Updates from August, 2012 Toggle Comment Threads | Keyboard Shortcuts

  • Irwanto Ali 3:25 p08 on August 29, 2012 Permalink | Reply
    Tags: adnan oktar, al qur'an, atlas penciptaan, bav, evangelist, foundation, funding, gereja, harun yahya, , ICR, , , kristen, , ,   

    Seputar Kontroversi Mengenai Adnan Oktar 

    Bagi anda yang tidak tahu siapa Adnan Oktar, klik di sini. Ini saya tempel fotonya.

    Adnan Oktar sekali lagi

    Ada yang sudah tahu siapa dia hanya melihat dari foto?  Yup, dialah penulis yang mengklaim telah menulis banyak buku terkenal dan “ilmiah” seperti: Runtuhnya Teori Evolusi dalam 20 Pertanyaan, Atlas Penciptaan, Freemason dan Zionisme dll. Pembaca mungkin lebih mengenalnya sebagai HARUN YAHYA!

    Baiklah, yang perlu anda ketahui adalah, Adnan Oktar bukan ilmuwan sama sekali. Dia bukan lulusan universitas meski sempat belajar di sana. Lagipula yang dia pelajari adalah seni, bukan biologi apalagi teori evolusi! Silahkan baca biografi dia langsung dari websitenya : http://www.harunyahya.com/bilgi/yazarHakkinda

    Dua, dia tidak bisa bahasa Arab dan Inggris, hanya bisa bahasa Turki. Coba pikir, dia pernah menulis buku berjudul Al Qur’an dan Sains. Bagaimana mungkin orang yang tidak bisa berbahasa Arab berani menafsirkan Al Qur’an? Jika anda ingin membacanya, silahkan kunjungi link ini http://id.harunyahya.com/list/type/1/name/Buku/. Gratis kok, berbahasa Indonesia pula!

    Silahkan buka halaman 140-141. Pada halaman tersebut disebutkan daftar ilmuwan terdahulu yang percaya Tuhan. Saya akan membantu anda dengan menghadirkan daftar nama ilmuwan tersebut. Baca satu per satu dengan sabar, jangan ada yang terlewat.

