Puasa Itu (Tidak Selamanya) Menyehatkan Tubuh

Meski sudah akhir bulan Ramadhan, saya tertarik untuk membahas mengenai aspek kesehatan dari berpuasa. Sering kita jumpai artikel, omongan, pendapat ahli yang mengatakan bahwa puasa baik untuk kesehatan. Terlebih bila Ramadhan tiba, fadhilah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan sering terdengar, baik dari sisi spiritual maupun jasmani. Dari sisi spiritual, sebagai Muslim, tentu kita harus meyakininya. Tapi bagaimana dengan dampak puasa pada kesehatan jasmani?

Bagi saya, pernyataan bahwa puasa itu menyehatkan terdengar terlalu luas cakupannya. Ini seperti mengatakan bahwa olahraga itu menyehatkan. Bagi saya, tidak semua olahraga menyehatkan. Olahraga seperti sepakbola, tinju, apalagi anggar itu jauh dari kata menyehatkan. Alih-alih menjaga tubuh malah merusaknya. Banyak kejadian pemain cedera, kaki patah, muka penyok, sampai tubuh babak belur ketika pertandingan olahraga dilakukan.

Lalu apa yang membuat olahraga diklaim menyehatkan? Jawabannya adalah latihan, kedisiplinan dan fokus. Pemain sepakbola sehat karena dia berlatih secara teratur sebelum bertanding. Begitu pula dengan pemain tinju, anggar, basket dll. Latihan yang dilakukan merupakan kombinasi dari berbagai  gerakan olah tubuh yang dilakukan dengan teratur, disiplin dan fokus. Gerakan tubuh tersebut bisa berupa lari, peregangan, push up, sit up, loncat, melempar, stretching dll. Berbagai macam gerakan tersebut yang sebenarnya lebih patut kita sebut sebagai “olahraga”. Dari keteraturan latihan kita bisa memperoleh tubuh yang sehat, otot kuat, stamina yang terjaga, kebugaran, pernafasan yang baik dan yang pasti, keahlian di cabang olahraga tertentu. Senam dan renang mendekati apa yang saya sebut sebagai “olahraga yang sebenarnya”.

Kembali ke persoalan puasa yang sering dikatakan menyehatkan. Sekali lagi, bagi saya hal tersebut merupakan klaim yang terlalu jauh dan luas cakupannya. Kita harus bertanya, puasa yang seperti apa yang menyehatkan? Apakah puasa seperti yang kita (Muslim) lakukan selama bulan Ramadhan menyehatkan? Mengapa ada keringanan berpuasa bagi orang sakit, wanita hamil dan menyusui hingga orang yang sudah lanjut usia?

Ternyata pada kenyataannya, tidak selamanya puasa Ramadhan menyehatkan bagi yang menjalankannya. Ada banyak kasus orang sakit justru karena puasa. Saya sendiri juga pernah mengalaminya. Selama berpuasa, orang-orang rawan terkena maag, meningkatnya resiko dehidrasi hingga gangguan kesehatan lainnya. Dalam Al Qur’an sendiri juga disebutkan adanya keringanan untuk tidak berpuasa dalam kondisi tertentu. Sebagai contoh, ngapain ada keringanan boleh tidak berpuasa untuk orang sakit jika puasa itu menyehatkan? Suruh saja si sakit berpuasa supaya lekas sehat. Kenyataannya tidak begitu bukan?

Seperti olahraga, yang menyehatkan tubuh kita itu sebenarnya adalah keteraturan dan disiplin. Dalam bulan puasa, kita senantiasa makan lebih teratur daripada yang biasa kita lakukan di luar bulan puasa. Pola makan yang terjaga dan teratur sangat erat kaitannya dengan upaya menjaga kesehatan pencernaan kita. Selain itu, esensi dari puasa itu sendiri adalah menahan hawa nafsu. Termasuk soal makanan. Tidak boleh berlebihan saat berbuka, dan jangan sampai terlewat waktu sahur. Nutrisi yang cukup adalah kata kunci lainnya. Tidak ada artinya makan berlebihan kalau suplai semua nutrisi yang diperlukan tubuh tidak terpenuhi. Inilah salah satu kunci puasa yang menyehatkan. Tidak serta merta hanya karena berpuasa kita otomatis sehat. Ada hal-hal lain yang perlu kita perhatikan sehingga puasa kita benar-benar menyehatkan.

Semoga kita bisa arif dalam menyikapi hal ini. Puasa di bulan Ramadhan merupakan ibadah wajib yang harus dilakukan oleh semua orang Islam yang sudah baligh dan mampu. Terlepas ada tidaknya dampak kesehatan pada tubuh, kita harus senantiasa melaksanakannya sesuai tuntunan syariah.