Tulisan Al Qur'an (tidak) Sakral

Ada anekdot yang mengena di pikiran. Anekdot ini bercerita tentang seorang hamba yang baru pulang ke tanah air setelah menunaikan ibadah haji di tanah suci.

Si Fulan mengadakan silaturahim dengan tetangga-tetangganya sepulang menunaikan ibadah haji. Seorang tetangganya yang belum mendapat kesempatan ke tanah suci, bertanya kepada si Fulan bagaimana keadaan di sana dan mengenai orang-orang Arab.

“Wah, ndak salah memang Arab disebut tanah suci. Dimana-mana terdapat tulisan Arab dan tiap ngomong mereka ngaji terus.” jawab si Fulan polos.

Tetangga-tetangga si Fulan langsung tertawa.

Bagi kita yang sehari-hari tidak memakai bahasa Arab, tentu akan kesulitan membedakan mana yang bacaan Qur’an dan ucapan biasa dalam bahasa Arab. Begitu pula ketika membaca tulisan Arab. Coba saja serahkan secarik kertas bertuliskan puisi religius dalam tulisan dan bahasa Arab kemudian katakan bahwa itu petikan ayat Qur’an. Apalagi jika dalam puisi tersebut terdapat nama Allah atau Nabi Muhammad SAW disebut. Saya yakin akan banyak orang Indonesia yang otomatis menganggapnya sebagai petikan ayat Al Qur’an yang asli.

Atau mungkin anda punya teman dari Arab (yang tentunya bisa berbahasa Arab). Coba suruh dia bernyanyi apapun dalam bahasa Arab. Kemudian suruh teman anda yang lain mendengarkannya. Tanyai teman anda tersebut, apakah orang Arab tersebut sedang mengaji atau bernyanyi?

Sekarang beralih ke kasus lain. Saking fanatiknya, beberapa orang ada yang menjadikan tulisan Arab sebagai jimat. Supaya lebih berkhasiat, tulisan Arabnya dinukil langsung dari ayat Qur’an. Biasanya disimpan dalam dompet atau tas supaya terbawa saat pemiliknya pergi kemana saja. Katanya sebagai jimat tolak bala atau keselamatan.

Lebih gila lagi, ada yang menjadikan Kitab Al Qur’an utuh sebagai jimat. Tatkala berada atau hanya melewati tempat angker, saya pernah melihat sendiri orang-orang yang memegang mushaf Qur’an. Ketika saya tanya buat apa, jawaban yang diberika mereka adalah supaya tidak diganggu makhluk halus dan diberi keselamatan. Saya hanya tersenyum miris.

Ada pula yang menggunakan permainan angka jumlah huruf-huruf Al Qur’an sebagai bukti bahwa Al Qur’an adalah mukjizat. Contohnya seperti ini:
Kalimat pembuka Al Qur’an ”Bismillahirrohmaanirrohiim” terdiri dari 19 huruf. Kata yang membentuk kalimat Basmallah, yaitu ISME, ALLAH, AR RAHMAAN, AR RAHIIM setelah dihitung jumlah keseluruhan tiap kata tersebut dalam ayat Al Qur’an dapat dibagi habis dengan angka 19, adalah ISME 19X (19 : 19 = 1), ALLAH 2698X (2698 : 19 = 142), AR ROHMAAN 57X (57 : 19 = 3), AR ROHIIM 114X ( 114 : 19 = 6)
-Al Qur’an terdiri dari 114 surat, 114 = 6 X 19

  • Wahyu yang pertama turun Surat ke 96 Al Alaq ayat 1 – 5 terdiri dari 19 kata.
  • Surat pertama yang turun Surat (surat 96) terdiri dari 19 ayat.
  • dihitung dari akhir Al Qur’an, surat 96 menempati posisi ke 19.
  • Surat yang pertama yang turun terdiri dari 304

Huruf, 304 = 16 X 19.

  • Surat yang ke 19 diawali dengan huruf :Kaf, HA, YA, AIN, SHAD dan total kemunculan huruf ini dalam surat tersebut sebanyak 798, 798 = 42 X 19.

Pertanyaan saya adalah, apakah tulisan Qur’an sesuci itu?

Maka kita harus menelusuri sirah Nabi. Dari sirah kita mengetahui bahwa Nabi Muhammad itu ummi alias buta huruf. Tidak bisa membaca dan menulis. Dari sirah pula kita tahu bahwa turunnya wahyu melalui malaikat Jibril. Dalam hadist digambarkan saat Nabi sedang menerima wahyu, merupakan ujian fisik dan mental yang luar biasa berat. Nabi sampai berkeringat, menggigil, atau gemetar. Maka kita bisa menyimpulkan, bahwa wahyu Al Qur’an tidak datang dalam bentuk tertulis.

Kitab Al Qur’an yang ada pada kita saat ini merupakan upaya-upaya pembukuan dan penulisan oleh sahabat dan ulama-ulama selama beberapa generasi. Al Qur’an sebagai kitab utuh diedarkan secara luas pertama kali saat masa Khalifah Usman bin Affan ra. Namun huruf yang dipakai dalam mushaf tersebut masih berupa huruf Arab gundul, berbeda dengan huruf yang kita kenal sekarang yang telah memiliki harakat. Pemberian harakat adalah hasil ijtihad para ulama setelahnya untuk meminimalisir perbedaan pelafalan ayat Qur’an dan memudahkan pembelajaran. Dan akhirnya mushaf tersebut semakin beredar luas dan sampai di tangan umat Muslim di seluruh dunia.

Allah SWT dalam firmannya menjamin akan menjaga kemurnian Al Qur’an hingga akhir zaman. Namun saya menganggap ayat ini sebagai jaminan yang berupa akan terus ada orang-orang yang hafal Qur’an, bukan menjaga “kemurnian tulisannya”. Berbeda dengan pandangan umum umat Islam yang menganggap bahwa penjagaan tersebut berupa penjagaan bentuk fisik Al Qur’an sebagai mushaf.  Inilah yang harus ditekankan.

Al Qur’an itu suci ketika kita melafalkannya. Sedangkan tulisan ayat Qur’an tidak suci, atau tidak sesuci yang kita bayangkan. Ingat, Nabi Muhammad itu ummi. Beliau tidak bisa memastikan apakah tulisan-tulisan ayat yang dibuat oleh sahabat itu benar atau tidak. Dalam sirah juga kita memperoleh informasi bahwa sahabat cenderung menuliskan ayat-ayat Al Qur’an pada media seadanya. Media tersebut bisa berupa tulang, pelepah kurma, atau kulit binatang. Tidak ada keharusan sepertinya bahwa ayat Al Qur’an harus dituliskan dalam kertas yang suci, bebas debu, putih bersih nan kemilau. Dan juga sepertinya tidak ada keharusan bahwa ayat Qur’an harus dituliskan dalam huruf hijaiyah. Terbukti ketika ada ulama menambah harakat (tanda baca), mayoritas ulama menerimanya.

Di sini saya mengusulkan supaya Qur’an yang beredar di Indonesia dibuat dengan huruf latin saja. Sehingga memudahkan pembelajaran. Yang penting kan pelafalannya tetap dijaga sesuai aslinya. Selain itu, hal ini juga penting untuk menghindarkan penghambaan terhadap teks Al Qur’an seperti dalam kisah yang saya ceritakan di atas. Penghambaan pada teks Al Qur’an sama saja dengan syirik kecil. Suatu perbuatan yang sangat dikutuk dalam agama Islam.