    Roger Bacon (1220-1292)
    Francis Bacon (1561-1626)
    Galileo Galilei (1564-1642)
    Johannes Kepler (1571-1630)
    Johannes Baptista von Helmont (1579-1644)
    Blaise Pascal (1623-1662)
    John Ray (1627-1705)
    Robert Boyle (1627-1691)
    Antonie von Leeuwenhoek (1632-1723)
    Isaac Newton (1642-1727)
    John Flamsteed (1646-1719)
    John Woodward (1665-1728)
    Carolus Linnaeus (1707-1778)
    Jean Deluc (1727-1817)
    Sir William Herschel (1738-1822)
    William Paley (1743-1805)
    George Cuvier (1769-1832)
    Humphrey Davy (1778-1829)
    Adam Sedgwick (1785-1873)
    Michael Faraday (1791-1867)
    Samuel Morse (1791-1872)
    Joseph Henry (1797-1878)
    Louis Agassiz (1807-1873)
    James Prescott Joule (1818-1889)
    George Gabriel Stokes (1819-1903)
    Rudolph Virchow (1821-1902)
    Gregory Mendel (1822-1884)
    Louis Pasteur (1822-1895)
    William Thompson (Lord Kelvin) (1824-1907)
    J. J. Thomson (1856-1940)
    Sir William Huggins (1824-1910)
    Joseph Clerk Maxwell (1831-1879)
    John Strutt (1842-1919)
    George Washington Carver (1865-1943)
    Sir James Jeans (1877-1946)
    Albert Einstein (1879-1955)
    Georges Lemaitre (1894-1966)
    Sir Alister Hardy (1896-1985)
    Wernher von Braun (1912-1977)
    Max Planck (1858-1947)
    Charles Coulson (1910-1974)
    Leonardo da Vinci (1452-1519)
    Georgias Agricola (1494-1555)
    John Wilkins (1614-1672)
    Walter Charleton (1619-1707)
    Isaac Barrow (1630-1677)
    Nicolas Steno (1631-1686)
    Thomas Burnet (1635-1715)
    Increase Mather (1639-1723)
    Nehemiah Grew (1641-1712)
    William Whiston (1667-1752)
    John Hutchinson (1674-1737)
    Jonathan Edwards (1703-1758)
    Richard Kirwan (1733-1812)
    Timothy Dwight (1752-1817)
    James Parkinson (1755-1824)
    William Kirby (1759-1850)
    Benjamin Barton (1766-1815)
    John Dalton (1766-1844)
    Charles Bell (1774-1842)
    John Kidd (1775-1851)
    Johann Carl Friedrich Gauss (1777-1855)
    Benjamin Silliman (1779-1864)
    Peter Mark Roget (1779-1869)
    William Buckland (1784-1856)
    William Prout (1785-1850)
    Edward Hitchcock (1793-1864)
    William Whewell (1794-1866)
    Richard Owen (1804-1892)
    Matthew Maury (1806-1873)
    Henry Rogers (1808-1866)
    James Glaisher (1809-1903)
    Philip H. Gosse (1810-1888)
    Sir Henry Rawlinson (1810-1895)
    John Ambrose Fleming (1849-1945)
    Sir Joseph Henry Gilbert (1817-1901)
    Thomas Anderson (1819-1874)
    Charles P. Smyth (1819-1900)
    John W. Dawson (1820-1899)
    Henri Fabre (1823-1915)
    Bernhard Riemann (1826-1866)
    Joseph Lister (1827-1912)
    John Bell Pettigrew (1834-1908)
    Balfour Stewart (1828-1887)
    P.G. Tait (1831-1901)
    Edward William Morley (1838-1923)
    Sir William Abney (1843-1920)
    Alexander MacAlister (1844-1919)
    A.H. Sayce (1845-1933)
    James Dana (1813-1895)
    George Romanes (1848-1894)
    William Mitchell Ramsay (1851-1939)
    William Ramsay (1852-1916)
    Howard A. Kelly (1858-1943)
    Douglas Dewar (1875-1957)
    Paul Lemoine (1878-1940)
    Charles Stine (1882-1954)
    A. Rendle-Short (1885-1955)
    L. Merson Davies (1890-1960)
    Sir Cecil P.G. Wakeley (1892-1979)

    Apakah anda merasakan kejanggalan? Harun Yahya adalah nama dua nabi yang terkenal dalam Islam dan Adnan Oktar pun mengklaim dirinya adalah Muslim. Bagaimana mungkin seorang Muslim yang sudah mengklaim dirinya menulis ratusan buku lupa memasukkan nama ilmuwan seperti Ibn Sina, Jabir Ibn Khayyan, Ibn Khaldun dan ilmuwan Islam lainnya? Ya, tidak ada nama cendekiawan Islam satupun dalam buku karya Adnan Oktar!  Ingat, judul bukunya adalah Al Qur’an dan Sains, silahkan cari kutipan nama ulama atau cendekiawan Islam dalam buku itu, niscaya anda tidak akan menemukannya. Apakah ini konspirasi? Jangan terburu-buru. Mari lanjut ke poin selanjutnya.

    Tiga, dia banyak bekerja sama dengan Institute of Creasionist Research(ICR)-underbouw Gereja Evangelist di Amerika Serikat yang sangat antiteori evolusi. Banyak hasil karyanya merupakan translasi karya ICR, tinggal mengganti bagian Jesus menjadi Muhammad dan Allah. Kalau tidak percaya, silahkan bandingkan artikel-artikel yang ada di site ini http://www.harunyahya.com dengan artikel yang ada di site ini http://www.icr.org/articles. Sama bukan?

