Mercon, Petasan, Konvoi Takbiran, Takbiran Muter Kaset Sepanjang Malam dan Idul Fitri.

Saya langsung bantah judul yang saya tulis di atas, ndak ada relevansinya!
Lalu mengapa mercon, petasan dan kembang api identik dengan bulan puasa dan Idul Fitri? Kata guru bahasa Inggris saya, ya karena yang jualan petasan dan kembang api baru ada ketika bulan puasa dan ada konsumennya (baca: anak-anak yang sedang liburan sekolah).

Tapi jawaban dari guru tersebut tetap saja tidak memberikan penjelasan mengapa si penjual petasan dan kembang api harus jualan di bulan puasa, bukankah ada liburan yang lain? Kapan hal ini bermula?

Saya tidak tahu.

Bagi saya petasan itu sama sekali tidak ada unsur hiburannya. Bahkan cenderung sangat berbahaya. Lebih gila lagi yang memainkannya adalah anak-anak. Terakhir saya mendengar berita seorang pemuda desa mati terkena ledakan mercon yang sedang dibuatnya sendiri. Lebih dari itu rumahnya rusak parah akibat ledakan. Saya bertanya dalam hati, dia buat mercon apa bom? Kalau yang sudah dikatakan usia pemuda saja bisa mati karena kecerobohannya dalam bermain petasan, bagaimana dengan anak-anak? Duh Gusti, salah apa bangsamu ini sampai bahan peledak dibuat mainan.

Kembang api okelah masih bisa ditonton karena menghasilkan warna-warni yang indah mempesona. Tapi tetap saja ada usia minimal bisa memainkannya. Orang tua seharusnya mendampingi anak-anak mereka yang bermain kembang api. Bukan malah asyik tadarusan pakai pengeras suara! Menjaga anak lebih wajib oii!

Dan tentu saja puncaknya adalah malam Idul Fitri. Entah mengapa saya terbayang suasana perang Salib! Takbir berkumandang dimana-mana meski cuma suara kaset (ironis). Bedug ditabuh layaknya genderang perang (emang ada ajaran malam takbir suruh nabuh bedug?).
Ababil (dan orang tua labil) konvoi pakai motor dengan suara mesin dan knalpot yang bisa mencapai 100 desibel lebih. Mungkin biar terinspirasi jihad di Palestina di bawah desingan peluru kali sehingga takbirannya lebih khusyuk. Entahlah, saya sebagai Muslim saja kadang takut mau keluar rumah di malam Idul Fitri, apalagi yang nonMuslim.

Ketika di tempat lain orang-orang labil sibuk membakar uang (baca: mainan mercon), dan buang-buang bensin (baca: yang ikut konvoi) yang katanya sudah semakin mahal, masih ada lagi keributan di tempat yang seharusnya menjadi tempat paling suci, masjid. Yah, ribut masalah pembagian zakat! Ironis.

Padahal saya yakin, banyak di antara kita yang ingin merayakan kemenangan dengan khidmat, khusyuk mengumandangkan takbir atau mungkin ingin menyalurkan zakatnya dengan santai. Saya yakin juga sebagai Muslim kita berdosa karena gagal melindungi warga minoritas non Muslim yang hidup berdampingan dengan kita. Kita gagal melindungi hak-haknya untuk beristirahat dengan tenang, merasa aman dan damai hanya karena ulah sebagian saudara seiman kita yang tidak tahu aturan main.

Semoga kalimat “Islam rahmatan lil alamin” bukan sekedar jargon ketika bersyiar, tapi terimplementasi nyata dalam kehidupan kita. Amiin.