artikel yang anda curigai sebagai hoax di mesin pencari semacam google.
Coba ketikkan judul atau copy dan paste saja kalimat pertama dari artikel yang anda curigai sebagai hoax. Jika anda menemukan banyak artikel sejenis, yang mirip bahkan sama dari kata per kata, maka coba sumber paling awal dari artikel yang beredar tersebut. Jika sumber paling awal dari artikel tersebut berasal dari blog pribadi, forum bebas atau sumber lain yang tidak jelas kredibilitasnya, maka curigalah dengan informasi yang disampaikan oleh artikel tersebut. Artikel hoax cepat menyebar karena banyak pemilik web-blog bahkan media massa hanya melakukan copy-paste tanpa terlalu mempertimbangkan keakuratan informasinya.

5. Periksa sumber
Sumber biasanya dicantumkan di akhir tulisan. Penulis yang baik biasanya mencantumkan sumber tulisannya. Kecuali tulisan tersebut hanyalah opini pribadi.

6. Coba ketikkan kata kunci artikel dalam bahasa Inggris
Beberapa artikel hoax kebanyakan bermula dari luar negeri. Hal tersebut mudah dipahami mengingat booming internet lebih dulu terjadi di dunia barat daripada di Indonesia. Maka cobalah mengecek artikel yang anda curigai hoax di situs-situs luar negeri. Banyak berita hoax yang di-debunk atau sudah dibuktikkan ke-hoax-annya oleh situs luar negeri. Namun oleh penyebar hoax lokal, hoax tersebut diterjemahkan dan diangkat lagi untuk konsumsi masyarakat Indonesia.

7. Bersikaplah kritis dan skeptis terhadap seluruh informasi yang anda terima, sekalipun informasi itu berasal dari sumber yang paling kredibel sekalipun. Termasuk ajaran agama, jangan mudah menerima. Sikap kritis dan skeptis akan membawa anda untuk selalu ingin tahu. Sifat selalu ingin tahu akan membangkitkan semangat belajar sehingga pengetahuan anda semakin bersama.

Itulah tujuh tips mendeteksi artikel apakah mengandung berita hoax atau tidak. Jika disederhanakan maka rumus cepatnya adalah:
sikap kritis dan skeptis>>cek sumber primer>> sumber primer Islam adalah Qur’an, hadits, ulama>> sumber primer artikel ilmiah adalah jurnal ilmiah, buku teks akademis, ilmuwan>>cek sumber artikel>>simpulkan