    Empat, dia mendirikan organisasi radikal berkedok ilmiah bernama Bilim Araştırma Vakfı (“Science Research Foundation”, BAV, didirikan pada tahun 1990). Bisa dibilang BAV adalah sayap ICR di Turki yang menyuarakan propaganda yang sama, kreasionisme ala Bibel!

    Himbauan ini hanya berlaku untuk Muslim:

    Hati-hati, bahkan jika perlu tinggalkan, jangan dibaca atau ditonton semua buku atau video yang bersumber dari Harun Yahya! Ada upaya Kristenisasi secara halus dalam buku-buku tersebut. Jika anda kebetulan tenaga pengajar atau guru sekolah, jangan lagi memutar video dari Harun Yahya saat pelajaran agama atau biologi. Lagipula tidak ada dalam kurikulum kan?

     
    • novia 3:25 p08 on August 30, 2012 Permalink | Reply

      boleh share?

      Nitip lapak gan

      menjual jilbab dan busana muslimah –> http://www.humayramuslimcollection.blogspot.com

    • jet 3:25 p10 on October 22, 2013 Permalink | Reply

      perlu bukti tambahan. masih kurang puas

    • AAR 3:25 p03 on March 3, 2014 Permalink | Reply

      Assalamu’alaikum wr wb.
      Sy ingin menanggapi postingan ini:
      setelah membaca postingan ini, kepercayaan sy selama ini kpd Bp Harun Yahya smakin berkurang, sbelumnya sy tlh menyukai Page FB Harun Yahya. Lalu stelah beberapa hari, sy lihat banyak gambar yg tdk sesuai dengan ajaran agama Islam (seperti gambar wanita yg tdk menutup auratnya). Walaupun sy tdk mengerti tulisan2 dlm Page tersebut-karena berbahsa Turki-, tetapi dari gambar tsb sangat tdk pantas untuk dicantumkan dlm page seorang Harun Yahya yg katanya seorang Ilmuan Islam.. mungkin bisa jadi benar konspirasi…

    • ageng 3:25 p08 on August 14, 2014 Permalink | Reply

      ya anehnya setiap video harun yahya selalu menampilkan reporter yang tidak menutup aurat.

      • Ali Irwanto 3:25 p09 on September 28, 2014 Permalink | Reply

        Salam.

        Di Turki sana memang ada kebijakan ketat soal tata cara berpakaian. Bahkan sempat ada pelarangan memakai jilbab. Saya tidak tahu apakah aturan semacam itu masih berlaku hingga sekarang.

  • Irwanto Ali 3:25 p08 on August 3, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Gadis Pantai,   

    Gadis Pantai 

    Penulis : Pramoedya Ananta Toer
    Penerbit  :  Hasta Mitra
    Tahun Terbit : 2000
    Genre : Roman

    Sampul

    Sampul Buku

    Ah, bapak.
    Bapak!
    Aku tak butuhkan sesuatu dari dunia kita ini.
    Aku cuma butuhkan orang-orang tercinta,
    hati-hati yang terbuka, senyum tawa dan dunia tanpa duka, tanpa takut.

    Bunga desa kampung nelayan dipinang bangsawan ningrat dari kota. Jadilah dia istri kesekian dari bangsawan tersebut. Sang gadis melongo dengan kehidupan barunya, kedudukannya kini adalah nyonya di sebuah rumah besar di kota. Tak ada kemiskinan tapi dibayar dengan keterikatan. Tak lagi bebas seperti hidup di kampung nelayan. Si gadis terus tumbuh hingga mulai mengerti dan pasrah akan kehidupan barunya.

    Seperti biasa, Pramoedya selalu menciptakan kehidupan tokoh wanita yang penuh dilema. Dengan inspirasi dari kehidupan neneknya sendiri, Pramoedya menjadikan Gadis pantai sebagai representasi individu nusantara yang terjebak dalam kemiskinan. Anugrah Tuhan berupa keindahan fisik justru menjadi semacam kutukan tatkala tidak dibarengi dengan pendidikan yang memadai. Fisiknya dirampas tanpa perlawanan berarti. Dinikmati kaum “terdidik” atas nama legitimasi kelas atas. Gadis pantai hanya bisa pasrah sambil sedikit demi sedikit belajar mengerti kehidupan.

