Berhenti Munafik, Lestarikan Budaya Nasional!

Beberapa hari yang lalu saya membaca artikel dari suatu media online nasional, “Horvath Pilz Eva Gertraud: Mantan Aktris Austria Dalami Budaya Jawa di Surakarta“. Berikut saya kutip sebagian isi artikel tersebut :

Datang ke Indonesia sebagai turis biasa 30 tahun silam, Horvath Pilz Eva Gertraud mendadak terpikat budaya Jawa. Layaknya wisatawan, kala itu warga negara Austria tersebut disuguhi tontoan kesenian asli Indonesia seperti wayang kulit. Tapi, siapa sangka, gara-gara itu Eva malah enggan balik ke negaranya. (http://www.jpnn.com/index.php?mib=berita.detail&id=152433)

Kita tentu sudah sering mendengar berita semacam ini. Seorang wisatawan asing jatuh cinta pada budaya lokal kemudian menetap dan tinggal di Indonesia. Sebagai orang Indonesia asli, tentu kita bangga jika budaya asli bangsa ini dipelajari oleh bangsa lain. Perasaan bangga ini seringkali diikuti perasaan ironis ketika melihat generasi muda penerus bangsa justru lebih menyukai budaya asing dari negara antah berantah. Lebih jauh, banyak juga orang yang mencerca anak-anak muda yang menyukai budaya asing seperti budaya Korea, Jepang atau budaya barat.

Perasaan ironis boleh menjalar. Banyak orang boleh tidak suka dengan mereka yang belajar budaya negara antah berantah. Tapi bisakah kita sedikit mengakui kemunafikan kita?

Musik barat, film barat, K-drama, dorama Jepang, film India, pakaian a la orang Arab, masakan China, ngomong sok British, nyanyi lagu barat, baca komik Naruto dan Doraemon…Tanpa sadar kita juga menjadi pelestari budaya asing agar tetap eksis di negeri ini.

Mari kita akui bahwa kita selalu berharap ada orang lain yang mau serius menekuni budaya lokal. Kita “menghargai” jika ada orang seperti itu dan kita lebih bangga -tidak jelas sebabnya- jika yang mau melestarikan budaya lokal itu adalah orang asing. Kita tidak ingin diri kita sendiri repot dengan urusan “upaya pelestarian budaya lokal”. Kecuali sekedar ikut koar-koar bin omong kosong nan bullshit bahwa budaya lokal harus dilestarikan..bla..bla..bla. Dan saya mengakui, bahwa produk budaya lokal (seperti lagu daerah dan tari) memang sudah tidak laku dalam pergaulan sehari-hari. Contoh mudahnya: penonton tari tradisional pasti lebih sedikit daripada penonton tari modern semacam break dance :p

Penghargaan kita kepada pelestari budaya lokal pun sebenarnya cuma basa-basi belaka. Kita cuma bilang “respek”, kagum, salut, hormat dll kepada mereka. Tapi siapa berani bayar tiket untuk nonton pertunjukan tari Ngremo kalau ada konser Gangnam style-Psy di saat yang sama? Siapa yang rela anaknya kelak jadi guru bahasa daerah? Adakah konser gamelan yang dihadiri lautan manusia layaknya penonton konser Lady Gaga di luar negeri?

Maka mari kita mulai menghargai budaya kita sendiri dengan bersikap jujur dan berhenti mencela mereka yang lebih menyukai budaya asing. Ini cuma persoalan selera. Tidak ada yang salah dengan selera karena selera orang bisa berbeda-beda. Kalau kita memang menyukai budaya lokal dan mau melestarikannya mari kita mulai dari diri sendiri. Tidak perlu upaya-upaya yang rumit dan butuh dana besar. Simpel saja seperti mulai hafalan dan menyanyikan lagu daerah kita sendiri, mengajari anak-anak kita dengan bahasa daerah yang benar dan baik, atau mungkin belajar untuk tidak menghina dan memandang aneh ketika ada yang berpakaian tradisional saat melakukan kegiatan sehari-hari.

Dan kita tidak perlu munafik dan bertingkah anti-budaya asing. Melestarikan budaya lokal tidak harus berarti benci budaya asing. Menyukai budaya asing juga tidak perlu berarti menenggelamkan budaya lokal.