    Tidak perlu menjadi sebuah novel yang tebal, Pramoedya berhasil membangun secuil kisah kehidupan manusia menjadi pelajaran moral berharga bagi pembacanya. Hidup gadis pantai yang terombang ambing ombak nasib. Berusaha konsisten dengan idealisme hidup, tapi realita memaksa kita menyadari bahwa plin-plan adalah sifat kodrati manusia. Oportunis membuat kita tetap hidup, realistis menghindarkan kita dari tabrakan besar dengan nasib kejam. Gadis pantai akhirnya menerima sang suami, mencintainya dan mengandung anaknya.

    Badai pasti berlalu, namun juga pasti akan datang lagi. Begitulah kehidupan gadis pantai. Dengan penuturan yang sangat kental “menyindir” feodalisme Jawa, yang sangat membanggakan tingkat bahasa ngoko, krama dan krama inggil, Pramoedya mengajak pembaca menyelami perasaan manusia yang tertindas karena kasta. Silih berganti masalah datang karena perbedaan kelas karena keturunan dan ekonomi semata.

    Secara pribadi, saya pikir ini puisi yang berbentuk novel. Ciri khas puisi yang mengedepankan konflik batin terpapar jelas dalam kisah ini. Apalagi ditambah dengan gaya bahasa metafor yang penuh makna. Suatu bacaan wajib bagi pengusung emansipasi wanita untuk merenungkan lagi apa esensi perjuangannya.

    Rating 5/5
    NB: novel ini menjadi buku terlarang selama masa orde baru berdasar keputusan Jaksa Agung tahun 1987. Alasannya karena dianggap menyebarkan paham terlarang. Selain itu, novel ini adalah bagian pertama dari trilogi. Namun akibat huru-hara politik 65-66, naskah dua novel selanjutnya hilang dan tak pernah ditemukan.

     
    • ampheea 3:25 p08 on August 3, 2012 Permalink | Reply

      emansisapi bagi saya bukan tentang kesetaraan, tapi memperjuangkan hak wanita sebagaimana mestinya menurut kodratnya. Bukan soal lebih tinggi,sama,atau lbh rendah,,tapi soal perlakuan yang kasar atau lebih lembut

      • Ali Irwanto 3:25 p08 on August 4, 2012 Permalink | Reply

        sayangnya, g banyak wanita yg berpandangan seperti anda. :/

        • ampheea 3:25 p08 on August 6, 2012 Permalink

          dan yang menganggap wanita harus “setara” itu malah di lain pihak telah membunuh hak wanita yang seharusnya dimiliki..

  • Irwanto Ali 3:25 p07 on July 10, 2012 Permalink | Reply
    Tags: Aisyah, Humaira, novel   

    Humaira, Ibunda Orang Beriman 

    Penulis :Kamran Pasha

    Penerbit :Zaman
    Tahun Terbit :2010

    sampul

    Mendengar nama Humaira, orang Islam pasti langsung merujuk ke Aisyah, istri Nabi Muhammad SAW. Memang benar, buku ini bercerita tentang Aisyah, yang pipinya bersemu merah sehingga Muhammad memberikan julukan Humairah kepadanya.

    Rasulullah berkata: “Dan kau akan menjadi Humairah-ku. Si Kecil dengan Wajah Bersemu Merah.”

    Cerita ini ditulis seolah-olah dituturkan oleh Aisyah RA sendiri kepada keponakannya, Abdullah. Kisah bermula saat awal-awal masa kenabian Muhammad, masa-masa ketika pemeluk Islam masih ditindas oleh kafir Quraisy Mekkah. Di sini Aisyah masih digambarkan sebagai gadis kecil yang belum mengalami masa puber.

    Suatu ketika, bersama ayahnya, Abu Bakar As Siddiq, Aisyah berjalan-jalan hingga mendekati Ka’bah. Di situ dia melihat Umar bin Khattab yang masih kafir menyiksa seorang Islam. Abu Bakar bermaksud melerai namun dia bukan tandingan Umar yang perkasa. Akhirnya Aisyah disuruh memanggil Hamzah oleh ayahnya. Perjalanan mencari Hamzah benar-benar siksaan lahir batin bagi Aisyah. Siksaan secara lahir karena Hamzah berada di tempat yang jauh untuk ditempuh anak gadis kecil sendirian. Siksaan secara batin karena dalam perjalanan Aisyah harus melihat adegan kekejaman siksaan orang kafir bernama Abu Jahal terhadap dua orang muslim.

    Dan kisah berlanjut hingga kisah keberanian Aisyah yang menjadi “intel” alias bonek ketika mengintip pertemuan kaum kafir di Mekkah yang ternyata adalah pertemuan untuk menentukan algojo kematian Muhammad. Dari intipan itulah, Aisyah mulai mengenal sosok Hindun, wanita kejam yang kelak tega memakan jantung mayat Hamzah.

    Peran Aisyah dalam Islam semakin besar ketika dia ditunjuk oleh Muhammad sendiri untuk menjadi pendamping hidupnya. Kebahagiaan dirasakan Aisyah, namun sifat cemburu terkadang mengalahkannya. Pasca kematian Khadijah, ternyata Muhammad mempraktikkan poligami, yang artinya, Aisyah harus berbagi kasih Muhammad dengan wanita lain. Dalam hal ini, penulis benar-benar mengupas sifat cemburu seorang wanita yang ternyata bisa ditekan oleh sifat lain, yaitu tanggung jawab. Aisyah memang tidak boleh menampakkan kecemburuan di luar rumah tangganya karena statusnya sebagai Ummul Mukminin atau ibunda umat Islam.

    Tak hanya dari sisi Aisyah, peran wanita yang sangat menonjol pada masa permulaan Islam menjadi bahan cerita yang menarik. Terutama perang antara dualitas kebaikan dan keburukan, antara pribadi ummul mukminin dengan antagonis bernama Hindun. Diceritakan bahwa Hindun sangat “menguasai” pemimpin-pemimpin Quraisy sehingga dia dengan leluasa mengatur kebijakan politik Mekkah.

    Ketika kemenangan Islam tiba dan umat Islam menaklukkan Mekkah, semua orang kafir diampuni termasuk Hindun. Di sanalah Hindun bertatap muka dengan Aisyah. Hindun mengucapkan sesuatu kepada Aisyah yang terasa seperti kutukan. Kutukan yang tampak menjadi kenyataan bagi Aisyah ketika huru-hara politik pasca kematian khalifah Usman mulai mengusik ketenangan hidupnya. Puncaknya ketika Aisyah harus melawan khalifah Ali RA karena suatu kesalahpahaman dan fitnah. Semua umat Islam tahu, tak ada yang menang dari perselisihan itu karena yang menang adalah pihak luar, yaitu Muawiyah.

    Jelas sekali referensi utama penulis adalah hadis yang sudah umum diketahui oleh umat Islam. Namun deskripsi suasana dan pemilihan alur yang tepat menjadikan hadis-hadis itu menjadi kisah narasi yang enak dibaca. Hal ini didukung juga oleh kualitas terjemahan yang bagus. Suatu cara yang pas untuk melengkapi kisah sirah Nabi.

    Novel ini wajib dibaca!
    rate 4.5/5

     
c
Compose new post
j
Next post/Next comment
k
Previous post/Previous comment
r
Reply
e
Edit
o
Show/Hide comments
t
Go to top
l
Go to login
h
Show/Hide help
shift + esc
Cancel